Mengapa Sri Mulyani?

Dahulu dia terusir, kini dia kembali sebagai tanda dan penanda, bahwa negara ini masih membutuhkan dirinya.

democentury_20141013_100713

Siapa yang tidak kenal Sri Mulyani? Sosok perempuan yang penuh kontroversi, dicaci dan dipuja. Saya masih ingat betul, bagaimana gerakan parlemen jalanan, menghajar Sri tak kenal ampun enam tahun lalu, pada masa awal duet pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono- Budiono.

Wajahnya dibuat menyerupai drakula, sebagai lambang penghisap darah rakyat indonesia. Sejumlah media televisi, tak kenal kompromi kala itu, menggelar peradilan opini, menggiring pendapat Sri Mulyani adalah sosok jahat yang telah menjual negara!

Orang-orang partai pak Presiden Jokowi, lewat DPR yang masa itu masih berstatus oposisi pemerintahan, setiap hari terus bercerita, tentang teori konspirasi jahat 6,7 triliun di balik dana talangan century yang harus dipertangung jawabkan oleh Sri Mulyani, lengkap dengan bumbu, SRI agen neoliberal.

Dari apa yang saya lihat dan ingat, Sri Mulyani lebih banyak diam dibandingkan terlibat polemik. Bahkan ketika dibutuhkan kesaksian di pengadilan, Sri Mulyani tetap datang memberikan keterangan tentang duduk perkara dibalik kebijakan dana talangan bank century, padahal dirinya telah mengungsi keluar negeri.

Mungkin, hanya kawan-kawannya dari fakultas ekonomi Universitas Indonesia (UI), yang kala itu, tak pernah berhenti menebar simpati kepadanya.Memujanya sebagai sosok ‘perempuan  yang menjadi korban politik para lelaki’.  Bahkan beberapa orang sahabatnya, sempat melakukan insiasi dengan membuat sebuah partai yang diambil dari namanya partai SRI.

Alhasil, kasus century yang dituduhkan endingnya masing menggantung sampai kini. Namun, dari perjalanan waktu, dari tempat pengungsiannya di Amerika, kita terus mendapat kabar tentang prestasi wanita, sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

maxresdefaultMengapa Sri Mulyani?

Pertanyaanya, mengapa kini mesti Sri Mulyani yang akhirnya dipilih oleh presiden Jokowidodo untuk menjadi menteri keuangan?

Padahal, jika berkaca pada masa lalu, dan tarikan fatsun politik antara Jokowi dan Sri Mulyani, rasanya titik temunya amat sulit dijelaskan. Jokowi, semenjak kampanye cenderung terus berbicara garis kebijakan dan keberpihakan ekonomi politik mikro, ‘pasar dalam arti riil’.

Sementara, Sri mulyani justru sering bergerak dan berpikir dari arah sebaliknya, lebih senang berbicara tentang ekonomi makro, kacamata pasar dalam arti yang lebih luas. Sesuatu yang jauh dari gambaran garis kebijakan dan keberpihakan bapak presiden pada masa awal pemerintahan.

163446820160727-hnl05780x390

Dalam hemat saya, mungkin ada tiga alasan mengapa akhirnya Jokowi mngambil langkah berani dengan mengajak Sri Mulyani kembali ke tanah air. Pertama, Jokowi akhirnya sadar bahwa mengelola keuangan negara dalam arena ekonomi politik internasional, indonesia tetap membutuhkan sosok yang ‘terpercaya oleh pasar yang blur itu’.

Masuknya, Sri mulyani kedalam kabinet kerja Jokowi-JK, oleh bapak presiden berkeyakinan citra tim ekonomi indonesia dimata internasional akan kembali menanjak. Sesuatu yang selama ini memang terasa kurang dari menteri sebelumnya.

Kedua, kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty), yang kini dideklarasikan oleh bapak presiden, memang harus disertai oleh sosok yang terpercaya. Dan sulit menemukan sosok lain selain Sri Mulyani, yang bisa membuat para pemilik modal untuk jujur, dan mau memberikan uang tebusan, guna menopang kebijakan pembangunan infrastruktur yang ingin terus dikerjakan oleh Presiden.

Presiden Jokowi sadar, menggejot pembangunan infrastruktur memang memiliki konsekuensi, karena menggantungkannya pada APBN yang terbatas dengan jumlah yang hanya berkisar Rp2.095 triliun, sementera total penerimaan negara baru berkisar Rp1.822 triliun adalah masalah besar.

Mustahil, untuk mewujudkan mimpi besar pembangunan infrastruktur presiden Jokowi, yang menyerupai program New Deal ke- II, ala Presiden Amerika Franklin Delano Roosevelt dengan APBN saat ini.

Ketiga, bisa jadi tuduhan sebagian kalangan bahwa Jokowi sedang memanfaatkan Sri Mulyani beserta jaringan internasional yang dimilikinya, untuk mendapatkan dukungan modal baru bagi indonesia adalah benar, sekaligus ini memberikan sinyal kepada tiongkok tentang politik ekonomi indonesia tidaklah hanya bergantung pada satu poros.

***

Saya sekali lagi, mesti mengakui kecerdasan langkah kebijakan ekonomi politik presiden Jokowi kali ini. Lewat penunjukan Sri Mulyani, Jokowi menunjukan independensi sikap dan kebijakan politiknya, sebagai presiden yang tidak bisa didikte oleh siapapun.

Sikap Jokowi dengan menjadikan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, sudah pasti mengejutkan dan membuat tanda tanya sejumlah pihak, bahkan bisa jadi sangat memukul para pendukung, kader, termasuk ketua umum partainya sendiri, mengapa Sri Mulyani?

Iklan

2 tanggapan untuk “Mengapa Sri Mulyani?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s