‘ Pemimpin tanpa Rencana, dan Ancaman Daerah Gagal’

Apa jadinya sebuah negara tanpa rencana, sebuah kota tanpa impian? Pasti yang terjadi adalah kekacauan dan kegagalan!

Seorang pemimpin  menjadi dibutuhkan, karena mereka adalah  matahari harapan, kompas penunjuk jalan kemana mereka yang dipimpin akan dibawa, diantarkan, sesuai dengan mimpi sang pemimpin dan rakyat yang memilihnya.

Karena untuk itulah mereka dipilih, menjadi pemimpin!

Seorang pemimpin pemerintahan, dipilih bukan sekedar karena kesan kesederhanaan, kesantunan, apalagi sekedar ganteng, cantik, atau pandai bernyanyi.

Tujuan utama seorang pemimpin, ibarat seorang nahkoda kapal, mengetahui kemana pulau harapan yang dituju, bagaimana jalan menuju kesana, dan juga yang terpenting mengerti kondisi penumpang dan para awak kapal dengan baik.

Untuk itulah, pemimpin harus punya rencana. Punya visi, misi yang jelas tentang mimpi dan gagasannya.

Dalam pemerintahan visi dan misi tersebut, kemudian diwujudkan dalam dokumen yang bernama Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) jika berada di level pusat, dan jika seorang gubernur, bupati atau walikota, harus memiliki Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Inilah peta jalan sebuah negara atau sebuah daerah, dalam satu priode kepemimpinan. Panduan hendak kemana sebuah negara atau daerah, dalam lima atau sepuluh tahun kedepan.

Pemimpin tanpa Rencana, ancaman daerah Gagal

Persoalanya, berapa banyak pemimpin nasional dan daerah yang punya rencana? Punya visi yang jelas, terukur dan sistematis ? Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya selama ini, kegagalan utama sebuah pemerintahan daerah bermula dari kegagalan memilih pemimpin.

Pada desember tahun 2015 yang lalu, saya ikut meneliti beberapa ajang pemilihan kepala daerah dikawasan timur indonesia. Melihat bagaimana para calon kepala daerah beradu gagasan didepan publik dengan visi dan misi mereka, untuk mendapatkan kepercayaan pemilih.

Beberapa diantara para calon yang saya amati memang memiliki visi, gagasan dan mimpi dan beberapa diantaranya sama-sekali tidak memiliki pengetahuan dan rencana yang jelas bagaimana mereka akan membawa daerahnya jika terpilih.

Namun anehnya, mengapa mereka yang tidak memiliki gagasan yang jelas tersebut, justru dipilih oleh mayoritas pemilih ? Seakan ajang sosialisasi dan debat kandidat yang dilakukan oleh KPU, tidak memiliki pengaruh dan bekas apa-apa bagi keterpilihan seorang calon?

Tentu saja ada banyak alasan, namun yang pasti saya bisa merangkumnya dalam tiga alasan pokok. Pertama soal uang. Kedua representasi demografi identitas suku dan agama. Serta yang ketiga, soal waktu sosialisasi.

Faktor uang, masih jadi penentu utama dibanyak Pilkada di kawasan timur. Calon kepala daerah yang paling royal memberikan biaya transport, bantuan masjid dan gereja, akan memiliki kemungkinan keterpilihan. Demikian pula politik identitas yang berbasis suku dan agama, dan yang ketiga barulah soal berapa lama calon tersebut melakukan sosialisasi.

Maka karena tiga alasan itu masih dominan, tak heran dari pilkada ke pilkada, kita hanya melahirkan para kepala daerah pemburu rente, kaum penjual agama atau bupati serta walikota yang layaknya kepala suku, dan bisa jadi para salesmen penjual diri tanpa isi.

Faktor-Faktor Penghambat Kemajuan Daerah

Selain faktor kegagalan dalam memilih pemimpin, ancaman daerah gagal terjadi pula karena setelah calon kepala daerah terpilih dirinya disandera oleh para tim sukses, yang biasanya terdiri dari ragam latar belakang seperti kontraktor, pengusaha,birokrasi, dan akademisi yang juga sama-sama tidak punya rencana yang jelas kemana dan akan melakukan apa bagi daerah dan mengawal kepala daerah yang didukungnya.

Bagi saya, tidak soal para tim sukses tadi mendapatkan posisi dan porsi dalam pemerintahan. Namun, harusnya posisi dan porsi mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing dan tidak berbenturan dengan aturan yang ada, dan tidak menggerogoti dana APBD hanya untuk kantong pribadi apalagi sampai melakukan korupsi.

Hal lainya yang juga penting dan juga menjadi faktor penghambat kepala daerah yang terpilih tidak dapat menjalankan visi dan misinya, karena menyerahkan dokumen visi dan misi mereka yang akan diterjemahkan menjadi dokumen resmi pemerintahan, dan sejumlah rencana sterategis dan program kerja SKPD, kepada akademisi dan birokrat yang juga tanpa isi.

Para akademisi kampus yang tidak terbiasa menghasilkan rencana program yang terukur dan realistis dan hanya menggandalkan gelar ini, terkadang juga menjadi soal tersendiri karena menafsirkan realitas sesuka hati.

Kalau, soal birokrasi tidak perlu lagi ditanyakan, karena berapa banyak birokrat daerah yang menjadi pegawai negeri bukan karena mereka paham hendak berbuat apa, bermimpi apa ? Namun hanya karena alasan bisa dapat apa setiap bulan, setiap kenaikan pangkat dan jabatan?

Keluar dari Kegagalan, Menyambut Pilkada selanjutnya

Saya adalah orang yang selalu percaya, kegagalan bermula dari sebuah rencana yang gagal. Rencana yang gagal berasal dari informasi yang gagal dari orang yang salah. Itulah alasan, mengapa dalam ilmu managemen hadir istilah ‘the right man in the right place’.

Untuk bisa keluar dari ancaman kegagalan tadi, sudah waktunya kita membenahi faktor dasar yang membentuk potensi kegagalan daerah tersebut. Pertama, tentu saja mari memilih pemimpin yang punya rencana dan visi yang jelas, kemana daerah dan negara ini akan dibawa.

Pilkada bukan ajang memilih siapa yang paling banyak uang, pendeta, ustad maupun kepala suku, serta bukan pula memilih artisan penjual tampang tanpa isi. Namun kita memilih, mereka yang paham persoalan daerah, rakyat, dan punya kapasitas memimpin mesin birokrasi.

Kedua, pemimpin yang terpilih harus mengawal visi dan misi mereka yang menjadi janji kepada rakyat selama kampanye menjadi dokumen resmi yang bernama RPJMD dan tidak hanya mempercayakannya kepada akademisi maupun birokrasi. Setelah itu, memastikan bahwa rencana tersebut terimplementasi dengan baik.

Ketiga, sudah waktunya mereka yang punya visi, gagasan dan mimpi untuk berani terjun bekerja bersama membenahi daerah, kampung, dan lingkungan masing-masing, tentu saja dengan mempersiapkan dan membenahi diri sendiri dengan rencana dan mimpi yang jelas serta realistis!

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s