‘Politik, Politisi, Generasi Kekinian’

Bung-karno-Pidato-di-depan-Rakyat-464x275

Pada masa Soekarno, politik adalah orasi yang menggelegar di-lapangan terbuka yang penuh sesak, oleh massa yang saling berdesak. Siang hari dibakar oleh panas matahari dan perdebatan panjang tentang Manipol dan Usdek, rapat-rapat penting tentang jalan pikiran ideologi mana yang paling benar, apakah Marhaenis-Nasionalis, Islam, Sosialis-Komunis, ataukah jalan liberal.

Sementara malam-malam para politisinya, dibuai oleh puisi rembulan, diantara suara lembut saxophone, dan diskusi seni dan kebudayaan yang lagi-lagi berujung polemik. Apakah seni dan kebudayaan haruslah menjadi alat perjuangan politik? ataukah seni sekedar refleksi estetis jiwa manusia, untuk menyempurnakan kondisi hidup? sebagaimana perseteruan antara Lekra dan Manikebu.

Soeharto-7_50_1426042995

Kondisi berbalik, Soeharto naik pentas. Politik berubah menjadi diam dan senyap dan tak lagi gaduh dengan perdebatan. Karena bicara soal politik di sembarang tempat, sama artinya merencanakan Makar atas negara. Mengganggu, stabilitas bagi negara yang sedang fokus membangun.

Biarlah politik adalah urusan para jenderal dan orang-orang pintar dengan gelar panjang dibelakang nama. Rakyat biasa, tak usah sibuk bicara politik, cukup berpikir mengairi sawah, merencanakan gotong royong untuk membangun jalan atau balai desa.

Malam minggu mari menonton wayang kulit, atau tertawa bersama semar, petruk, gareng dalam pangung ria jenaka. Biar cerdas wajib mengikuti acara kelompencapir atau mendengarkan dialog bapak presiden dengan para petani dalam acara sambung rasa. Soal menikmati seni dan hiburan tidak perlu aneh-aneh, apalagi debat karena setiap minggu pagi ada acara aneka ria safari atau album minggu kita.

Lalu, dimasa Habibie ledakan dari 32 tahun rakyat dan generasi yang selama ini dibungkam tak lagi tertahan, politik berarti golkar yang harus bubar, TNI yang kembali ke barak, media yang bebas bicara dan bisa menuduh siapa sebagai bagian dari orde baru yang anti reformasi.

Poros tengah muncul dibawah kendali Amin Rais yang lihai mengambil peran dengan menaikan Gusdur dan Megawati sebagai bapak dan ibu presiden.

184163_sby-dianugerahi-lifetime-achievement-award_663_382

Reformasi datang, SBY tampil sebagai wajah dan harapan baru. Politik heboh soal koalisi, pencitraan, demokrasi langsung, dan lagi-lagi media yang tidak berhenti memberi kabar tentang tokoh politik di parlemen dan eksekutif, sebagai pelaku korupsi.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tampil menjadi dewa, lalu teriakan tentang apakah jalan demokrasi liberal tingkat lokal harus dihentikan atau dilanjutkan?

Pemerintah juga, tak berhenti terus dituduh tidak hadir ditengah rakyat, padahal PNPM, Raskin, bantuan langsung tunai, sampai jaminan kesehatan dan pendidikan gratis terasa manfaatnya ditengah rakyat. Membuat SBY terpilih dua priode, dan demokrat menjadi pemenang pemilu tahun 2009.

Walau akhirnya, setelah sepuluh tahun berkuasa dan setelah demokrat menang di pemilu 2009 pada pemilu 2014, suasanaa kebatinan politik mayoritas rakyat tidak lagi sama, rakyat bosan dengan sosok ‘jenderal teknokratis’.

sulit-menggulingkan-jokowi-MXYYeO1pdX

Walikota solo yang nampak lugu, populer di media massa dan media sosial, menjadi perbincangan, politik bukan lagi soal elit atau siapa yang jadi ketua partai apalagi soal mesin partai.

Politik berubah menjadi perang sosial media, adu kreatif di youtube atau semangat partisipasi kaum relawan yang anti partai. Pendekatan dan perencanaan teknokratis dinilai lamban, politik gaya baru menjadi populer dengan kekuatan spontanitas ala blusukan tampil didepan, dan dipandang lebih sesuai untuk menyelesaikan masalah.

Walau sampai kini belum mengubah apa-apa, kecuali pertumbuhan ekonomi yang terus turun dan dolar yang terancam tak berhenti bergerak naik. Lalu mimpi, membangun indonesia dari pinggiran, tol laut dan revolusi mental, semuanya masih terus terpental-pental, kini muncul lagi panama papers yang heboh dan dikaitkan lagi dengan para politisi.

Politik, Politisi, Generasi Kekinian

tumblr_mwxfmtCFGf1slvftno1_500

Politik, politisi, generasi kekinian, bukanlah seperti era soekarno yang gaduh dan gandrung dengan ideologi, serta sibuk berdebat soal konsepsi negara. Bukan pula zaman soeharto yang otoriter, militeristik, dengan jargon-jargon mengerikan ‘macan asia’.

Tidak juga sama dengan era Habibie, gusdur, Megawati sampai SBY. Era politik dan politisi generasi kekinian, katanya adalah era ‘politik kreativitas’ yang mendewakan aksi namun bisa jadi miskin konsepsi.

Era dimana kesegeraan, menjadi utama dibandingkan prinsip dan fatsun politik. Seperti nawa cita, yang katanya berangkat dari trisakti, dengan mimpi berdikari dan berdaulat secara ekonomi politik, namun tak berhenti untuk terus menambah hutang luar negeri.

Inilah zaman dimana politik dan politisi, diwarnai oleh situasi paradoksal, ketika yang filosofis dipandang terlalu sulit, dan segala yang nyata walau menipu, irasional, serta bertentangan dengan nalar lantas di sebutkan sebagai kebenaran.

Inilah era politik, dimana pada pemilu tahun 2019 nanti populasi pemilih muda mencapai 55 % dimana mereka yang berusia 17-38 tahun, akan menjadi penentu utama perjalanan negara.

Zaman dari generasi yang disebutkan sebagai generasi millennium, yang tidak tertarik akan mimpi-mimpi peradaban besar yang muluk-muluk. Karena peradabaan menurut generasi ini, adalah sesuatu yang visual, seperti melakukan foto selfie dibanyak tempat.

Namun terlepas dari semua kondisi politik dan politisi kekiniaan tersebut, sebaiknya sebagai bagian dari generasi kekinian, kita mulai mengambil pilihan, apakah menjadi penonton atau pemain, pejuang atau sekedar pesorak ?

Selamat datang, Politik, Politisi, Generasi Kekinian’…

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s