Empat Pelajaran Kehidupan, dari Guru saya

DSC_1105-660x330

Sebagai manusia biasa, sebaiknya kita memang memiliki seorang guru, mursyid, murabbi atau apapun nama dan sebutannya. Mereka yang dari dirinya kita bisa menimba pengetahuan, merasakan mata air kebijaksanaan, sekaligus suri tauladan, yang bisa mengantarkan dan memberikan cahaya panduan untuk menjadi penerang, ditengah gelap dan pekatnya dunia, dari setiap hari yang kita lalui.

Seorang guru, juga adalah seorang penuntun, memiliki dasar pengetahuan dan telah melalui banyak perjalanan episode kehidupan. Dirinya, yang mampu menarik pelajaran dari apa yang mereka alami dan lalui, lantas dijadikan sebagai bahan tuntunan kepada murid-muridnya.

Sederhanya, para guru adalah jembatan penghubung menuju jalan shiratal mustaqim agar kita sampai pada cita-cita terbesar kehidupan,sebagaimana doa yang selalu kita ucapkan, robbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar!

Kehadiran seorang guru, diluar mereka yang menjadi guru pendidikan formal akademis, menjadi sangat penting. Karena menurut saya, jika para guru disekolah atau kampus, mengajarkan sejumlah instrumen pengetahuan teoritis dan akademis, maka seorang guru kehidupan, mengajarkan ilmu hidup, kebijaksanaan, dan kesadaran akan esensi dari perjalanan diri kita sebagai manusia.

Sayapun, memiliki guru yang oleh kami para murid-muridnya memanggilnya dengan sebutan ‘Abang’. Beliau dalah sosok orang tua, kakak, atau terkadang menjadi teman yang mengajarkan saya dan banyak murid-murid yang lain, tentang bagaimana melakoni kehidupan dunia ini.

Abang, bukan hanya memberikan kami pelajaran lewat kata-kata, namun beliau senantiasa menujukan lewat prilaku dan tindakan. Beliau selalu berpesan kepada murid-muridnya, ‘bahwa alam  kita, bukanlah sekedar alam kata-kata, namun adalah alam pembuktian ’.

Diantara begitu banyak pelajaran yang beliau ajarkan dan praktekan langsung dalam kehidupannya, setidaknya bagi saya ada empat pelajaran yang menurut saya, sangat bermanfaat bagi diri pribadi saya. Dan juga mungkin saja bagi orang lain, walau terkadang harus saya akui masih sulit saya jalankan. 

Pertama, Kenali ‘DIA’ yang berada dalam dirimu.

Pelajaran mengenali DIA yang berada dalam diri, adalah pelajaran paling esensial dari apa yang selama ini diajarkan oleh Abang. Bahwa jasad memiliki akhir, sementara DIA yang Maha, akan tetap eksis dan tidak mengenal hukum batas awal dan batas akhir.

DIA yang tidak terbatas oleh usia, apalagi batas waktu, selayaknya kehidupan manusia yang mengenal bilangan angka dan batas umur.

Oleh sebab itu, DIA adalah keabadiaan itu sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tidak pernah berjarak dari diri kita, DIA yang tidak pernah istirahat, apalagi tertidur. Namun tidak kita kenali dengan baik, atau bahkan dengan sengaja kita lupakan keberadaanya.

Selama ini kita tidak menjadikan DIA, sebagai navigator pengendali gerak  dan langkah dari kehidupan keseharian kita. Padahal, secara terang benderang, kehadiranya dapat kita rasakan, petunjuknya telah dituliskan dalam kitab suci, dan tuntutunan prakteknya, telah dicontohkan dengan kehadiran para nabinya.

Bukankah DIA sendiri telah menyampaikan jejaknya dengan jelas? sebagaimana dalam surah Sad [38:72]; Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya. (QS. 38:72)

Kenalilah DIA, pelajarilah DIA, dan ikutlah bersama petunjukNya,  itulah inti pelajaran pertama dan terpenting yang diajarkan oleh Abang selama ini.

Kedua, Bersihkan diri dari rasa kecewa.

Pelajaran kedua dari Abang, yang selalu saya ingat dan senantiasa coba saya praktekan dalam menjalani kehidupan keseharian, walau masih sering gagal saya lakukan, adalah membersihkan diri dari rasa kecewa.

Karena perasaan kecewa,marah, ataupun sedih atas kejadian atau peristiwa yang menimpa diri kita, bisa jadi adalah bentuk pengingkaran kita sebagai manusia, akan ketetapan Tuhan dari takdir kehidupan.

Perasaan kecewa dan marah,  adalah perbuatan sia-sia, dan bisa jadi adalah ciri-ciri dari orang-orang yang tidak memiliki Iman atas qada dan qadar. Abang selalu mengajarkan, ‘tidak ada satupun daun yang jatuh di muka bumi tanpa Izinya’. Lantas, untuk apa kita kecewa, marah, dan bersedih ?

Bukankah semuanya sudah ditetapkan olehNya?

Ketiga, Jangan berharap lebih pada sesama Manusia!

Salah satu masalah terbesar manusia, adalah harapan yang berlebihan atas manusia lain. Abang, selalu berpesan kepada kami, kita tidak boleh menggantungkan harapan berlebihan kepada sesama manusia, karena pastilah kita akan kecewa.

Karena manusia bukanlah kumpulan malaikat, dan kita bukanlah Tuhan yang mampu mengendalikan semua kondisi dan kejadiaan sesuai harapan dan keinginan pribadi kita.

Oleh sebab itu, pelajaran ini secara esensi mengajarkan saya untuk tidak banyak berharap kepada sesama mahluk. Karena jika sesama manusia yang kita jadikan sandaran, pegangan, yang juga adalah mahluk lemah sebagaimana diri kita, yang bisa salah dan khilaf pasti kita akan kecewa.

Maka jaganlah berharap pada manusia, bersandarlah hanya KepadaNya, DIA yang memiliki kuasa atas segala semesta.

Ke-empat, bukan mengubah dunia, namun ubah diri sendiri.

Pelajaran ke-empat yang selalu terekam dalam batin saya, atas apa yang diajarkan oleh Abang, yaitu ‘berhentilah berpikir untuk mengubah dunia, namun ubahlah dirimu sendiri maka cara kita melihat dunia juga akan berubah’.

Walau yakinlah, tidak ada manusia yang mampu mengubah ketetapan Tuhan. Tugas kita, sekali lagi hanyalah memperbaiki diri sendiri dari hari ke hari. Bersiap menyambut suratan takdir kehidupan dengan dua pilihan, berlapang dada dan penuh rasa syukur, atau justru bersusah diri dengan terus mengutuk keadaan.

Dibandingkan terus mengutuki kegelapan atau kecewa akan kehidupan, maka marilah kita belajar dan berusaha menghadirkan DIA sebagai penuntun diri dan kehidupan kita. Sembari membangun surga kebahagiaan dalam dunia ini, dimulai dari melapangkan dada kita dari segala beban, kecewa, dan amarah. Karena dari sanalah,  cara pandang kita melihat dunia menjadi berubah.

Semoga bermanfaat

 

 

 

 

 

11 tanggapan untuk “Empat Pelajaran Kehidupan, dari Guru saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s