Jawaban Saya, untuk Tuan Hakim Pikiran

Rupa-rupanya, banyak pihak yang tidak bersepakat dengan tulisan saya sebelumnya dengan judul ‘Menolak PKI’? Bagi saya, hal itu biasa karena toh saya tidak sedang mencari kesepakatan dari setiap gagasan saya, jika ada pihak tidak sepakat mudah saja silahkan membuat tulisan, mengemukakan gagasannya sendiri. Lalu mengirimkannya di media dimana saya menuliskannya. Mudah kan ? Karena ini negara bebas bung!

Persoalnya menjadi sedikit personal, ketika karya kita itu coba dihubung-hubungkan dengan sejumlah peristiwa lain yang tidak berhubungan. Lalu menariknya dalam sejumlah kecurigaan dan prasangka personal, khas teori konspirasi dari abad yang lampau.

Tapi sudahlah, peristiwa itu sudah saya tuliskan di facebook, sekedar peringatan agar jangan hanya berani menggelar penghakiman dimana anda bisa menuduh orang seenaknya, lalu menjadi hakim serta jaksa bagi orang lain, tanpa menghadirkan tersangka dan melakukan konfirmasi atas fakta-fakta yang ada.

Kembali soal tulisan saya, setelah saya pelajari ada satu hal yang menjadi keberatan atas pandangan saya dalam tulisan tersebut. Yang oleh mereka yang ingin menjadi ‘hakim pikiran’, didakwa sebagai cacat epistemik, tidak memiliki fondasi berpikir, absurd, dan yang paling utama sebagai kegagalan kaum liberal.

Sungguh, saya tertawa membaca tuduhan-tuduhan ini. Karena bagi saya menulis, apalagi konteksnya bagi blog atau opini, adalah upaya mengemukakan pandangan personal saya atas sebuah realitas, pembaca sepakat atau tidak, bukan urusan saya! Apalagi pada soal tuduhan yang terakhir, label kaum LIBERAL yang terus disematkan, dimana saya disetarakan dengan Goenawan Mohamad (GM), amboi hebat benar saya.

Menjawab Kritik atas Tulisan saya,

Ada satu kritik besar atas pandangan saya, dalam tulisan menolak PKI ? yang oleh kalangan yang memberi saya label liberal dan mengklaim diri mereka sebagai ‘ Marxis- Leninis, atau bahkan PKI, sebagai sebuah kesalahan.

Cacian itu bermuara, pada pandangan saya yang mengakui eksistensi kehadiran PKI dimasa lalu sebagai partai yang pernah eksis dan berkontribusi bagi hadirnya negara ini, namun pada satu sisi saya seolah-olah justru ingin membangun kembali phobia atas PKI.

Terus terang, saya heran dengan pernyataan ini. Pada Paragraf mana saya menyebutkan saya phobia atas PKI? Atau bisa jadi, para hakim pikiran yang mulia, kurang paham apa yang dimaksud dengan kata phobia ? Karena dari sepengetahuan saya, dalam penjelasan ilmu psikologi, ‘phobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian,yang menyebabkan kita menjauhi kejadian atau benda tersebut’.

Jika saya membangun phobia atas PKI, tentu saya tidak akan menghadirkan sejumlah fakta tentang peran PKI dan mencoba melihat secara proporsional, bahwa PKI sebagai sebuah realitas politik yang pernah ada dan hidup di negara ini.

Saya tentu akan mengikuti logika umum yang dibangun oleh orde baru dan doktrin sebahagian kalangan islam, bahwa PKI dan komunisme itu adalah anti Tuhan, karena itu mesti ditolak. Namun, Jika yang dimaksudkan adalah paragraf akhir tulisan saya ini sebagai phobia atas PKI ;

Namun jika benar, bahwa PKI utamanya mereka yang menjadi penganut Marxisme- Leninisme, ingin kembali membangkitkan roh dan cara-cara kerja PKI, mereka harus sadar luka dan bekas masa lalu itu masih terasa. Apalagi indonesia sudah memiliki jalan demokrasinya sendiri, bentuk dan wujud negaranya sendiri yang berdiri diatas pilar pancasila, undang-undang dasar tahun 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Sesungguhnya paragraf akhir ini, bukanlah upaya membangun phobia namun sikap dan pandangan pribadi saya melihat PKI dan kalangan Marxisme- Leninis selama ini. Bagi saya, ini agak kekanak-kanakan sebenarnya untuk pamer bahan bacaan, namun biar semua jelas dimana landasan epistemologi dan basis argumentasi saya, sampai kalimat ‘membangkitkan roh dan cara-cara kerja PKI’ itu muncul?

Saya menyarankan para hakim pikiran, untuk membaca dua jilid kumpulan tulisan Aidit yang diterbitkan komisi pilihan tulisan DN Aidit CC PKI yang terbit dipertengahan tahun 1959, disitu Aidit menjelaskan bagaimana sebenarnya doktrin dan ‘cara-cara kerja PKI’ yang menurut saya, sangat mengarah pada mimpi revolusi diktator proletariat ala Lenin yang dengan tegas saya nyatakan saya TOLAK.

Jadi argumentasi saya itu,  bukan soal pemahaman dangkal tentang PKI yang katanya anti pancasila sebagaimana doktrin orba, sebodoh-bodohnya saya masih terus membaca, wahai para  tuan hakim yang mulia.

20160520_113640

(Berikut foto buku referensi saya itu, yang semoga tidak akan disita oleh aparat)

Perlu juga para hakim pikiran ketahui, penafsiran atas jalan revolusi marx juga tidak tunggal sebagaimana dakwaan dan para tuan hakim pada saya bahwa saya tidak paham apa-apa, apakah anda sudah baca pandangan Eduard Bernstein dan Karl Kaustsky, yang sangat berbeda jalan dengan tuan Lenin atau Stalin?

Selanjutnya apa maksud saya dengan ‘luka masa lalu’ ? saya sebenarnya memilih kalimat yang lebih halus agar jalan rekonsiliasi 1965 bisa terjadi. Para hakim pikiran yang mulia, juga perlu pahami dan cermati, sesungguhnya bukan hanya PKI yang menjadi korban, apakah anda ingin melupakan sejarah ketika kiyai-kiyai NU dibantai oleh PKI pada tahun 1948, atau tragedi pembantaian pelajar islam indonesia di  Kras, Kediri 1965? Serta banyak fakta lain, dimana akibat konflik politik dan ideologi, kekerasan selalu terjadi.

Itulah alasan, sekali lagi mengapa saya sebenarnya, memilih kata yang lebih lembut yang para tuan hakim tuduh sebagai phobia, niat saya demi menghindari konflik yang lebih besar, bersepakat dengan kata ‘rekonsiliasi’ 1965, artinya kita belajar adil bahwa terlalu banyak korban akibat konflik dan prasangka.

Saya tidak ingin, energi anak bangsa ini hanya habis untuk pertikaian yang menurut saya tidak perlu. Karena bagi saya, pancasila, undang-undang dasar 1945, dan NKRI adalah sesuatu yang telah disepakati menjadi rujukan bersama negara ini. Jadi  tak ada lagi phobia akan hadirnya PKI dengan negara komunis, atau mimpi Perjuangan akan negara islam .

Jika para ‘tuan hakim pikiran’, mau mengikuti jalan komunisme dan PKI, silahkan anda bersetia jalan disana, dan saya yang para tuan hakim tuduh liberal, akan hidup dengan kebebasan pikiran saya dan keyakinan saya sendiri. 

Sekian dan terima kasih, tabe

 

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Jawaban Saya, untuk Tuan Hakim Pikiran

  1. Komunis itu kafir. Itulah judul tulisan saya di Koran Amanah, halaman 4 edisi Senin, 23 Mei 2016. Bagi yang tidak setuju, bisa juga menanggapinya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s