Menteri Jonan, yang Gagal Move On……

 

jonan

Jika ada menteri kabinet kerja Jokowi-JK, yang masih gagal move on, menurut saya dialah Ignasius Jonan. Pasalnya, ini sudah tahun 2016 dan sang menteri, masih saja bermental layaknya penguasa orde baru yang suka main bredel dengan alasan teori konspirasi.

Pada masa orde baru yang dibredel adalah media, maka di era rezim Jokowi-JK,menteri Jonan ingin membredel gojek online, dan kini Aplikasi Uber & Grab Car.

Menariknya lagi, pada bagian C dari suratnya kepada menteri komunikasi dan informatika yang bernomor AJ 206/1/1 PHB 2016, menteri jonan mengungkapkan salah satu alasanya, ‘bahwa adanya aroma ancaman konspirasi asing dibalik aplikasi tersebut’?

Aduh, pliss deh pak menteri yang satu ini betul-betul masih gagal move on. Apakah beliau tidak mengerti, kita sedang berada pada masa ‘everyone is connected’ ?

Dimana setiap kita, terhubung dengan berbagai aplikasi, dan bukan rahasia lagi, data diri setiap orang tersebar kemana-mana.

Selama bukan teroris, urusan video porno, dan bukan berhubungan dengan ancaman ‘kerahasiaan rekening’ yang bisa berdampak pada pencurian, bagi saya itu tidak masalah. Lagi pula, development aplikasi yang ada, sudah mempersiapkan sistem securitasnya sendiri bagi pengguna.

Demikian pula, dunia perbankan negeri ini, juga sudah semakin baik dalam pembenahan dari sisi keamanan nasabah, jadi teori konspirasi dari abad ke 18, ala pak menteri, sudah agak kurang kontekstual lagi dibicarakan.

Alasan Sederhana, mengapa Grab Car jangan di blokir ?

 162750t04ml8lzax01yazm

Daripada pak manteri Jonan, sibuk mengurusi urusan aplikasi Grab dan Uber, lebih baik pak menteri fokus menyelesaikan persoalan transportasi publik yang belum baik-baik itu.

Karena mengapa kami para konsumen gojek online, grabbike, grabcar, dan uber begitu setia, alasanya hanya karena tiga hal; murah, mudah serta transparan.

Biar bapak menteri bisa move on, tentang bagaimana pandangan saya selaku konsumen, biarlah saya uraikan. Pertama, murah. Ya, Iyalah, sudah hukum pasar dan hasrat manusia mencari barang semurah-murahnya. Dibandingkan tarif taksi yang lain, taksi dengan aplikasi grab lebih murah.

Nah, soal tarif katanya kewenangan bapak menteri, silahkan diatur untuk penyesuaian agar tidak ada yang dirugikan baik pihak armada taksi maupun konsumen. Termasuk, kewajiban mereka untuk membayar pajak sebagai perusahaan, serta mengubah plat hitam menjadi kuning, jika itu masalahnya.

Namun murah bukan satu-satunya alasan, memang harga commuter line , metromini, bajaj, kopaja, sampai trans jakarta itu murah, tapi sekedar bapak menteri ketahui semua itu tidak mudah, untuk langsung diakses oleh publik, dan belum tentu terintegrasi antara satu moda transportasi dan yang lainya, apalagi langsung menjangkau titik lokasi konsumen layaknya kemudahan yang ditawarkan oleh aplikasi grabcar.

Parahnya lagi, biar bapak menteri sadar akan derita batin kami selaku konsumen moda transportasi umum, bahwa banyak dari moda transportasi publik yang ada, sangat jauh dari kesan memanusiakan.

Salah satunya, commuter Line. Bapak menteri, katanya pakar kereta api dan sering naik KRL. Nah, cobalah bapak jonan naik commuter line di pagi hari dari arah depok ke kota, dan dari arah kota ke depok pada sore hari, bapak menteri akan merasakan era zaman perbudakan!

Antara satu manusia dan manusia lain saling menempel, aroma parfum dan keringat yang bercampur, membuat penciuman kita berasa permen nano-nano yang ramai rasanya.Belum lagi, tangan jahil yang bermain, wow.. saya serasa menjadi bagian dari budak-budak yang digambarkan dalam film seri spartacus.

Kedua, tentu faktor kemudahan dan kenyamanan. Jika mas-mas dan mbak-mbak, dari armada taksi yang lain protes, soal mengapa omset mereka menurun semenjak beroperasinya aplikasi taksi online grab, saya justru bingung mana sih layanan taksi yang tidak online ?

Sepengetahuan saya, armada taksi besar yang beroperasi di jakarta dan kota-kota besar lainya, rata-rata sudah disertai aplikasi online, namun masalahnya mereka masih lemah dalam pengembangan aplikasinya.

Jadi soalnya, bukan pada grab sebagai penyedia jasa aplikasi, namun pada sofware aplikasi dari penyedia jasa taksi lain yang masih jadul, tidak menarik, dan lambat.

Konsumen terlanjur merasakan kemudahan dari aplikasi grab dan uber yang begitu mudah untuk diakses, memberikan banyak pilihan layanan, dan tentu saja jauh lebih menarik. Lantas apa yang salah dari aplikasi tersebut ?

Ketiga, soal transparansi. Salah satu alasan penting mengapa saya menggunakan grab atau uber, adalah soal transparansi, setiap selesai menggunakan jasa taksi tersebut oleh aplikasi mereka, sebagai konsumen kita diberikan bukti transaksi pembayaran yang dilengkapi catatan perjalanan yang langsung dikirim ke email pribadi.

Ini adalah salah satu fasilitas yang tidak saya jumpai dari armada lain yang tidak memakai aplikasi grab. Bapak menteri Jonan, bisa bayangkan berapa banyak karyawan ataupun PNS yang harus kerepotan selama ini, dengan laporan pertanggung jawaban dana transport mereka ?

Apalagi negara ini, katanya sedang bersih-bersih dan ingin akuntabel, dengan aplikasi ini kita bisa dengan mudah memberikan laporan pertangung jawaban tanpa bisa menipu, karena baik biaya transportasi dan catatan perjalanan semua terekam dengan baik.

Untuk itu, bapak menteri Jonan, sudahlah, cobalah move on dengan zaman kekinian.

Sudah bukan zamanya lagi kita main blokir atau bredel, ini sudah era digital, generasi digital, cara hidup digital.

Dan, saya senang akan jawaban menteri Kominfo Rudiantara, yang tidak langsung menerima usul bapak untuk main bredel, itu tanda beliau sudah lebih bisa move on!

Terakhir pak menteri sebagai informasi, saya hanya konsumen biasa yang terbantu oleh aplikasi ini, bukan bagian konspirasi dari grab atau uber. Jangan sampai saya ikut di uber-uber!

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s