Ridwan Kamil, The Real President candidat!

image

Salah satu bagian yang terpenting dalam dunia marketing politik, adalah diferensiasi atau ‘perbedaan’.

Partai atau figur politik, perlu membangun bahkan mempertajam posisi perbedaanya dengan partai atau figur politik yang lain, agar memiliki keunikan yang mampu menarik perhatian setiap pemilih.

Tentu kita masih ingat, bagaimana Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika dahulu akhirnya terpilih menjadi presiden pada tahun 2004. Alasan yang paling banyak ketika itu, karena SBY adalah jenderal yang ganteng, sopan, cerdas, plus dizalimi oleh megawati.

Lalu setelah sepuluh tahun, pemilih dan media mulai bosan dengan karakter seperti SBY. Muncullah figur Joko Widodo yang bertubuh kurus, terlihat lugu, rajin blusukan, jauh dari kesan formal dan elit seperti SBY, plus direstui oleh megawati.

Seperti sudah diketahui, Jokowi kemudian menjadi presiden!

Lantas, bagaimana dengan pemilu 2019, masihkah jokowi dapat dengan mudah melenggang menuju kursi presiden? Menurut saya, Joko Widodo telah menemukan rival politiknya, yakni Ridwan Kamil!

Politik Parodi ; menolak DKI, menantang Jokowi!

Setelah membaca surat permohonan maaf Ridwan kamil, yang pada intinya menjelaskan mengapa dirinya tidak mencalonkan sebagai gubernur DKI melalui akun jejaring sosial facebook. Yang kemudian, tersebar menjadi viral di media sosial, saya kemudian berkesimpulan, ridwan kamil cerdas menggunakan ‘politik parodi’ untuk membangun pembeda dirinya dengan presiden Joko Widodo.

Parodi sendiri, berasal dari bahasa yunani kuno yang berakar dari dua kata yakni para (membandingkan, menentang, melawan) ode (syair pujian). Jadi, politik parodi adalah gaya politik yang yang berusaha melakukan kritik, penentangan, dan melakukan perbandingan dengan cara yang halus, bahkan mungkin melalui pujian.

Wacana politik parodi yang dilakukan ridwan kamil, begitu terasa ketika menjelaskan ‘magnet jakarta’ yang membuat Jokowi akhirnya meninggalkan jabatanya sebagai walikota solo pada tahun 2012.

Apalagi, ketika walikota bandung tersebut menyindir tentang ‘pemimpin kutu loncat’, ridwan kamil seolah ingin semakin menegaskan, dirinya bukanlah seorang Jokowi pemimpin kutu loncat, yang senang meninggalkan tangung jawab dari solo, jakarta, lalu menjadi presiden.

inilah diferensiasi yang berhasil di curi oleh Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil, The Real President candidat!

Lewat pesan dinding facebooknya, selain berhasil membangun diferensiasi dengan jokowi, kang emil berhasil pula membentuk dirinya sebagai sosok yang layak menjadi kandidat pesaing Joko Widodo pada pemilihan presiden 2019 yang akan datang.

Bahkan, tanpa perlu terlebih dahulu menjadi gubernur jakarta sebagaimana langkah yang diambil oleh Joko Widodo pada masa lalu.

Lewat surat yang bertajuk ‘Ke Jakarta Tidak ke Jakarta’, yang terdiri dari lima bagian tersebut, menurut saya ridwan kamil telah mampu mencuri simpati pemilih dan menaikan levelnya sebagai sosok pemimpin yang bukan hanya untuk bandung, jawa barat, atau jakarta, namun pemimpin untuk indonesia.

Lihatlah, bagaimana ketika ridwan kamil bercerita tentang ‘Indonesia yang lahir dari imajinasi’, apalagi mengutip “imagined community” Ben Anderson, ridwan kamil seolah ingin menunjukan kualitasnya sebagai seorang pemimpin nasional dan tentu saja, sebagai sosok pemimpin cerdas berbeda dengan kesan yang selama ini melekat dengan Jokowi!

Kedua, ketika menjelaskan kondisi ‘bandung hari ini yang sudah membaik, namun belum sehat betul’. Ridwan kamil ingin menampilkan sebagai pemimpin yang sudah bekerja, dan bisa jadi ingin melawan hegemoni keberhasilan Jokowi yang dicitrakan berhasil memimpin solo, namun dengan porsi yang lebih rendah hati.

Ketiga, pada bagian surat Ridwan kamil yang menjelaskan alasan terberatnya mengapa tidak maju sebagai calon gubernur jakarta, karena tidak mendapatkan restu warga bandung, relawan, dan keluarga, sebelum menyelesaikan tugas, ridwan kami sedang membangun posisi dan reputasi politiknya.Selain itu, tentu saja untuk mencuri representasi kekuatan politik jawa barat, sebuah kekuatan yang sangat menentukan dalam pentas politik nasional.

Terakhir, ketika menutup suratnya dengan pesan ‘Indonesia tidak hanya Jakarta. Mitos pusat segalanya itu harus dibongkar’, lalu melanjutkan dengan mengutip sejumlah nama kepala daerah seperti Ibu Risma di Surabaya atau Prof. Nurdin Abdullah di Bantaeng, apalagi dengan menegaskan ‘saya mungkin bisa ke Jakarta, tapi tidak sekarang’, seolah ridwan kamil ingin menegaskan jokowi bukan segalanya, tunggu saya di Jakarta pada tahun 2019!

Ridwan kamil memang, The Real President candidat!

Iklan

Satu tanggapan untuk “Ridwan Kamil, The Real President candidat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s