Pave the way; Gorontalo dan Ingatan tentang Leluhur

20160717_084023.jpg

Baru-baru ini, saya kembali melakukan traveling. Kali ini, saya melakukan perjalanan darat ke utara sulawesi yakni Provinsi Gorontalo. Ini adalah perjalanan yang sudah lama saya nantikan. Ada dua alasan, mengapa saya sangat ingin melakukan penjelajahan ke provinsi hasil pemekaran pada 22 desember tahun 2000 ini.

Pertama, pertautan sejarah masa lalu keluarga ayah saya akan daerah ini. Apalagi, terakhir kali saya menginjakan kaki di provinsi ini, pada usia yang sangat kecil mungkin pada umur 6 atau 7 tahun.   Kedua, dalam lima tahun terakhir, saya bersama lembaga kami IDEC, telah melalukan pave the way sekaligus memperluas jaringan kami, hampir diseluruh sulawesi kecuali utara dan tenggara. Terakhir pada awal tahun ini, kami melakukan road trip seluruh sisi provinsi sulawesi barat.  Ini adalah momentum baik merintis jalan baru ke utara, terima kasih buat kanda kami Oskar Paudi yang telah membuka pintu baru bagi kami, untuk bisa belajar tentang kampung leluhur. 

Gorontalo dan Ingatan tentang Leluhur 

Luas provinsi Gorontalo sendiri 12.435,00 km², dengan jumlah penduduk hanya berkisar  1.097.990 jiwa. Dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk, provinsi ini jauh lebih kecil dibandingkan provinsi lain di pulau sulawesi.

Namun, provinsi gorontalo yang hanya terdiri atas 6 kabupaten ini memiliki keunggulan dibandingkan provinsi lain yang kami jelajahi yakni kondisi jalan yang mayoritas beraspal baik. Jalan antar kabupaten, kota, kecamatan sampai desa, tidak membuat saya serasa diatas kapal yang terhempas ombak, layaknya jalan-jalan di provinsi sulawesi tengah ataupun sulawesi barat.

Hal yang menonjol lainya, adalah soal geliat kebudayaan dan tradisi leluhur yang kini kembali mulai bangkit di provinsi ini. Sebelum melakukan penjelajahan ke kabupaten Gorontalo utara yang menjadi pusat destinasi kami, saya menyempatkan diri berkunjung sejenak di titik destinasi wisata religius bongo, Kecamatan Batuda’a Pantai, kab. Gorontalo.

20160717_112403

Saya cukup mengenal dengan baik, sang penggagas sekaligus pengelola taman wisata religius ini. Sosok yang menurut saya, sebagai ‘orang dengan banyak ide dikepalanya’. Namanya, Yosep Tahir Maruf, umurnya masih terbilang muda untuk menjadi pionir sebuah gerakan kebudayaan sekaligus pemberdayaan seperti yang dilakukanya.

Menata 400 hektar sebuah desa pesisir pantai, membuat event wisata tahunan Walima yang merupakan perayaan maulid yang dihadiri ribuan orang, mendirikan masjid walima emas di puncak bukit, menata kembali miniatur museum kebudayaan gorontalo dengan berbagai artefak masa lalu, mendirikan pesantren alam bagi anak-anak sekitar desa, sampai pada menggerakan sejumlah program pemberdayaan ekonomi nelayan dan wisata masyarakat pesisir, tentu bukan pekerjaan semalam.

20160717_114140.jpgBagi saya, melihat semangat dan apa yang telah dilakukan oleh Yotama mengigatkan akan sebuah pepatah lama; ‘dunia berubah, oleh mereka yang melakukan, bukan mereka yang berteori’ dan Yotama memang telah melakukan banyak hal bagi kampung leluhurnya.

Hal lain yang juga menarik dari seorang Yosep Tahir Maruf, telah berhasil menularkan berbagi pelajaran ilmu dan praktek hidup leluhur masa lalu. Dengan filosofi yang sederhana; llmu leluhur, akan mengantarkan kita pada puncak kecerdasan spritual manusia, yakni harmoni antar manusia dan alam, yang saya istilahkan sebagai ‘kecerdasaan semesta’.

Politik Gorontalo Masa lalu dan Masa Kini

IMG-20160722-WA0016

Dari pengamatan selama di provinsi ini, dengan struktur masyarakat yang mayoritas homogen dimana etnik Gorontalo hampir 90%, saya belajar satu hal bahwa perebutan kekuasaan politik gorontalo sedang mengalami benturan antara frame berpikir masa lalu dan masa kini.

Isu putra daerah yang dibangun berdasarkan hubungan pertautan etnik masa lalu, yang biasanya memang senantiasa mewarnai panggung politik kepala daerah diberbagai wilayah di indonesia, sedang berhadapan dengan kecenderungan publik yang senantiasa senang pada tampilan kekayaan, kesuksesan, serta potret hidup yang glamor dari politisinya.

Kondisi ini, adalah bandul terbalik dari tren politik indonesia yang cenderung melihat sosok kepemimpinan dalam balutan kesederhanaan. Uniknya, menurut saya kurang tepat jika dengan melihat tipologi pemilih gorontalo saat ini, langsung diidentifikasi sebagai semakin membesarnya kelompok pragmatis.

Justru kecenderungan pemilih, tidak terlalu peduli pada politik uang, yang mereka butuhkan adalah tampilan kesuksesan serta cerita dan citra bahwa sang putra daerah mereka adalah sosok yang sukses baik dikampung halaman maupun dinegeri orang.

Sesuatu yang tentu saja baru dikepala saya, dalam membaca panggung politik gorontalo dalam balutan ingatan tentang leluhur, dan kecenderungan akan glamornya kehidupan dan sosok para politisinya.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s