Sandiaga Uno, Muda, Kaya, Mungkinkah Berjaya Melawan Ahok?

20160331_101441.jpg

Semalam selepas sholat maghrib, saya membuka jejeran kumpulan buku biografi orang-orang Indonesia di jajaran perpustakaan rumah kami. Lalu tanpa sengaja, menemukan buku seseorang yang kini mulai ramai dibicarakan, sebagai kandidat penantang Ahok dalam Pilgub Jakarta yang bernama Sandiaga Uno.

Saya sendiri tidak ingat, kapan pastinya membeli buku biografinya yang jelas sebelum Sandi dibicarakan sebagai calon Gubernur, buku terbitan Kamea Pustaka Publishing tahun 2013 itu sudah ada dirumah saya.

Sebelum populer menjadi calon gubernur, saya hanya mengenal bos PT Recapital Advisors  itu lewat televisi, ketika dirinya diwawancarai sebagai seorang pengusaha muda, kaya, dan sukses.

Karena penasaran, saya mulai membaca dan menelusuri siapa, dan bagaimana kehidupan seorang Sandi.

Lahir sebagai good boy

Dari buku dengan tebal 140 halaman yang ditulis oleh Irfan Permana yang dibagi dalam empat bagian ini, dimulai dari latar kehidupan keluarga Sandiaga, proses menuju keberhasilan, sejumlah rumus mencapai kesuksesan, dan akhirnya wujud kepedulian Sandi bagi pengembangan UMKM Indonesia.

Lewat membaca buku ini, saya bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa memang alumni George Washington University, Amerika Serikat ini adalah sosok good boy. Terlahir dari pasangan orang tua yang berlatar belakang Gorontalo-Betawi, Sandi tumbuh dengan didikan sang ibu Mien Rachman Uno yang menurutnya adalah sosok pendidik sejati.

Ibu Sandiaga Uno, Mien R. Uno memang dikenal sebagai salah satu tokoh pendidik dan pakar etiket di Indonesia, sedangkan ayahnya Razif Halik Uno alias Henk Uno adalah pria kelahiran Gorontalo yang pernah tinggal di Makassar, hingga akhirnya kuliah di Institut Teknologi Bandung.

Dengan latar pendidikan dan pekerjaan kedua orang tuanya yang pengusaha dan pendidik, Sandiaga Uno tumbuh dalam didikan khas keluarga kelas menengah yang mapan.

Wajar saja, Sandi kemudian akhirnya memiliki motivasi untuk kuliah di Amerika dan akhirnya meraih predikat summa cum laude baik selama kuliah Wichita State University maupun ketika mengambil master di George Washington University.

Dari membaca sejarah hidupnya, suami dari Noor Asiah tersebut juga pernah bangkrut ketika menjabat sebagai Executive Vice President NTI Resources Ltd sebuah perusahaan di Kanada, namun karena krisis moneter yang terjadi tahun 1997, perusahaan tempat bekerjanya itupun gulung tikar dan Sandi pulang sebagai pengangguran di Indonesia.

Lalu seperti sudah banyak dituliskan, Sandi berubah dari karyawan menjadi pengusaha sukses yang berinvestasi di bidang telekomunikasi, pertambangan hingga akhirnya oleh Majalah Forbes memasukkkan namanya kedalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan sebesar US$ 400 juta dan berada diperingkat 29.

Mampukah Melawan Ahok ?

Ada yang menarik dari gaya sahabat Sandiaga Uno yang melakukan aksi simpatik ‘Membangun Jakarta dengan senyum dan santun’. Bagi saya ini merupakan ide cemerlang, karena mampu membangun personal difference yang tegas antara sosok Sandi dan Ahok.

Namun, cukupkah sekedar dengan senyum dan santun, untuk menarik suara pemilih ibu kota yang dari data survei sejumlah lembaga, terus mengukuhkan dominasi elektabilitas Ahok ?

Bagi saya hal itu tidak cukup, di tengah arus besar gelombang Jokowi effect di indonesia dengan fenomena blusukannya yang mampu mengguncang Jakarta dan Indonesia, di mana Ahok menjadi bagian dari sejarah tersebut.

Sandi dan timnya perlu bekerja berat untuk menarik simpati warga ibu kota. Sandi tak perlu fokus mengikuti gaya blusukan Jokowi yang ke pasar, karena itu sangat jauh dari personal selling seorang Sandiaga Uno.

Sandi, justru harus mampu menjelaskan sejumlah program yang bisa menandingi kesan akan keberhasilan Ahok selama ini.

Sebagaimana rumus umum dalam pilkada, seorang kandidat petahana akan terus bicara menyangkut keberhasilannya, sedangkan penantang akan membawa harapan baru.

Persoalannya, apa harapan baru yang ingin dihadirkan oleh Sandiaga Uno bagi publik Jakarta? Apakah Sandi hanya akan fokus bermain pada pembeda karakter pribadi, tentang ‘Jakarta senyum dan santun’ ?

Ataukah Sandi akan bicara soal program, misalnya ‘membangun Jakarta tanpa menggusur, memberdayakan tanpa menghina, mensejahterakan dengan bekerja’, atau berbagai impian besar dan konkret yang bisa dilakukan serta dikomunikasikan dengan gaya komunikasi yang lebih mudah dicerna oleh publik.

Inilah tantang besar bagi sahabat maupun Sandiaga Uno , saya sendiri berharap jika sandi benar sebagaimana sosok yang cerdas, sukses, dan soleh, seperti yang ditulis di biografinya, Sandi harus berani mengajak Ahok berduel gagasan di depan publik yang diliput oleh semua media, utamanya stasiun televisi.

Dimana Sandi dan Ahok, memberikan penjelasan kepada publik apa dan bagaimana komitmen mereka dalam menata dan membangun Jakarta. Debat terbuka ini, sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum proses pilkada berjalan, untuk memberikan kesempatan bagi rakyat dalam berpikir sebelum menentukan pilihan mereka.

Karena seharusnya Pilkada memang adalah ajang pertarungan gagasan, bukan ajang pemilihan ustad ataupun perebutan posisi kepala suku. Pilkada adalah tempat untuk memberikan kesempatan kepada rakyat untuk lebih mengenal siapa yang pantas dan tidak pantas dipilih oleh rakyat, untuk memperbaiki ibu kota negara, bukan sekedar adu kekuatan para buzzer dan ajang saling fitnah di media sosial.

Tabe, semoga wajah Jakarta lebih baik.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s