Belajar Peduli

Kantong Plastik Berbayar

Bagi mereka yang tinggal di Jakarta, bandung, Makassar dan sejumlah kota besar lainya, jangan heran sejak 21 februari kemarin ketika berbelanja di supermarket dan mini market, akan ditanyakan oleh kasir, apakah akan menggunakan kantong plastik atau tidak ? dan kalaupun menjawab ‘iya’, maka akan dikenakan biaya 200 rupiah.

Bagi saya dan keluarga, penerapan kantong plastik berbayar yang kini diwajibkan oleh kementerian lingkungan hidup pada sejumlah supermarket dan mini market, adalah sebuah terobosan yang harus didukung.

Mengapa ?

Karena selama ini, memang tanpa sadar kita sedang menyimpan ‘bom waktu’ bagi alam dan kelangsungan kehidupan kita sendiri.

Sejak tahun 2011 yang lalu, ketika memulai inisiatif gerakan palu green and clean saya sudah memberikan penekanan kepada istri, mengapa harus diet bahkan jika mungkin berhenti menggunakan kantong plastik.

Karena dari sejumlah sumber yang saya baca, untuk bisa hancur kantong plastik membutuhkan waktu puluhan tahun, bahkan karena rantai karbonnya yang panjang, kantong plastik akan sangat sulit di urai oleh mikroorganisme.

plastik

Sementara, coba bayangkan berapa lama kita menggunakan atau memanfaatkan sebuah kantong plastik ? Paling lama, menurut hitungan saya, satu jam. Karena sebenarnya kita hanya memakainya untuk memindahkan dari tempat berbelanja baik dari minimarket atau pasar, ke rumah.

Setelah itu, kantong plastik tadi akan berubah fungsi menjadi sampah!

Jika dalam sehari, satu rumah tangga mendapatkan 1 kantong plastik saja, dari minimarket atau pasar, berapa juta sampah kantong plastik yang beredar disebuah kota, provinsi, negara, dan dunia ?

Apalagi jika pemerintah daerah atau pemerintah pusat, belum mampu melakukan pengelolaan managemen persampahan dengan baik, dan warganya suka membuang sampah sembarangan? Berapa banyak saluran air yang akan tersumbat yang bisa menjadi pemicu banjir, kerusakan ekosistim laut dan sungai, akibat sampah kantong plastik, belum lagi bahaya keracunan makanan jika kantong plastik tadi di makan oleh sapi atau kambing?

Khusus contoh yang terakhir saya tidak sedang main-main, karena saat pulang kampung di kota palu, saya sering melihat sapi atau kambing yang digembalakan di tempat pembuangan sampah, dan salah satu menu favorit mereka adalah sampah kantong plastik.

224363_620
Salah satu Tempat Pembuangan sampah di Palu

Parahnya, kuliner khas kota palu yang terkenal dan banyak digemari oleh warga dan para wisatawan adalah adalah ‘kaledo’ (kaki lembu donggala) yang berbahan sapi, jadi bisa dibayangkan dampak langsung kantong plastik, bagi warga kota dan wisatawan yang berkunjung ke palu hehe….

Mulai untuk Peduli

Penerapan kantong plastik berbayar, sebenarnya hanyalah langkah awal untuk memulai sebuah gerakan yang lebih besar. Apalagi harga yang diberikan tergolong sangat murah yakni 200 rupiah, sebuah nilai yang tidak setara dengan dampak yang dimunculkannya bagi kehidupan dan lingkungan kita.

Sesuatu yang belum pula, mampu mengubah indonesia yang dituduh oleh negara-negara dunia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia (jambeck,et al 2015).

Namun gerakan ini, hendaknya kita lihat sebagai langkah postif yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyadarkan kita agar mulai lebih peduli akan lingkungan. Karena kata guru saya, jika kamu belum mampu menjadi solusi janganlah menjadi orang yang menjadi bagian dari masalah.

6plastik

Setidaknya jika kita tidak ingin menjadi orang-orang yang menambah masalah bagi lingkungan, atau menjadi orang yang hanya pandai marah-marah dan suka mengumpat di media sosial ketika banjir tiba, kita harus mulai mengubah kebiasaan kita dengan  mengurangi penggunaan kantong plastik dirumah masing-masing.

Kebiasaan membawa keranjang dan tas belanja sendiri saat ke mini market atau pasar, dan tentu saja membuang sampah pada tempatnya harus menjadi budaya setiap anggota keluarga.

Karena bukankah, perubahan senantiasa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara terus menerus, dan dimulai dari lingkungan terkecil yakni ‘rumah kita masing-masing’ ?

Tabe, mari lebih peduli!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s