Guntur Romli dan Ahokers KePEDEan

UntitledAkhirnya saya tidak bisa menahan diri, untuk ikut pula berkomentar atas kesombongan para Ahokers dan simpatisan fanatiknya. Seperti cuitan Guntur Romli diatas, yang seolah-olah ingin berkata; Pilkada DKI, menjadi ramai dibicarakan karena faktor Ahok semata.

Apalagi, saya pernah membaca, beberapa cuitan dari pendukung Ahok radikal yang dengan jumawa menuliskan; orang diluar Jakarta, tak perlu bicara soal pilkada DKI. Sepertinya, ibu kota hanya milik kelompok mereka sendiri dan mereka yang ber-KTP diluar Jakarta, tidak memiliki relasi keluarga atau perkawanan di ibu kota negara.

Karena itu, lebih baik diam!

Begitulah kira-kira pesan penting yang digiring Guntur Romli dan kawan-kawan,

Saya bukanlah haters pembenci Ahok, pada banyak sisi harus diakui, wajah Jakarta berubah semenjak mantan Bupati Belitung timur itu naik takhta di DKI satu. Sebagai warga nomaden di tiga kota, Jakarta, Makassar dan Palu, saya mesti mengakui pula beberapa kinerja ahok sungguh luar biasa, dari mengatasi banjir Jakarta, sampai kebijakan dibidang transportasi massal.

Namun, bukan berarti dengan prestasi itu para tim suksesnya bisa berkata sesuka hati, termasuk melarang perbincangan publik yang ramai soal pilkada DKI. Karena menurut saya, ada sejumlah alasan lain mengapa Pilkada DKI menjadi ramai diperbincangkan bahkan diperdebatkan oleh orang-orang luar Jakarta, bukan karena faktor Ahok semata seperti keyakinan Guntur Romli dan kawan-kawannya.

Pertama, segala keputusan penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak di negeri ini ‘selalu harus, dari, dan lewat Jakarta’. Layaknya single parent, ibu kota adalah sandaran segala keputusan bisnis, politik, pemerintahan. Dari izin tambang di papua, sampai nasib pembangunan gedung-gedung sekolah di pedalaman pulau Kalimantan ‘dibuat mesti berhubungan bapak/ibu di jakarta’.

Kebijakan negara, yang menempatkan Jakarta tempat segala keputusan diputuskan, menjadikan perbincangan tentang siapa yang menjadi gubernur Jakarta akan menjadi begitu penting.

Mengapa?

Karena orang-orang daerah yang senantiasa dipaksa harus berhubungan dengan Jakarta itu, ikut pula merasakan macetnya ibu kota, atau betapa semrawutnya tata kota wajah terdepan negara.

Jadi, poin yang ingin saya sampaikan tidak bijak berpikir urusan gubernur Jakarta hanyalah urusan pemegang ktp Jakarta saja.

Kedua, secara politis wajar kalau mereka diluar ibu kota ikut pula bersorak dan bersikap soal siapa layak jadi pemimpin ibukota. Karena Jakarta adalah miniatur perkumpulan keragaman dari indonesia, wajah dari berbagai relasi suku, agama, dan bahasa.

Membangun tembok urusan politik Jakarta, hanya diputuskan oleh mereka yang menjadi pemilih Jakarta, amatlah dangkal menurut saya.

Mengapa?

Seperti yang telah saya sebutkan diatas. faktor relasional luar Jakarta lewat jejaring kesamaan etnik, suku, keluarga, dan pertemanan bisa jadi akan sangat menentukan keterpilihan Ahok pada pilkada nanti.

Bisa dibayangkan, jika misalnya ramai-ramai tokoh organisasi daerah yang tinggal di luar jakarta, seperti perhimpunan keluarga jawa timur, kerukunan keluarga sulawesi selatan, perhimpunan pemuda ambon, persatuan keluarga Kalimantan, dan sejumlah tokoh daerah lain yang memiliki jejaring atas warganya di Jakarta, tersingung atas kata-kata Guntur romli dan kawan-kawan, kemudian memobilisasi keluarga dan teman mereka yang berada dijakarta untuk menolak Ahok?

Bisa ramai urusannya, bukan menambah suara bagi Ahok justru gerakan Ahokers menjadi ajang mengurangi simpati dan suara pemilih

Ketiga, jakarta adalah salah satu daerah yang sangat menikmati rente kekayaan orang-orang daerah. Cobalah ke-Tanah Abang, siapa yang paling banyak berbelanja disana dan uang dari mana yang berputar? Saya yakin uang dari luar Jakarta porsinya lebih besar dibandingkan orang Jakarta sendiri.

Tengok pula, pembagian hasil pajak kekayaan alam, fasilitas dana perimbangan keuangan daerah yang dipakai membangun infrastrukur dari jalan, jembatan, sampai MRT di ibu Jakarta, pasti memiliki relasi dengan hasil pajak emas papua, atau minyak dari kota balik papan.

Karena itu, adalah kebodohan jika tim sukses Ahok membangun resistensi atas perbincangan publik yang ramai soal pilkada DKI, utamanya atas mereka yang berada diluar Jakarta, karena memang Jakarta adalah milik semua orang di negara ini.

Apalagi dengan status kekhususan yang melekat pada diri Jakarta, membuat kewenangan seorang Gubernur Jakarta lebih besar dibandingkan kepala daerah lain, karena itulah menurut saya, sekali lagi wajar saja pilkada DKI ramai menjadi sorotan dari berbagai daerah.

Apalagi Jakarta, ikut pula menikmati berbagai hasil kekayaan tanah indonesia. Untuk itu Guntur Romli dan Ahokers jangan KePDean melihat kehebohan soal pilkada DKI hanya soal Ahok semata, semuanya karena Jakarta ibu kota negara!

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Guntur Romli dan Ahokers KePEDEan

  1. kami yg diluar jakarta dilarang komentari pilkada dki? lah orang luar kaya’ ahok aja bisa nyalon bahkan jadi gub skrg, masa kami hanya sebatas komentar sj dilarang?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s