Nurdin Abdullah, antara Media dan Kenyataan?

1393134140565647906
sumber Foto; Tribun Timur

Jujur, sampai saya menuliskan tulisan ini, saya belum pernah berjumpa dan sempat berkenalan secara pribadi, dengan Profesor Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng yang kini namanya ramai menjadi buah bibir secara nasional.

Dahulu, saat mahasiswa saya beberapa kali berkunjung ke Bantaeng, di ajak berkeliling oleh sahabat saya Adam, yang kini sibuk membangun NGO pendampingan hutan desa di kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Nurdin.

Saya mengenal Bupati Bantaeng itu, hanya lewat berita media, menonton wawancaranya dibeberapa talkshow televisi, dan tentu saja dari cerita sejumlah orang, baik yang berasal dari kabupaten Bantaeng, maupun yang pernah menjadi mahasiswa atau rekan Nurdin Abdullah selama di universitas Hasanuddin.

Namanya kini mulai menjadi sorotan, pasca mendapatkan penghargaan sebagai ‘tokoh perubahan’, oleh harian republika pada tahun 2015 yang lalu, bersama dua kepala daerah populer yakni walikota surabaya Tri Rismaharini, dan Azwar Anas bupati Banyuwangi.

Cerita tentang Profesor kelahiran Pare-pare 7 februari 1963, semakin dikenal luas pasca Ridwan Kamil dalam surat permohonan maafnya, yang menolak pencalonan gubernur DKI, menyebut Nurdin Abdullah sebagai salah satu pemimpin hebat dari daerah.

Karena rasa penasaran, naluri ‘anak Jurnalistik’ saya mulai terpanggil, untuk mempelajari siapa dan bagaimana kiprah Doktor Agriculture dari universitas Kyushu jepang ini, dalam membangun salah satu kabupaten di sulawesi selatan tersebut.

Kesamaan Bupati Nurdin dan Presiden Joko Widodo

1002728_600760196630347_1661897406_n
sumber Foto : Bone pos

Setelah mempelajari secara singkat latar belakang Nurdin Abdullah, saya harus mengakui bupati bantaeng priode 2008-2013, yang kembali terpilih untuk priode 2013-2018 ini, memiliki sejarah hidup yang keren!

Nurdin, memiliki beberapa persamaan dengan Presiden Joko Widodo. Diantaranya, Nurdin dan Jokowi, sama-sama berlatar belakang sarjana kehutanan, pernah menjadi pengusaha dibidang ekspor furniture, dan mendapatkan legitimasi dukungan rakyat yang begitu besar, yakni kemenangan diatas 80% persen dalam priode kedua.

Bahkan menurut saya, dari sisi latar belakang Nurdin Abdullah, memiliki nilai plus karena mungkin satu-satunya bupati dari 415 kabupaten di indonesia, dengan gelar seorang Profesor, walau Nurdin belum seberuntung Presiden Jokowi yang menjadi Gubernur lalu terpilih menjadi Presiden.

Kekuatan pada Inovasi

foto12
sumber foto : Wartakultim.com

Dengan latar belakang yang luar biasa, dan melihat sejumlah penghargaan atas apa yang pernah diraih oleh Kabupaten Bantaeng, dari piala Adipura sampai Anugrah Apresiasi Pendidikan Islam (API) oleh menteri agama, wajar saja sang Profesor menjadi media darling.

Dari apa yang saya dapatkan, kata kunci keberhasilan kepemimpinan nurdin Abdullah dalam membangun ‘new bantaeng’, adalah pada kemampuanya dalam melakukan ‘inovasi’.

Dengan Inovasi, Profesor agrikultur ini sebagaimana dikutip sejumlah media, berhasil menggerakkan perekonomian dan potensi Kabupaten Bantaeng menjadi kabupaten dengan pertumbuhan ekonomi dan kesehatan yang cukup fantastis.

Sebelum dirinya menjabat bupati tahun 2008, dari berbagai media saya temukan Bantaeng masuk dalam ketegori 199 daerah tertinggal di Indonesia dengan pertumbuhan ekonominya pun hanya 4,7 persen.

Dengan jaringan yang terbangun selama kuliah di jepang, dan relasi bisnis selama menjadi direktur PT. Maruki Internasional, Nurdin Abdullah berhasil menjaring kerjasama  dengan berbagai pihak.

Nurdin, mampu menciptakan layanan kesehatan 24 jam ‘mobile ambulans’ yang menghadirkan dokter di rumah warga yang gratis, bantaeng bisa mencapai surplus 21 persen di bidang pangan, pertumbuhan ekonomi yang sampai 9,2 persen.

Dan menurut pengakuan Nurdin, Bantaeng jadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Selatan, yang bahkan menarik Konsul Jenderal Amerika Serikat Joaquin Monserrate‎ berkunjung ke Bantaeng pada akhir 2014 lalu, untuk melihat langsung Inovasi yang dilakukan oleh Nurdin Abdullah dalam membangun kabupaten Bantaeng.

Nurdin Abdullah, antara Media dan Realitas?

Namun, dengan segala berita capaian keberhasilan Nurdin Abdullah, yang meraih gelar doktornya lewat disertasi tentang morfologi dari Volcanic Gunung Merapi di Indonesia, saya memilki dua pertanyaan yang singgah dikepala untuk sang Profesor?  

(sumber data web ; http://sulsel.bps.go.id/)

Pertama, mengapa dari data BPS sulawesi selatan 2015 yang saya baca, saya menemukan Indeks pembangunan Manusia Kabupaten Bantaeng masih berada di peringkat ke 17 dari 24 kabupaten kota di sulawesi selatan?

Bukankah IPM, merupakan salah satu indikator penting untuk menilai komponen dasar kualitas hidup manusia Bantaeng, karena merangkum tiga hal penting yakni kesehatan, pendidikan, dan pendapatan penduduk?

Tiga hal pokok yang menjadi tugas utama seorang bupati yakni mencerdaskan, memberikan akses kesehatan, dan mensejahterakan. Sesuatu yang harusnya dapat tercermin dari berbagai inovasi yang di lakukan oleh Nurdin Abdullah sebagaimana yang di bicarakan oleh berbagai media selama ini?

Kedua, dari data statistik pula, saya menemukan bahwa dikabupaten Bantaeng pada tahun 2013, masih memiliki jumlah penduduk miskin dengan presentase 10,45 %, masih lebih besar dibandingkan rata-rata penduduk miskin Provinsi sulawesi selatan yang berada pada angka 10,32 % ?

Apa yang salah dari realitas tersebut, apakah ini salah media, salah BPS, atau salah saya yang kurang mendalami ?  Atau bisa jadi ada yang salah, dari cara pandang bupati Nurdin dalam membangun, karena terlalu berfokus pada ambisi industri dan lupa membangun manusia Bantaeng ?

Berfokus pada investasi besar dan pertumbuhan, namun alpa dalam menyelesaikan persoalan keseharian kemiskinan yang ada didepan mata.

Tentu, ini menjadi sesuatu yang penting untuk dipelajari lebih lanjut, melihat Nurdin Abdullah, Bantaeng, antara berita media dan kenyataan ?

Tabe,

5 tanggapan untuk “Nurdin Abdullah, antara Media dan Kenyataan?

  1. mungkin bapak bisa cek data BPS zaman pemerintahan sbelumnya sebagai pembanding. saya nda heran kalau diperingkat 17 sebab uda maju diabdning periode seblumnya org bantang masuk unhas di hitung jari hhehe

    Suka

  2. Bukankah saya mengakuinya ? Bahwa pak NA memang berprestasi ? karena menurut saya, pemimpin yang baik harus di ikuti oleh pemilih yang baik, yang seimbang antara mengakui kelebihan dan juga berani berkata tentang kekurangan? tabe..

    Suka

  3. D butuhkan nyali yg luar biasa bagi seorang jurnalis u memberikan berita yg berimbang trkhusus u bantaeng dengan segala kelebihan dan kekurangan pemimpinnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s