Menolak PKI ?

Tulisan ini telah dimuat pada kolom opini harian tribun timur (Rabu, 11 Mei 2016) 

13178971_10208446387269163_723037386934528195_n

Beberapa waktu terakhir, gerakan anti komunisme dan PKI kembali marak. Di kota bandung misalnya, pertunjukan monolog ‘saya rusa berbulu merah’ yang berusaha mengenang Tan Malaka hampir saja dibubarkan oleh beberapa ormas, dengan alasan menyebarkan ideologi komunisme.

Demikian pula kasus festival belok kiri fest Jakarta, yang dituduh adalah replikasi misi dan ajaran doktrin PKI. Dan entah kebetulan, di youtube tiba-tiba menyebar video seorang anak muda dengan pin palu arit, dihajar beramai-ramai oleh sejumlah orang dengan badan besar, berbaju safari bertuliskan LSM KPK.

Bahkan yang paling baru, sebuah kaos berlogo band thrash metal asal jerman, Kreator, yang dijual di blok M di razia oleh kepolisian, karena dituduh mirip dengan lambang palu arit PKI. Pertanyaanya, apakah yang sedang terjadi ? Apakah benar ajaran komunisme yang dibawa oleh PKI sedang bangkit ? Ataukah ada agenda terselubung dibalik gerakan anti komunisme dan anti PKI yang kini marak ?

PKI, sebuah Fakta politik Indonesia

11885057_425114304356218_3271760657542675758_n

Menghilangkan PKI dari fakta politik indonesia, sama artinya menutupi sejarah perjuangan kemerdekaan indonesia. Hasil skripsi saya tentang PKI, setidaknya memuat tiga catatan penting tentang bagaimana kehadiran dan peran PKI dalam dinamika politik indonesia pada masa lalu.

Pertama, dimulai dari pembentukan ISDV (Indies Social Democratic Association) yang merupakan embrio kelahiran Partai Komunis Indonesia, yang awalnya di pelopori oleh Sneevliet pada tahun 1914, pada fase ini ISDV menjadi pelopor bagi pendidikan wacana untuk melawan kolonialisasi belanda, salah satu bentuknya lewat penerbitan berbahasa indonesia pertama yakni Soeara Merdeka pada tahun 1917.

Lalu, pada fase kedua sejak tahun 1920, ISDV yang berubah nama menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH) lalu pada tahun 1924, PKH, akhirnya berubah nama kembali dan dikenal menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada fase kedua ini, PKI mendapatkan dukungan yang luas dengan masuknya tokoh-tokoh Sarekat Islam (SI) seperti  Semaun  dan Darsono, menjadikan PKH sebagai partai komunis Asia pertama yang menjadi bagian dari Komunis Internasional.

Perubahan ini, menandai gerakan kehidupan partai politik di indonesia yang melawan model cara kerja bangsa -bangsa imperialisme kaum penjajah yang membatasi hak-hak perserikatan kaum pribumi. Walau pada fase ini pula, PKI akhirnya mengalami persingungan tajam dengan kelompok Agus Salim yang merasa PKI telah berusaha mengubah Sarekat Islam yang dekat dengan warna organisasi ke- islaman menjadi komunis.

Pada fase ketiga, yakni pada pemilu 1955, PKI masuk melakukan perjuangan politik melalui pemilu dengan menempati tempat ke empat, dengan 16% dari keseluruhan suara. Partai ini memperoleh 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 514 kursi di Konstituante.

Dari berbagai fakta diatas setidaknya dua hal yang bisa kita dari konteks kehadiran PKI. Pertama terlepas dari berbagai kontroversi kehadiran PKI, bahwa partai tersebut memiliki peran dalam membangun perjuangan pergerakan kemerdekaan indonesia pada masa lalu.

Kedua, PKI pernah menjadi salah satu partai besar di indonesia. Jadi adalah kesalahan, jika kita ingin menghapuskan peran PKI dalam memori kolektif negara kita. PKI adalah fakta politik indonesia, sebagaimana fakta bahwa sampai hari ini ‘tugu tani’ masih berdiri di ibu kota negara, yang menjadi simbolisasi bahwa negara ini pernah berkiblat dan bersahabat dengan Uni Soviet dan komunisme.

Menolak PKI ?

kebiadaban-PKI-640x330

Pada banyak hal, saya secara pribadi tidak bersepakat dengan ajaran-ajaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Apalagi, jika doktrin yang dibawa, Marxisme-Leninisme yang menurut pendapat saya akan membunuh kebebasan berpikir, kreasi individu, dan mengarahkan kekuasaan negara pada bentuk yang sangat ‘monolitik’ dimana kekuasaan tersentral pada negara dan aktor elit partai.

Saya menolak dengan tegas, bentuk diktatorisme lenin atau stalin. Namun, itu bukan berarti, dengan mudah dijadikan dalil untuk membunuh dan menghancurkan orang lain dengan alasan sebagai agen PKI. Apalagi sampai menghajar seorang anak muda, hanya karena menggunakan simbol palu arit, sebagaimana tindakan main hakim sendiri oleh LSM KPK yang menurut saya meniru prilaku anggota partai Nazi dan Hitler.

Maraknya simbolisasi palu arit, tidak perlu disikapi dengan cara-cara berlebihan. Seperti maraknya kaos Cheguevara yang lebih menjadi trend dibandingkan misi ideologis.Saya yakin, bahwa cara-cara PKI sudah tidak kontekstual dengan dinamika kehidupan bernegara saat ini, apalagi sejumlah pergesekan politik masa lalu yang tentu saja masih menyisakan luka dan membuat penolakan oleh banyak pihak.

Jika ada sejumlah kelompok yang mencoba menghadirkan sejumlah fakta sejarah tentang perjuangan PKI masa lalu, itu juga tidak perlu disikapi secara reaksioner oleh aparat dan ormas, apalagi sampai mencurigai apa yang mereka lakukan sebagai bentuk kebangkitan PKI.

Karena memang faktanya PKI pernah hadir di negara ini, dan menjadi salah satu pendorong bagi kemerdekaan indonesia. Harusnya, kita belajar adil sejak dalam pikiran, sebagai sebuah fakta politik PKI memang pernah hadir mewarnai realitas politik di negara ini.

Saya justru curiga jika maraknya penolakan PKI, hanyalah wacana yang digunakan oleh sekelompok orang untuk membangun instabilitas negara dan mengganggu kekuasaan yang diperoleh lewat legitimasi pemilu yang sah dan konstitusional, dengan menjadikan isu PKI sebagai jalan mengambil alih kekuasaan dengan cara-cara nonkonstitusional. Ibarat cara-cara kerja orde baru, yang melakukan pembajakan kekuasaan politik di tengah jalan.

Namun jika benar, bahwa PKI utamanya mereka yang menjadi penganut Marxisme- Leninisme, ingin kembali membangkitkan roh dan cara-cara kerja PKI, mereka harus sadar luka dan bekas masa lalu itu masih terasa. Apalagi indonesia sudah memiliki jalan demokrasinya sendiri, bentuk dan wujud negaranya sendiri yang berdiri diatas pilar pancasila, undang-undang dasar tahun 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s