‘Kampus, Politik dan #BanggaKami’

1427873005907692374
Sumber Foto : Heriyanto Rantelino/ Kompasiana

Sebagai salah satu alumni Universitas Hasanuddin, rasanya janggal jika kampus merah, hanya ramai karena berita dosen yang terlibat narkoba, penerapan jam malam yang berujung skorsing mahasiswa, atau soal dukung mendukung dalam posisi politik.

Menurut saya, kampus sebesar dan sehebat Unhas, harusnya ramai dengan berita penemuan dan penelitian terbaru, gagasan Unhas tentang agenda perubahan sosial, sampai berbagi gagasan baru kampus dalam menghadapi revolusi sosial generasi digital yang kini sedang bergeliat.

Fungsi kampus sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian pada Masyarakat harusnya kini lebih berperan banyak. Termasuk melakukan berbagai aksi, dalam menyikapi  realitas baru dunia yang terus berganti.

Kampus dan Politik

Bagi saya, bukan hal tabu jika kampus ikut terlibat dalam mendukung kiprah politik para alumni, menempatkan dosen maupun civitas akademik yang ada dalam sejumlah posisi jabatan strategis birokrasi maupun politik, dari lokal, nasional, bahkan bila perlu dalam pentas internasional.

Namun soalnya, pada posisi mana dan bagaimana keterlibatan peran politik itu harus diambil? Inilah hal yang menurut saya, menjadi kelemahan pimpinan kampus dan lembaga alumni selama ini, dalam menempatkan diri dan posisi mereka sendiri.

Terus terang sayapun bangga punya Wakil Presiden yang adalah ketua IKA Unhas, sejumlah menteri yang satu almamater, Gubernur dengan latar belakang Jas Merah, pimpinan lembaga tinggi negara lulusan Unhas, sampai Bupati dan Walikota hebat yang pernah dididik oleh Unhas.

Kebanggaan yang tidak kurang bahkan lebih, juga selalu tertanam dikepala saya kepada para alumni unhas yang setia menjadi dokter diberbagai daerah terpencil. Penyuluh petani di desa-desa, para peneliti yang menemukan peralatan tangkap bagi nelayan, sastrawan yang tak berhenti berkarya, mereka para pengusaha jujur yang mampu membuka lapangan kerja, ataupun para ibu rumah tangga yang mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang dan cinta akan pengetahuan.

Serta tentu saja, sejumlah peran lain yang mampu memberikan kontribusi ditengah masyarakat.

Paradigma keberhasilan kampus dalam mendidik, juga tidak diukur seberapa banyak kampus melahirkan para pejabat ataupun politisi, namun sebarapa banyak kampus melahirkan manusia-manusia yang mampu bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya.

Saya juga tidak sepakat, jika ada istilah kampus harus jauh dari politik dan kekuasaan. Karena politik juga bukan hanya soal posisi struktural pemerintahan, namun politik sejatinya adalah ‘masalah keberpihakan’, dalam mengelola serta mendistribusikan alokasi sumber daya kekuasaan.

Kekuasaan sendiri akan sangat sempit, jika hanya ditafsirkan dengan para pejabat pemerintahan atau partai politik, karena menurut saya ‘kekuasaan ada dan tersebar dimana-mana’ melingkupi berbagai arena kehidupan dan profesi.

Justru kampus sebagai ibu, harus menjalankan peran politiknya. Yakni mendidik dan memberikan pengetahuan bagi para anak-anaknya, untuk memiliki keberpihakan pada masyarakat banyak, dan menjadikan anak-anaknya sebagai manusia yang bermanfaat dengan legitimasi kekuasaan ilmu dan profesi yang mereka miliki dan jalani. 

Mengubah Cara Berpikir

Unhas akan sangat kecil, jika terus terjebak pada cara berpikir yang cenderung memuja kekuasaan para pejabat politik. Waktunya unhas, sebagai sebuah institusi dengan sumber daya berlimpah mengarah pada pemujaan akan ‘karya dan kontribusi sosial’.

Terus terang hal yang membuat saya kadang malas menghadiri acara kampus seperti temu alumni baik jurusan, fakultas, maupun universitas, adalah pemujaan yang berlebihan jika ada alumni yang lantas pejabat politik, mereka kemudian dipersilahkan menjadi keynote speaker, atau sosok yang seolah-olah menjadi representasi keberhasilan almamater.

Saya bukanlah orang yang alergi dengan para pejabat pemerintahan, namun alangkah tidak logisnya, jika dikampus yang berisi para guru besar, mahasiswa dengan energi idealisme yang meluap-luap,lalu diceramahi oleh mereka yang menjadi pejabat politik yang terpilih oleh cara-cara culas dan jauh dari bermartabat.

Berbeda, jika pejabat tersebut memang punya karya nyata, inovasi, dan meraih kekuasaan secara terhormat dan jujur, tentu harus kita dengarkan dan menarik pelajaran dari apa yang sudah dilakukan dan diraihnya, untuk menjadi role model bagi para mahasiswa dan pembelajaran bagi dunia kampus.

Namun jika pejabat tersebut terpilih hanya karena ayahnya mantan bupati, menang dengan membayar pemilih, terlibat korupsi, lalu tidak memiliki kontribusi dan agenda apa-apa bagi kemajuan, apa yang hendak kita banggakan? Apa yang mesti dipelajari ?

Akan lebih bermanfaat, jika Unhas dalam temu alumni atau momentum diskusi baik pada level Jurusan, Fakultas, maupun Universitas mengundang dan menjadikan alumninya seperti Dr. Taruna Ikrar yang menjadi penemu Terapi Genetik Penyakit Jantung yang begitu bermanfaat  bagi orang banyak, menjadi narasumber.

Lihat;http://www.bem-kemafarunhas.or.id/2015/09/alumni-unhas-temukan-terapi-genetik.html

Mengundang, pengusaha muda alumni Tehnik sipil yang bernama Khaidir yang bisa mengantongi 60 juta rupiah dalam sebulan dari bisnis Merchandise.

http://www.inspirasimakassar.com/alumni-teknik-unhas-kantongi-rp60-juta-sebulan-

dari-bisnis-merchandise/

Belajar dari Ashar Karateng, alumni unhas yang juga seorang guru para fasilitator yang konsisten mendorong perubahan cara berpikir para birokrat dan aktivis NGO, untuk berkolaborasi dalam merancang pembangunan di berbagai daerah di belahan timur indonesia.

Atau, menjadikan sastrawan muda dengan banyak karya seperti Aan Mansyur yang puisinya hadir dalam film AADC 2 sebagai ikon kebanggaan kita. Mendengarkan dan belajar banyak dari para aktivis LBH yang konsisten memperjuangkan keadilan bagi yang tak berpunya, atau mendukung alumni kita yang bergerak sebagai para pejuang anti korupsi.

Serta mungkin perlu pula berbagi inspirasi dari para alumni unhas yang kini menjadi ibu rumah tangga yang sukses merawat keluarga mereka, dan tentu saja banyak sosok-sosok luar biasa lain yang berkarya dan telah berbuat nyata dan berkontribusi ditengah-tengah masyarakat atau paling sederhana bagi keluarga mereka!

Harusnya disetiap temu alumni, mereka inilah yang kita beri ruang untuk berbicara dan didengar, mereka yang membuat kita malu bahwa belum bisa berbuat apa-apa. Karena unhas, sebagai ibu bukan hanya mampu melahirkan wakil presiden, gubernur, bupati atau walikota, namun mampu melahirkan manusia-manusia yang bermanfaat bagi orang banyak, yang membuat #banggaKami jadi alumni unhas!

 

2 tanggapan untuk “‘Kampus, Politik dan #BanggaKami’

  1. Komentat sy tulisan inj bagus dn mkin sangat keren tp pd prinsipnya jg tdk boleh ada pbedaan antara para penemu dn para politisi dn pejabat mereka smua adalah inspirasi bagi mahasiswa dn para alumninyg smntra msih mencari bentuk untk berproses di dunia nyata,jd politisi pejabat dn para penemu adalah insipirator bagi para alumni dn mahasiswa didik kampus.mantap tulisanya bang.sehat dn sukses selalu #BanggaKami👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s