Mental buruh,Kelas Uka-uka!

keepo.me-may-day

Selamat hari buruh, selamat kembali merayakan peringatan hari kita semua. Karena bisa jadi saya atau anda, masih berstatus sebagai buruh! Baik, buruh kelas atas, kelas menengah, ataupun kelas bawah. Karena Buruh, dalam kamus besar bahasa indonesia diartikan orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah; pekerja’

Jika merujuk pada definisi kamus bahasa indonesia tersebut, maka selama kita masih bekerja untuk ‘orang lain, dan demi mendapatkan upah’, maka selama itu pula kita menjadi buruh.

Dari presiden, menteri, gubernur, sampai lurah yang bekerja untuk negara. Dosen, wartawan, atau pekerja lembaga swadaya masyarakat, yang digaji atau mendapatkan bantuan lembaga donor atau pemerintah, sekali lagi ‘selama bekerja untuk orang lain dan dengan tujuan upah, maka selama itu kita tetap buruh’!

Mental Buruh

Saya tidak ingin membahas soal pertentangan kelas antara kaum pemilik modal dengan kelas pekerja. Apalagi perdebatan klasik antara ‘jalan keadilan’ mana yang paling benar antara negara atau pasar, soal ideologi marxisme, sosialis atau kapitalisme- liberal. Karena menurut saya, forum perdebatan itu sudah terlalu sering di bicarakan dibanyak tempat.

Bukan pula tentang gaji buruh, tunjangan yang layak, atau berbagai tuntutan klasik yang dari tahun ke-tahun terus berulang, yang mungkin sampai kiamat tidak pernah selesai menjadi tuntutan dimanapun. Karena menurut saya, keinginan manusia dan juga kebutuhan, tidak pernah ada habisnya.

Karena bagi saya, terlepas dari berbagai narasi besar atau material diatas, soalnya adalah pada ‘mental’ kita sendiri, sebagaimana definisi buruh dalam kamus bahasa indonesia diatas, bahwa banyak dari kita memang masih bermental ‘buruh’.

Mental yang senantiasa bekerja untuk upah, terjebak harapan untuk mengandalkan orang-orang diluar kita, sebagai ‘tangan tersembunyi’ yang akan datang jadi penolong. Saya dan mungkin juga anda, belum terbiasa, memiliki mental untuk menjadikan ‘bekerja’ bukan sebagai bagian dari ‘keinginan dan kebutuhan diri’, namun lebih sebagai cara untuk mendapatkan gaji atau status sosial lewat tangga karir yang diperoleh.

Bagi saya, mental buruh yang melekat dalam diri kita inilah, musuh sebenarnya yang membuat kita terjebak menjadi orang-orang yang kalah. Mental yang diwariskan oleh para orang-orang tua yang sibuk memilihkan anaknya sekolah, fakultas, atau jurusan tertentu dengan harapan, jika selesai sekolah mereka akan mendapatkan upah gaji yang besar.

Mental yang terus didoktrin, oleh sebahagian para dosen dan guru besar kampus, yang selalu berpesan kepada mahasiswanya, dengan gelar akademik yang tinggi akan mendapatkan status sosial ditengah masyarakat. Seolah-olah kehidupan ini hanya soal penghormatan dan gelar.

Padahal esensinya, bekerja adalah bagian dari kesenangan bukan beban. Kita bekerja untuk apa yang kita senangi, sebagai jalan untuk terus menggali, potensi diri yang kita miliki.

Karena ketika kita bekerja dengan apa yang kita senangi, sesuai potensi dan bakat yang dimiliki, maka pada saat itu, ‘kita bekerja untuk diri kita sendiri, untuk apa yang menjadi kebutuhan diri bukan untuk orang lain’.

Dalam banyak hal, ketika mengerjakan sesuatu bersama beberapa kawan, saya selalu berpesan kepada tim yang terlibat, ‘soalnya bukan pada berapa gaji yang kita dapatkan, namun pengetahuan dan skill apa yang bertambah dari pekerjaan yang kita lakukan, karena dengan itu, saya selalu yakin pelan-pelan orang lain akan susah memberikan nilai atas diri kita’.

Kelas Uka-Uka

dok-istDikampung saya di kota palu, ada sebuah istilah yang cukup populer yakni ‘uka-uka’. Saya menduga, istilah ini diambil dari sebuah acara reality show Televisi tentang penampakan para hantu. Namun, di palu istilah ini populer bagi orang yang pekerjaan utamanya adalah meminta uang dari para pejabat, ataupun pengusaha, yang mereka temui.

Penampilan mereka tidak sama dengan para pengemis layaknya di kota-kota besar yang berpakaian kumal. Para uka-uka, dari pengamatan saya terbagi dalam dua ketegori. Pertama, uka-uka kelas recehan sampai puluhan ribu. Uka-uka jenis ini, titik operasi mereka di warung kopi, atau mendatangi kantor, maupun rumah para pejabat, ataupun pengusaha yang menjadi target rutin.

Uka-uka tipe recehan, menjalankan modus operandi mereka dengan membawa berbagai cerita tentang kemalangan hidup mereka. Istri sakit, anak mau sekolah, beras habis, listrik belum terbayarkan, adalah sebahagian dari strategi para uka-uka kelas recehan, untuk menarik rasa iba dan simpati.

Sedangkan uka-uka kelas menengah atas, biasanya adalah mereka yang dengan kategori pendidikan yang lumayan baik smu sampai sarjana. Berbeda dengan kalangan uka-uka kelas bawah, mereka tidak membawa cerita kemalangan hidup, namun menawarkan mimpi atau impian, serta tentu saja dalam bahasa orang palu, ‘patende’( cerita hiperbola /kompa; makassar).

Biasanya yang mereka dekati dan menjadi target utama adalah para politisi, uka-uka kelas menengah, akan bercerita tentang kelebihan dan kehebatan politisi tersebut, sampai politisi tersebut merasa terbang diatas awan. Lalu, akhirnya perlahan tapi pasti, ratusan ribu sampai jutaan akan mengalir di kantong si uka-uka.

Ada juga kategori uka-uka kelas menengah atas yang lain, kelompok uka-uka dengan profesi utama memberikan teror. Biasanya kalangan ini adalah para wartawan tanpa surat kabar (WTS) atau LSM jadi-jadian. Fokus utama, uka-uka jenis ini adalah para pejabat yang punya kasus korupsi atau cerita perselingkuhan.

Dengan mengancam akan menuliskan berita lewat koran tempo-tempo terbit, wartawan jenis ini tidak segan, meneror para pejabat jika tidak memberikan setoran. Demikian pula sebahagian LSM jadi-jadian, biasanya mereka akan memberikan ancaman akan melakukan demonstrasi, jika permintaan proyek mereka tidak dipenuhi oleh si pejabat.

Melawan Mental Buruh, Keluar dari Kelas uka-uka

Di hari buruh ini, saya berpesan pada diri sendiri, sudah waktunya keluar dari ‘mental buruh’ yang masih sering melekat dalam diri dan cara berpikir sendiri. Mengubah cara pandang dalam melihat kerja, dan tentu saja keluar dari kelas uka-uka.

Benarlah kata presiden Jokowi, pekerjaan terbesar kita memang soal revolusi mental. Melawan kebiasaan dan doktrin lama, menuju individu yang menjadikan kerja sebagai karya, kemandirian sebagai doktrin hidup, dan kebebasan sebagai jalan untuk terus memacu kreativitas baru.

Selamat hari buruh sedunia, mari bangkit melawan diri sendiri !

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s