Membaca Pilgub Sulsel 2018

 

pojoksulsel-logo-pilgub-sulsel-2018-asli-730x350

Pemilihan Gubernur sulawesi selatan memang baru akan berlangsung di tahun 2018. Namun, wacana calon pengganti Syahrul Yassin Limpo sudah mulai ramai dibicarakan. Sejumlah nama mulai bermunculan, seperti Nurdin Abdullah, Agus Arifin nu’mang, Ichsan yasin limpo, Akbar faisal, dan yang terbaru kemunculan Rivai Ras serta Rusdi Masse.

Membaca pemlihan Gubernur sulawesi selatan, memang tidak semudah membaca pilkada kabupaten ataupun pemilihan kepala daerah di provinsi lain di pulau sulawesi. Bagaimana tidak, sulawesi selatan adalah provinsi dengan kabupaten terbanyak yakni 24 Kabupaten/kota, dengan pemilih mencapai enam juta lebih, yang tersebar di 16.757 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Apalagi pada tahun 2018 nanti, pilgub sulsel akan berlangsung tanpa kandidat petahana. Tiga pertanyaan sederhana mulai bermunculan dibenak elit politik dan sejumlah kalangan. Pertama, siapakah yang pada akhirnya akan lolos menjadi calon dan mendapatkan dukungan partai politik ataupun lewat pemilih jalur idependen ?

Kedua, bagaimana komposisi representasi geopolitik dari setiap pasangan calon, atau dalam bahasa yang lebih sederhana, siapa kemudian berpasangan dengan siapa dan mewakil daerah mana? Ketiga, faktor apa yang akan mempengaruhi dukungan terhadap setiap pasangan calon menuju kursi gubernur sulawesi selatan mendatang ?

Berkaca pada pemilihan Gubernur sebelumnya

Calon Gubernur Sulawesi Selatan 2013-2018

Jika melihat pemilihan gubernur sulawesi selatan pada tahun 2013. Dari data IDEC menunjukan variable represetasi suara wilayah secara keseluruhan memang sangat menentukan. Paket Sayang 2 menyapu bersih 14 kabupaten, sedangkan pasangan IA mengusai sembilan kabupaten/kota, dan Garuda-Na di satu kabupaten yakni sinjai.

Sayang meraih 2.251.407 suara atau 52,42 % dari 4.294.960 suara sah. Sedangkan pasangan Ilham- Azis meraih 1.785.580 suara (41,57 %).Pasangan, Garuda-Na, hanya meraih 257.973 suara (6,01%). Dari data ini, jika dicermati nampaklah kekuatan basis politik Yasin Limpo tersebar merata dan mendominasi klaster jumlah pemilih sedang bahkan tinggi yang ada di sulawesi selatan, seperti kabupaten Gowa yang mencapai 509.002, Makassar, walau kalah pada pilgub yang lalu dari 1.005.446 masih bisa merebut 285.418 suara, hanya selisih beberapa persen, dari suara Ilham dan menang di daerah sedang lainya seperti wajo yang memiliki suara pemilih sebesar 320.868 suara.

Sederhanaya, kata kunci kemenangan pasangan sayang 2 adalah representasi wilayah dan polarisasi suara yang merata disemua kabupaten menjadi penentu utama kemenangan. Sedangkan Ilham-Azis walau menang di daerah dengan pemilih besar seperti Makassar, Bone, maupun Maros, namun dengan proporsi tidak dominan di kabupaten lainya akan mengalami kesulitan untuk mendulang kemenangan.

Maka pada pilgub sulsel mendatang, setiap calon hendaknya tidak hanya mengacu pada basis suara besar, karena bisa jadi ketika ada kandidat yang mampu memperoleh suara merata dan signifikan di wilayah pemilih sedang atau kecil disetiap kabupaten, justru yang akan tampil menjadi pemenang.

Data dan fakta politik ini, sebenarnya membantah representasi geopolitik yang mayoritas di identikan dengan faktor polarisasi besar di sulawesi selatan, seperti pembagian poros Bosowa (bone-sopeng-wajo), Jentago, (jeneponto, takalar gowa) atau luwu raya maupun toraja, karena faktanya konsolidasi geopolitik dalam unit berbasis kesamaan wilayah dan etnis tidak terjadi.

Kerja Keras, dan Kerja Cerdas setiap Calon

Partai politik sebagai kenderaan dan prasyarat bagi pencalonan yang juga bisa ditempuh dengan menggunakan jalur idependen, dukungannya akan sangat bergantung pada posisi elektabilitas dan popularitas setiap calon. Untuk itu, waktu setahun apalagi semalam, tidaklah cukup bagi setiap calon dalam konteks pilgub sulsel untuk bisa mendapatkan elektabilitas yang signifikan ataupun dukungan lewat jalur independen.

Waktu sosialisasi yang harus panjang, kesiapan pendanaan, dukungan media cetak maupun online, sampai pada kemampuan membangun struktur pemenangan ataupun jaringan relawan adalah faktor kunci yang harus diperhatikan oleh setiap calon. Memainkan wacana pada perang udara lewat media dan iklan politik, adalah hal yang penting, namun faktor perang darat dalam bentuk sosialisasi langsung dan pembentukan jaringan relawan justru sangat pentingnya.

Apalagi, daya jangkau atas konsumsi media, baik cetak maupun online tidak merata pada setiap wilayah, menjadikan sterategi udara tidak bisa dijadikan satu-satunya sarana menaikan elektabilitas setiap calon. Untuk itu, para calon gubernur memang harus bergerak dari sekarang jika ingin mendapatkan dukungan signifikan.

Pemilihan gubernur sulawesi selatan memang membutuhkan konsentrasi dan aksi lapangan yang tidak sekedar berbasis pada sterategi Pull Marketing yang berharap pemilih akan medatangi kandidat karena faktor popularitas semata, namun pemilihan gubernur sulawesi selatan membutuhkan sterategi Push Marketing dimana setiap calon harus memiliki persentuhan langsung kepada pemilih, jaringan posko pemenangan, dan sosialisasi yang terus menerus di banyak titik menjadi kata kunci dalam mendulang dukungan.

Karena memang pemilihan gubernur sulawesi selatan memiliki kerumitannya sendiri, Pilgub sulsel membutuhkan stamina dan nafas yang panjang, serta tentu saja daya tahan setiap calon dalam melakukan kerja-kerja politik secara terus menerus dalam melakukan sosialisasi diri dan program mereka kepada pemilih. Karena memang ini pemilihan gubernur sulawesi selatan, bukan pilkada Jakarta!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s