Fomo sindrom dan Kehidupan Kita

13445377_10208692619864824_8844836555650898899_n.jpg

Sejak awal ramadhan tahun ini, saya banyak menghabiskan waktu dirumah. Sambil memperhatikan aktivitas istri saya yang juga sedang menikmati liburan panjang mengajar, berhubung aktivitas kampus, memang baru akan dimulai awal bulan Agustus nanti.

Dari apa yang saya perhatikan, selain menjalankan aktivitas keseharian layaknya ibu-ibu rumah tangga, sekaligus ibu dari seorang anak. Nampaknya aktivitas bermedia sosial juga cukup menyita waktu istri saya. Mulai dari menulis status facebook, mengikuti cuitan twitter para tokoh, artis dan politisi, sampai terus update foto diinstagram atau path.

Berdasarkan pengamatan tersebut, menurut saya, istri saya mulai terjangkiti ‘Fomo Syndrom’, alias Fear of Missing Out. Apa itu Fomo Syndrom? Istilah ini, sebenarnya pertama kali saya dengar dari seorang kawan yang mengajar mata kuliah psikologi komunikasi.

Menurut bahan referensi kawan saya tersebut, sebuah universitas di inggris telah meneliti kecenderungan psikologis para pengguna jejaring sosial. Hasilnya, banyak dari pengguna aktif jejaring sosial terjebak ketakutan berlebihan untuk tidak update, kecenderungan untuk terus memburu informasi terbaru, atau bahkan dalam tahap yang akut para pengidap syndrome ini, senantiasa diliputi kekhawatiran bila tidak mengambil bagian dari apa yang sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Setelah saya telusuri bahan jelasnya juga bisa dibaca disini;

http://psychcentral.com/news/2013/04/30/fear-of-missing-out-drives-use-of-social-media/54307.html

Fenomena ini, sebenarnya adalah gambaran dari keseharian kehidupan era digital yang kita semua sedang jalani. Bukan tidak mungkin, tidak hanya istri saya yang mulai terjangkiti virus ini, saya, atau mungkin juga anda, tanpa sadar telah menjadi pengidap dari fomo syndrome.

*** 

Hasil dari penelitian yang diketuai oleh Dr. Andrew Przybylski tersebut, juga menemukan bahwa orang-orang yang berusia 30 tahun ke bawah, terlihat mempunyai kecenderungan paling tinggi mengalami FOMO dibandingkan kelompok usia lainnya. Rasanya, penjelasan ini cukup tepat jika melihat usia istri dan juga tentu saja saya sendiri.

Karena kami adalah generasi yang lahir di era tahun 1980-1990, generasi yang kini mayoritas telah menjadi mamah muda (Mahmud) atau papah muda. Generasi ini, sering pula disebutkan sebagai generasi X dan Y, dengan kecenderungan memang dekat dengan kehidupan internet atau kehidupan digital.

Hampir semua hal, dari kehidupan saya dan istri memang bersentuhan dengan dunia digital. Mulai dari aktivitas pekerjaan yang kami lakoni, sampai kegiatan mencari resep masakan untuk berbuka puasa, pasti menggunakan internet. Keterikatan ini, membuat persentuhan kami dengan kehidupan dunia maya menjadi sangat dekat.

Bahkan semenjak kehadiran jajaring sosial, seperti facebook, twitter atau instagram, tanpa sadar menurut saya kecenderungan untuk mengikuti kehidupan orang lain lewat jejaring sosial menjadi begitu besar.

Seolah-olah tanpa melakukan stalking di jejaring sosial sejumlah teman atau selebriti, rasanya sedang makan sayur tanpa garam, yang membuat perbincangan di meja makan terasa hambar.

Padahal, dari hasil penelitian Przybylski tersebut, menyarankan agar setiap orang belajar untuk mengendalikan penggunaan media sosial, terutama mengurangi frekuensinya menjadi sedang atau biasa-biasa saja.

“Jika tidak, fenomena ini akan menciptakan aspek pedang bermata dua dari penggunaan media sosial, seperti kecenderungan untuk terus terlibat pada kehidupan orang lain bahkan dalam kadar tertentu bisa berubah untuk membandingkan antara kehidupan orang lain dan kehidupan pribadi”.

Parahnya lagi, jika kita sampai memandang kehidupan orang lain sebagai kehidupan yang diliputi kebahagiaan dan kehidupan yang kita jalani sangat tidak menyenangkan. 

Takhayul Kehidupan digital 

Dalam kamus besar bahasa indonesia, takhayul dijelaskan sebagai ‘khayalan’ atau kepercayaan yang tidak berdasar. Sesuatu yang tidak nyata namun dipercayai, sebagai sebuah kebenaran.

Pada masa lalu, takhayul sering dilekatkan dengan cerita ‘kesaktian para dukun, atau tempat yang dipandang keramat’, sesuatu yang identik dengan kebodohan, ketertinggalan.

Namun, pada zaman ini, menurut saya takhayulnya menjadi berbeda. Dimana setiap orang cenderung membentuk takhayul bahkan mitosnya sendiri lewat jejaring sosial. Seperti, menampilkan berbagai kesan tentang kebahagiaan mereka, kecerdasan, bahkan kekayaan.

Padahal apa yang mereka tampilkan jauh dari keadaan sebenarnya. Takhyul dunia digital ini juga terus direproduksi oleh sejumlah situs berita, yang tidak berdasarkan pada fakta, namun lebih menonjolkan pada desas-desus untuk menarik pembaca.

Media online juga kerap, menampilkan citra dan cerita berlebihan tentang seorang tokoh politik, ataupun kehidupan pribadi para selebriti, yang seolah-olah diliputi kedigdayaan dan kesempurnaan hidup. Uniknya takhayul-takhayul itu, terus dipercayai, diikuti, bahkan dibagikan, dan berhasil memunculkan para seleberiti dunia maya, sampai ustadz media sosial.

Hasilnya, zaman ini telah banyak melahirkan generasi dengan mental followers yang mengidap Fomo Sindrom akut stadium tinggi. Atau juga, generasi nyinyir yang selalu cemburu pada potret kehidupan orang lain hanya karena sering stalking di jejaring sosial.

Namun Ibarat penyakit kanker, istri saya rasanya belum sampai pada stadium 4, mungkin baru berada di stadium 2 atau 3. Lalu, bagaimana dengan anda ?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s