Melihat Danny Pomanto Bekerja

1898078_963064277140898_6408962340925042931_n
Sumber Foto : facebook Danny Pomanto

Saat pertama kali dilantik menjadi walikota Makassar, banyak yang menaruh optimis bahkan menurut saya berlebihan melihat sosoknya. Ketika itu, saya lebih memilih menghindar dari hingar bingar pujian dan harapan yang ramai untuknya.

Saya justru memberikan peringatan lewat berbagai pesan, tentang pisau bermata dua dibalik sebuah kepercayaan publik. Karena saya terbiasa melihat,‘ public trust yang besar bisa berubah dalam semalam menjadi public enemy’, jika antara harapan dan kenyataan tidak berjalan seiring.

Kini, setelah hampir setengah masa jabatannya sebagai walikota Makassar, satu persatu kritik menyerang atas kinerjanya sebagai walikota bermunculan. Mereka yang semula begitu optimis berubah menjadi penebar rasa pesimis.

Berbagai kritik akan kebijakan, kinerja, dan termasuk soal aksi pribadinya, tersebar dari media cetak sampai jejaring sosial. Bahkan yang terbaru video jalan kaki, lalu naik motor tanpa helm diatas trotoar yang diupload di youtube dan tersebar menjadi viral di berbagai jejaring sosial, bukan mendapatkan pujian namun berakhir bullying.

http://makassar.tribunnews.com/2016/03/25/curhat-wali-kota-makassar-usai-di-bully-karena-naik-motor-tanpa-pakai-helm

Melihat Danny Pomanto Bekerja

Saya cukup mengenal seorang Ramdhan Pomanto, atau yang populer dengan nama panggilan Danny Pomanto. Jauh sebelum dirinya, ingin lalu terpilih menjadi walikota Makassar. Bicara soal kapasitas pribadi, bagi saya seorang Danny Pomanto memang layak menjadi walikota.

Latar belakang pendidikan sebagai seorang Arsitek, pengalaman dan pemahaman sebagai perencana kota, kemampuan public speaking yang baik, ditunjang dengan ‘kesannya’ sebagai sosok yang mudah bergaul dengan semua kalangan, cukup menjadi alasan bahwa memang pria kelahiran 30 januari 1964, punya kapasitas dalam memimpin kota seperti Makassar dengan penduduk satu juta lebih orang ini.

Namun pada saat yang sama, saya juga sadar Danny Pomanto juga punya beberapa kelemahan. Terutama menyangkut pemahaman tentang bagaimana kultur dan cara kerja birokrasi pemerintahan selama ini, atau soal merancang kebijakan publik yang tidak semudah rancang bangun dalam program autocad .

Hal itu begitu terlihat, ketika persoalan pembentukan kelembagaan Komisi Pengendalian Percepatan Program Strategis (KP3S) yang kontroversial, membuat dirinya terlibat polemik yang berkepanjangan dan cenderung menghabiskan energi.

Lihat ; http://makassar.tribunnews.com/2015/11/03/breaking-news-sittiara-menang-lawan-danny-pomanto-di-ptun

Namun dalam sisi yang lain beberapa hasil kerjanya sudah mulai terasa, ketika dengan mata kepala sendiri kita melihat mobil tangkasaki lalu-lalang yang berujung Adipura bagi Makassar, BRT yang mulai disenangi dan disesaki oleh warga, atau program lorong garden yang mulai menarik perhatian dunia.

Namun apakah itu menyelesaikan persoalan pokok publik makassar?

Dari hasil kajian dan survei kami yang sama sekali tidak dibiayai oleh Danny Pomanto atau pemkot Makassar, karena memang sampai saat ini kami tidak pernah ditawari atau menawarkan diri baik pribadi dan lembaga untuk bekerjasama dengan pemerintah kota Makassar, bahwa sampah, kemacetan, persoalan kesenjangan pendapatan antar warga, serta kerawanan kriminalitas, adalah empat ancaman serius bagi kota Makassar.

Sesuatu yang harusnya mampu dijawab secara serius dan sederhana oleh seorang Danny Pomanto dan jajaran birokrasi yang dipimpinnya. Persoalan yang tentu membutuhkan kemampuan komunikasi dan pada saat yang sama membutuhkan kesabaran untuk mendengar.

Belajar Berkolaborasi

karikatur
sumber foto/desain : rakyatku.com

Saya teringat, kalimat yang sering disampaikan Ridwan kamil walikota bandung, ‘kini sudah tidak zaman mengubah dunia sendirian’. Untuk itulah, sebagai bagian warga Makassar dimana istri dan anak saya juga ber-KTP dan bersurat kelahiran di Makassar serta bekerja di kota ini, menurut saya ada dua hal penting yang dibutuhkan oleh gaya kepemimpinan anak lorong dalam menata Makassar masa depan.

Pertama, belajar berkolaborasi. Seorang Ramdhan pomanto adalah seorang dengan kapasitas yang baik secara individu, namun menurut saya dalam banyak hal bukan kolaborator ide yang baik.

Inilah yang menurut saya harusnya menjadi kritik bersama, bagi para pemimpin daerah yang kini di puja. Dari presiden jokowi yang belum mampu membangun kolaborasi antar menterinya, Ahok yang senantisa terlibat faksionalisasi dengan DPRD, sampai Ramdhan pomanto dengan birokrasinya dan DPRD kota makassar.

Seorang pemimpin pemerintahan yang hebat, menurut saya adalah mereka yang mampu membangun sebuah sistem bukan karena faktor ketokohan semata. Sudah waktunya kita berhenti melakukan pemujaan pribadi pada aktor, karena waktu kekuasaan seorang aktor itu terbatas, sementara sistem dan pemerintahan akan terus berjalan.

Disinilah peran seorang pemimpin yakni kemampuan membuat sistim bekerja tanpa dirinya selalu ada.

Kedua, berfokus pada aksi, bukan pada kemasan. Terus terang program-program pemerintah kota Makassar di pemerintahan Danny Pomanto begitu kaya akan jargon. Misalnya saja, Sombere and Smart City Makassar, LISA (lihat sampah ambil), lorong garden atau Makassar Tidak Rantasa (MTR) dan berbagai banjir jargon serta gimmick, yang semoga tidak hanya berhenti pada kata-kata, namun bisa berjalan dan memiliki bukti langsung dan terasa manfaatnya bagi publik.

Sebuah kota Smart City misalnya, mesti dimulai dari Smart People. Sudahkah program edukasi Smart People berjalan ? Atau sudahkah Ramdhan pomanto dikenal sebagai sosok yang sombere ?

Pertanyaan dan peryataan ini, kerap saya jumpai menjadi diskusi ditengah-tengah warga. Sesuatu yang harusnya dijawab dengan aksi dan bukti oleh seorang seperti Danny Pomanto, yang selalu kaya akan gagasan dan penuh inovasi. Saya percaya seorang Ramdhan Pomanto adalah sosok yang layak dan masih layak dalam menata kota Makassar.

Karena bagi saya, seorang pemimpin dipilih dan dipercaya karena dirinya bisa membuktikan mimpinya menjadi kenyataan, mampu mengubah harapan menjadi kenyataan. Bagi saya dua setengah tahun, ‘Danny sudah membuktikan beberapa hal, dan baru sebatas mengatakan idenya untuk beberapa hal’.

Namun, ada satu hal pula yang masih menjadi pertanyaan dikepala saya, apa kabar wakil walikota kita ? Semoga Danny Pomanto tidak sekedar bekerja sendirian dan di bully sendirian ?

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s