Sejarah Peradaban Dunia yang Berputar dan Berulang

 

image.jpg

Selama dua pekan, saya menghabiskan waktu membaca dua buku bagus. Pertama, the post American Word karya Fareed zakaria dan buku kedua karya Ernst H. Gombrich, dengan judul sejarah dunia untuk pembaca muda.

Membaca keduanya, seolah mengantarkan saya pada dua sisi mata uang yang sama. Ketika membaca karya American word yang ditulis dengan sangat baik oleh Fareed zakaria seorang penulis kolom mingguan di The Washington Post, saya diantarkan memahami bagaimana pengaruh amerika saat ini, setelah era kejayaan pasca perang dunia kedua dan zaman ketika soviet tak lagi ada.

Sebuah zaman, ketika Amerika yang senantiasa bergaya adikuasa, berhadapan dengan kemajuan yang sangat pesat dari negara- negara seperti tiongkok dan india, era ketika islam bangkit dan menjadi sebuah kepercayaan yang dipandang mengancam bagi sebahagian orang.

Sementara buku kedua, mengantarkan saya kembali ke masa sebelum dan saat perang dunia kedua. Ke zaman yang mendahului sejarah, zaman yang tidak memiliki nama, angka tahun yang pasti, bahkan perhitungan ‘sekitar’ atau ‘kurang lebih’ , lalu terus bergerak ke era aksara hieroglif Mesir Kuno, Mesopotamia, Sparta dan Athena, era Buddha sampai sejumlah peristiwa terkenal seperti reformasi gereja, revolusi Perancis, revolusi Industri, dan kelahiran Marxisme turut diceritakan.

Lalu akhirnya Gombrich, mengakhiri perjalanan sejarah dunia yang ia tulis dengan pecahnya Perang Dunia I dan sekilas sejarah kehidupannya, yang menurut saya zaman Perang Dunia ke II.

Sejarah Dunia yang berputar dan berulang

Setelah membaca dua buku ini, baik sejarah dunia untuk pembaca muda yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit marjin kiri maupun The Post American Word yang diterbitkan oleh penerbit bentang, saya berhipotesis atau lebih tepatnya mungkin berkhayal, bisa jadi sejarah peradaban dan kemajuan dunia adalah sejarah yang berputar dan berulang pada lingkaran dan siklus yang sama.

Dimana kemajuan dan sejarah peradaban manusia, senantiasa berputar mengelilingi lingkaran sejarah besar bangsa-bangsa yang ada. Dari mesir kuno, Yunani, eropa dan amerika, lalu kembali ke cina dan india untuk berakhir di dunia tanpa nama, tanpa waktu, dan tanpa aksara.

Lalu akhirnya kembali lagi pada zaman mesir kuno, dan berputar mengelilingi peradaban Mesopotamia,Eropa dan seterusnya sampai akhirnya berakhir pada dunia yang tidak dikenali. Pada titik yang tak dikenali inilah, Tuhan sedang menyusun kembali dunia, lalu membentuk dunia baru, zaman baru dan manusia baru. Yang kemudian bermula lalu berkembang dari siklus peradaban-peradaban bangsa-bangsa besar tersebut.

Ah, saya bukan seorang sejarawan mungkin saja saya terlalu banyak berkhayal akibat dua buku ini.

Karena jika seperti itu, lantas indonesia dimana ? Apakah kita hanyalah serpihan dari keturunan cina, india dan sebahagian lagi dari arab atau afrika ? Ataukah kita adalah dunia permulaan, dunia tanpa nama ? 

Ah, sejarah dunia memang rumit!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s