‘Jangan Bunuh Tan Malaka’

tan-malaka-hidup-diburu-dan-dipenjara-wafat-dihujat

Ingatlah, dari dalam kubur suaraku akan lebih keras dibandingkan dari atas bumi…

Saya pertama kali mengenalnya, kalau tidak salah di paruh awal tahun 2004. Ketika itu, saya sedang menjadi mahasiswa semester empat. Untuk pertama kali, saya berjumpa dengan salah satu bukunya yang sangat berkesan, apalagi kalau bukan ‘Madilog’.

Kumpulan tulisan Tan Malaka yang ditulis sekitar tahun 1942 itu, menemani masa bermahasiswa saya, membawa saya kembali meneropong sejarah masa lalu tentang karakter manusia Indonesia.

Manusia yang oleh Tan Malaka disebut, sebagai orang-orang dengan kultus penuh takhayul dan bermental budak! Generasi masa lalu, yang menurutnya jauh dari rasionalisme, dialektika, dan nalar logis.

Karena itulah dirinya mencipta Madilog, yang merupakan penggabungan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana di jelaskan Tan Malaka, sebagai ‘ilmu bukti’.

Dari Madilog karya Tan Malaka, generasi negara ini berhutang besar akan sumbangsih pemikirannya tentang manusia Indonesia yang dicita-citakannya sebagai manusia yang harusnya rasional, manusia Indonesia yang mesti saintis!

Madilog yang lahir melalui perpaduan pertentangan pemikiran di antara dua kubu aliran filsafat, Hegel dengan Marx-Engels, bahkan Furbach serta David Hume, mengantarkan kita pada upaya melawan mental keterbatasan.

Tan dengan segala kondisi keprihatinanya, ketika menulis karya itu, menurut saya berhasil memadukan kedua pertentangan dealektis menjadi sesuatu yang sangat realis dalam bingkai keindonesiaan.

Menanamkan semangat untuk mengubah mental pasif, menjadi masyarakat baru yang berlandaskan sains, melawan alam pikiran mistis. Tan, juga berhasil menanamkan gagasan untuk menjadikan logika, pikiran kreatif, dan dialektika sebagai bagian dari cara berpikir yang harusnya dimiliki oleh rakyat negaranya.

Lalu apa yang salah dari Tan Malaka ?

Mengapa segerombolan orang yang bersorban dengan pengetahuan pas-pasan menghujatnya, dan ingin kembali membunuhnya dari ingatan generasi bangsa ini?

Mengancam menolak pementasan monolog ‘saya rusa berbulu merah’, yang mementaskan sejarah Tan Malaka hanya dengan alasan, bahwa Tan Malaka seorang PKI?

Alangkah bodoh dan dangkalnya alasan itu, karena itu sama saja mengingkari sosok manusia pejuang yang dengan teguh mengorbankan seluruh kehidupannya, melakukan grilya kesadaran ditengah massa rakyat, untuk melawan penjajahan, kolonialisme, dan imprialisme asing selama berabad-abad yang menindas negeri ini?

Tidak cukupkah, anak-anak bangsa ini memberikan derita bagi penulis buku Neer Republik itu ? Manusia Indonesia yang telah merumuskan Indonesia dalam wujud negara republik, dua puluh tahun sebelum kemerdekaan 1945 dideklarasikan.

Dirinya, yang diburu di masa Belanda, menjadi incaran di era Jepang, lalu tersisih dan terbuang pada kekuasaan Soekarno, Soeharto, dan kini ingin pula dibunuh dan dihapuskan dalam alam ingatan rakyat dari negara yang diperjuangkannya secara susah payah?

Jangan Bunuh Tan Malaka

Alasan utama, mengapa saya senang dengan Tan Malaka dan hampir saja memberikan nama anak saya dengan nama yang sama ‘Tan Malaka Ridha’, namun karena petimbangan istri saya, akhirnya batal menggunakan nama keren itu, karena Tan Malaka adalah sosok ‘pejuang pemberani yang tak pernah kenal kompromi’.

Pikiran-pikirannya menurut saya, melampaui imajinasi orang-orang Indonesia pada zamanya. Dirinya pernah menjelajahi beragam benua, dari Eropa, Cina, dan sepanjang Asia. Seorang Tan Malaka, menurut saya pula bukanlah seorang atheis sebagaimana kesalahan cara pandang orang selama ini yang menghubungkan Tan Malaka sebagai PKI, yang berarti Atheis dan tak bertuhan.

Tan Malaka dalam Madilog (lihat; 431; dst bagian kepercayaan), bahkan dengan tegas mengakui bahwa diantara pembawa agama Monotheisme, agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah agama yang paling lurus, serta tanpa malu-malu menyebut Nabi Muhammad sebagai nabi terbesar diantara nabi-nabi monotheisme.

Tan Malaka yang pandai mengaji bahkan sejak masih muda telah belajar menafsirkan Al-Qur’an , dengan jelas berpandangan selama alam raya ada, selama itu pula aturan kekuasaan yang maha esa berlangsung.

Sesuatu yang secara nyata menunjukan peryataan syahadatnya, pengukuhan ketegasan keislaman dalam dirinya.

Lantas apa yang salah dengan Tan Malaka ?

Bisa jadi, mereka yang ingin membunuh Tan Malaka, adalah memang manusia-manusia bermental takhayul yang membenci pengetahuan. Mereka yang tidak rasional, penuh mistis, dan tidak menghargai dialektika sebagai sebuah hukum yang pasti berlangsung.

Atau bisa jadi para gerombolan bersorban itu, memang adalah orang-orang yang malas membaca, termasuk jarang mengaji bahkan merenungi ayat Al-Quran tentang para Ulil Albab, sebagaimana dalam surat Al-Imran ayat 190-191 Allah berfirman ;

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. 

Dan menurut saya, seorang Tan Malaka adalah seorang Ulil Albab yang dari dalam kubur suaranya akan terus terdengar keras melawan mental kebodohan dan penindasan, dari setiap orang pada setiap zaman.

Tabe,

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s