Penulis dan Karyanya,

penulis-buku

Beberapa tahun silam, saya teringat sebuah diskusi di-salihara yang entah tema dan judulnya apa, saya sudah lupa. Namun yang saya tidak bisa lupa, ketika itu, Goenawan Mohamad tampil menjadi pembicara dan mantan pemimpin redaksi majalah tempo itu, kurang lebih bicara begini ; “Seorang pencipta tidak pernah berteori akan ciptaanya, para penikmatlah yang akhirnya menteorikan karyanya”.

Jauh sebelum itu, saya juga pernah membaca salah satu esai karya Roland Barthes, ‘The Death of The Author’.  Menurut filsuf kelahiran prancis yang terkenal dengan teori semiologinya itu, “ketika pengarang menulis karyanya, maka sebenarnya dia (pengarang) telah mati. Dia terpisah dari teksnya. Teks tersebut sekarang sudah bukan miliknya lagi”.

Demikianlah nasib sebuah karya, awalnya menjadi milik pribadi yang hanya ada dalam alam gagasan personal seorang penulis, kemudian akhirnya menjadi milik banyak orang. Lalu ditafsirkan, diperdebatkan, dihakimi, bernasib dipuja atau dihina. Karena demikianlah takdir para pencipta dan karyanya.

***

Karena itu, bagi saya, seorang penulis dan karyanya ketika dikritik, bahkan dicaci maki oleh pembaca, itu hal biasa saja. Karena tidak pernah ada sebuah karya yang sempurna, yang lahir dari alam pikiran seorang manusia biasa, yang kemudian diberi label oleh orang lain sebagai penulis.

Berbagai keterbatasan, pasti terjadi dalam sebuah peroses mencipta sebuah karya. Bukankah, setiap orang tumbuh dalam lingkungan, bacaan, dan kehidupan yang berbeda?

Soalnya menjadi runyam, ketika para penafsir ataupun mereka yang memposisikan diri sebagai kritikus, memaksakan sebuah karya sesuai dengan alam berpikir mereka. Orang-orang seperti ini, adalah orang-orang yang amnesia, bahwa dirinya bukanlah si penulis dan penulis bukan dirinya.

Parahnya lagi, dengan semakin menjamurnya media sosial dan beragamnya arena virtual, banyak orang yang seolah-olah ingin tampil menjadi manusia sempurna. Mereka menghujani sebuah karya dengan amarah dan umpatan hanya lewat barisan kata-kata status facebook atau twitter, yang sungguh terbatas , seolah-olah mereka telah mencipta ratusan karya.

Padahal mudah saja, jika mereka tidak sepakat dengan sebuah karya silahkan menuliskan atau bahkan menerbitkan karya sendiri. Kalaupun mereka ingin mendebati sebuah karya, kritiklah pada teks dan kelemahan gagasan dari karya itu.

Untuk orang-orang seperti ini, saya biasanya memilih mengabaikanya, apalagi ketika yang mereka bicarakan adalah soal personal dari kehidupan saya. Saya lebih memilih menghapuskan mereka dalam alam ingatan dan jejak-jejak yang bisa membawa saya pada pertemuan atau perkenalan dengan mereka.

Karena bagi saya, menulis adalah hal yang bersifat personal, lahir dari alam kebatinan yang dirasakan secara subjektif oleh diri sendiri. Bukan jejeran barisan tentara baret merah yang hanya tau kata patuh, dan siap.  Bukan pula pula-teks-teks penuh doktrin revolusi, atau layaknya ayat-ayat kitab suci.

***

Baru-baru ini, saya membaca sebuah blog yang dengan penuh nada provokatif menghina sejumlah buku. Termasuk sebuah buku kumpulan puisi, seorang kawan yang cukup saya kenal.

Dari apa yang saya baca, nampaknya penulis itu cemburu pada pencapaian kawan tersebut yang sedang naik daun, dan karyanya mendapat tempat dari sebuah film yang paling laris manis tahun ini. Lucunya lagi, dari judul tulisannya, sang penulis menyampaikan bahwa buku-buku tersebut tidak layak untuk dibaca.

Aneh orang-orang seperti ini, kalaupun tidak layak mengapa begitu bersemangat di hujat ? Sepertinya, sang penulis kurang belajar sejarah, buku yang dikutuk justru semakin dicari pembaca.

Lihat saja, buku Di Bawah Bendera Revolusi, karya Soekarno yang dimasa orde baru terlarang serta dikutuk, namun justru menjadi incaran banyak orang. Semakin anda mengutuk, semakin banyak orang yang penasaran mengapa karya itu dihina.

Tindakan kaum hipokrit seperti ini, adalah tindakan yang pengecut ingin tampil dengan menjatuhkan orang lain. Besar dengan meminjam nama besar, padahal jika mereka tidak sepakat akan sebuah karya, sekali lagi terbitkanlah buku yang menurut mereka berkualitas dan layak dibaca.

Apalagi, saat ini dunia semakin terbuka dan segmen penerbit juga semakin beragam. Akses untuk mempopulerkan sebuah karya, dan nama sendiri juga bisa diraih oleh setiap orang lewat jejaring sosial atau media sosial. Pertanyaanya, apakah anda seorang pencipta karya atau bukan? seorang penulis atau tidak!

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s