‘Benarkah KAMMI Mengajarkan Radikalisme ?

-Gugatan untuk pandangan Drs. Anas Saidi, MA, peneliti LIPI yang Terpelajar-

470635_3653337740215_1544214210_o
Sumber Foto ; blogkammiumm.wordpress.com

Sebagai alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), walau saya tidak memiliki ciri-ciri sebagaimana lazimnya mayoritas alumni KAMMI yang ‘alim, memelihara jenggot, bercelana kain, dan tidak merokok’, terus terang saya tercengang dengan berita beberapa media online yang memuat penjelasan saudara Drs. Anas Saidi, MA yang memasukan KAMMI sebagai gerakan mahasiswa yang mengajarkan ‘radikalisme ideologi’ yang anti pancasila.

Saya semakin merasa lucu, karena seolah-olah pernyataan saudara Drs. Anas Saidi, MA tentang ‘KAMMI sebagai organisasi yang mengancam NKRI tersebut’, adalah hasil penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang begitu terhormat.

Jika apa yang diungkapkan oleh Drs. Anas Saidi, MA memang benar hasil dari penelitian LIPI, maka alangkah dangkalnya hasil penelitian lembaga yang sangat terhormat itu?

Dimana, salah satu kesimpulannya sebagaimana dikutip oleh sejumlah media online, bahwa KAMMI adalah organisasi mahasiswa di indonesia yang memiliki ‘hubungan aktif’ dan menjadi ‘sel dari gerakan Ikhwanul muslimin di mesir’ ?

Cukupkah, dengan melihat kecenderungan kader-kader KAMMI yang sering membaca dan mengkaji karya-karya Hasan al- banna, pendiri gerakan ikhwan, lantas dengan mudah kita sampai pada pembenaran bahwa KAMMI adalah bagian langsung dari sel gerakan Ikhwan mesir ?

Lalu dengan mudah pula, membangun kesimpulan yang sangat overgeneralisasi, bahwa mereka yang telah membaca buku- buku Gusdur dan Nurcholish Madjid pasti seorang pluralis? Dan mereka yang membaca buku Hasan al- banna, pasti adalah seorang ‘radikalis’ yang akan menjadi teroris seperti ISIS. 

Saya KAMMI, Saya Bukan Teroris

Pertama-tama, perlu saya jelaskan saya adalah alumni KAMMI yang mengikuti secara tuntas jenjang pengkaderan KAMMI dari Daurah Marhalah (DM) pertama, sampai Daurah Marhalah ketiga, jejang pengkaderan tingkat akhir KAMMI.

Kalau, Drs. Anas Saidi, MA, dahulu seorang mantan aktivis tentu mengerti dalam setiap organisasi kemahasiswaan terdapat jenjang pengkaderan. Sebagaimana HMI yang memiliki tahapan pengkaderan dari Bastra, intermediate training (intra) atau Latihan Kepemimpinan II (LK II) dan terakhir senior course atau LK III.

Hal ini penting untuk saya sampaikan, sebagai penjelasan bahwa saya cukup memahami KAMMI sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan.

Kedua, selama saya mengikuti pengkaderan KAMMI dan terlibat menjadi pengurus KAMMI dari level komisariat, sampai KAMMI daerah di sulawesi selatan, tidak satupun saya menemukan satu materi yang mengajarkan tentang anti pancasila, mengharamkan membaca buku Nurcholis Majid atau Gusdur, serta ulama lainya baik Muhammadiyah maupun NU, apalagi melakukan jihad mengganti ideologi negara, sebagaimana yang dituduhkan.

Dalam pengkaderan resmi organisasi KAMMI, sebagaimana saya sebutkan diatas terbagi atas tiga tahapan yakni DM I, DM II dan DM III.

Pada tahap Daurah Marhalah pertama, biasanya materi yang ditekankan menyangkut aqidah ke-islaman yang menekankan iman kepada Allah dan Rasul, kehidupan yang dekat dengan Al-quran, semangat persaudaraan sebagai sesama muslim, tanggung jawab memakmurkan masjid, sampai pada pengenalan awal organisasi KAMMI.

Selanjutnya, pada tahap kederisasi tingkat DM II, setiap kader KAMMI yang telah melewati jenjang DM I, ditekankan akan kemampuan hafalan Quran, peran sosial kritis organisasi KAMMI sebagai sebuah wadah gerakan mahasiswa ekstra kampus, dalam menyikapi dinamika politik nasional dan lokal.

Sedangkan pada tahap lanjutan, yakni  Daurah Marhalah terakhir (DM III), lebih menekankan pada persiapan kader-kader KAMMI sebagai muslim negarawan yang harus mewarnai pentas politik lokal dan nasional. 

Apa yang salah ?

Lantas apa yang salah dari pengkaderan ala KAMMI tersebut. Apakah mengajarkan rukum Iman dan islam sesuatu yang terlarang ? Membangun gairah generasi muda untuk mencintai Al-quran adalah hal yang tercela? Ataukah, mendidik dan menanamkan semangat kaum muda, untuk mengambil peran dalam dunia sosial politik adalah hal yang tidak pancasilais?

Demikian pula, menyangkut referensi bacaan kader-kader KAMMI yang dekat dengan pikiran  Hasan Al-Banna pendiri ikhwanul muslimin di mesir, menurut saya adalah hal yang wajar dan sah-sah saja, dalam mengisi perspektif wacana organisasi kemahasiswaan.

Toh jika diteliti lebih jauh, gerakan ikhwanul muslimin yang di dirikan oleh Hasan Al-banna juga mengalami begitu banyak penafsiran dan transformasi bentuk gerakan, sebagaimana Marxisme, komunisme, dan sosialisme yang juga penuh penafsiran bentuk dan pola, dari Lenin, Stalin, Trotsky sampai pada Samaun maupun Soekarno.

Demikian pula dengan revolusi islam iran, yang memukau sejumlah organisasi mahasiswa islam indonesia untuk mengkaji dan membaca buku-buku tentang Ayatullah Khomeini atau Ali syariati,  lantas apakah  berdasarkan bacaan tersebut kita bisa menuduh mereka semua sedang mempersiapkan tindakan makar terhadap negara dan berusaha menganti ideologi pancasila dengan negara Islam Iran?

Dealektika gagasan tersebut, bagi saya adalah sah untuk mahasiswa yang sedang mencari jati diri! Selama pemahaman tersebut, ditempuh dengan cara-cara dialogis, konstitusional, tanpa kekerasan, apalagi intimidasi.

Karena pancasila sendiri, sepengetahuan saya lahir  dari  dialektika  kebhinekaan ideologi kelompok  yang ada di indonesia yaitu Islam, sosialis, nasionalis, dan isme-isme yang lain.

Lantas apa yang salah dari KAMMI ?

Satu tanggapan untuk “‘Benarkah KAMMI Mengajarkan Radikalisme ?

  1. Kuantitas dan kualitas interaksi dgn pihak lain yg intens akan bisa dinilai kita dipihak mana dan pemahaman konsep keagamaan seperti apa akan terlihat tapi yg penting silaturrahmi dgn niat baik bahwa kita sesama muslim inilah puncak keluhuran tertinggi manusia salam damai

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s