Idul Fitri, harusnya membahagiakan!

Hari raya idul fitri, sudah tiba. Ini adalah momen membahagiakan bagi semua umat muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia. Bagi ikhwan dan akhwat, bagi anak-anak dan orang tua, termasuk bagi para jomblo dan jomblowati

Saya Pun, selalu senang jika lebaran tiba. Alasannya sederhana, setelah berpuasa sebulan penuh, merasakan haus dan lapar disiang hari, dan yang paling utama bosan mendapatkan protes dari putra saya Ali, yang terus mempertanyakan kepada ibunya, kenapa si papa tidur terus dari pagi sampai siang selama bulan puasa.

Akhirnya, tibalah saya pada momen yang membahagiakan itu, bisa makan, ngopi sambil merokok, di sepanjang hari. Bertenaga meladeni Ali bermain, dan tentu saja kembali produktif untuk bekerja.

Namun, diantara momen kebahagiaan itu ada beberapa hal yang senantiasa mengganggu hati saya, dan mungkin juga banyak dari anda pada setiap momen lebaran tiba yang membuat perasaan galau tak menentu.

Dimana hari idul fitri, yang harusnya menjadi hari spesial untuk saling maaf-memaafkan, dan ajang untuk bersilaturahmi menghapuskan segala dosa masa lalu dan masa depan. Telah berubah menjadi ajang penyelidikan, penghakiman, sekaligus arena perlombaan untuk pamer kesuksesan dan kekayaan.

Beberapa Pertanyaan Stadar Penyelidikan,

038621600_1436866759-4Pertanyaan pertama ini, sering menyasar anggota komunitas jomblo dan jomblowati mapan yang sudah bekerja. Kelompok ini adalah kelompok yang sering menjadi sasaran empuk investigasi keluarga, dengan pertanyaan pendek namun langsung menghujam jantung, membuat mood untuk makan dan minum langsung hilang.

“Kapan nikah” ?

Inilah pertanyaan standar yang selalu abadi, yang sebenarnya sangat basi untuk ditanyakan. Apakah si penyidik tidak tau, bahwa setiap orang normal baik lelaki dan perempuan, pasti memiliki keinginan dan impian untuk menikah?

Apalagi bagi anggota klub jomblo dan jomblowati pekerja, tentu saja dalam hati mereka tersimpan kemauan besar untuk segera mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Apakah si penanya tidak percaya, bahwa jodoh, kematian, dan rezeki, adalah ketetapan Allah?

Jika mendapat jawaban seperti ini, biasanya akan muncul argumentasi baru lagi;

‘sebagai manusia kita harus berusaha’

Ya Allah, tipe penyidik seperti ini sungguh menyebalkan, tanpa perlu diberi tahu, mereka para jomblo dan jomblowati tersebut, sudah berusaha maksimal setiap hari, dari rajin mandi pagi dan sore, membeli pembersih wajah sampai pemutih, pakai parfum mewah, rela menghabiskan penghasilanya untuk mencicil pakaian mahal biar terlihat keren, atau bahkan sampai kredit motor atau mobil untuk mempercepat datang jodoh yang dinanti.

Jadi sudahlah, jangan lagi ada pertanyaan seperti ini di idul fitri kali ini, kasian para jomblo itu, hidup mereka sudah menderita.

Pertanyaan standar penyedikan kedua,  bagi para mahasiswa dan mahasiswi semester akhir.

Kapan selesai ?

Ini juga pertanyaan yang sudah sangat tertinggal untuk ditanyakan, karena sebenarnya tidak ada mahasiswa atau mahasiswi yang tidak ingin selesai kuliah.

Apalagi bagi mahasiswa semester tujuh keatas, setiap hari mereka harus bertemu dengan mata adik-adik mahasiswa atau mahasiswi baru yang penuh selidik dan tanya, kenapa seniornya masih dikampus?

Yakinlah, mereka belum selesai karena dosen pembimbing belum berbaik hati, atau sibuk mengurus dirinya sendiri. Bisa pula, standar skirpsinya yang terlampau sulit dari pembimbing.

Pokoknya ada banyak alasan mengapa mereka belum selesai. Hidup kelompok mahasiswa akhir itu sudah di penuh beban, tak perlu lagi ditambah. 

Dari penghakiman, sampai pamer kesuksesan dan kekayaan

Nah, kalau ini pengalaman pribadi saya, yang sering saya dapatkan setelah berkeluarga. Misalnya saja, ketika bersilaturahmi dengan mereka yang tergolong sebagai keluarga atau pada mereka yang lebih tua. Biasanya ada yang sering menasehati begini;

“Dek, kamu harusnya banyak-banyak bergaul dengan keluarga, kalau ada masalah bicarakan dengan keluarga, biar bagaimanapun mereka adalah keluargamu”!

Bisanya untuk nasehat seperti ini, saya masih bertoleransi dengan langsung menjawab,

Iya, benar..benar. ..sambil mengangguk,

Walau dalam hati saya berkata; waduh om dan tante sekalian, kalau harus banyak-banyak bersilaturahmi mungkin ‘iya’, tapi kalau membagi masalah dengan keluarga itu pasti bersoal, karena menurut saya setiap orang sudah punya masalah sendiri, untuk apa menambah beban orang lain.

Yang parah, jika ada mereka yang menjadi keluarga jauh, atau mereka yang sebenarnya tidak tau apa-apa bagaimana kehidupan keseharian yang saya lalui, dengan sekonyong-konyong membuat penghakiman seperti ini;

Nak, kamu itu harusnya mencontoh sepupumu yang itu, dia sudah sukses punya rumah besar, empat mobil mewah, punya anak tiga, pekerjaan enak, dan bla..bla.. serta bla..bla..pokoknya dia sudah berhasil dan bahagia dibandingkan kamu! 

Nah, kalau jenis orang seperti ini, biasanya saya cukup diam, lalu tanpa panjang lebar langsung pamit pulang.

Karena orang-orang seperti ini, adalah orang-orang yang tidak paham bahwa setiap orang punya ukuran sendiri akan kesuksesan dalam hidupnya. Punya takaran yang berbeda akan keberhasilan dan kebahagiaan.

Bagaimana mungkin, kita menerapkan standar yang berbeda bagi orang yang berbeda? Apalagi menggunakan standar kebahagiaan pada pencapian rumah dan mobil mewah, sebagai ukuran sebuah kesuksesan dan kebahagiaan.

Nah, mari jadikan lebaran sebagai ajang silaturahmi bukan gelar persidangan!

Tabe,

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s