Hari itu, Lalu hari ini

o

Hari itu, sekitar bilangan tahun 2003 atau 2004 saya tak lagi ingat persis. Bertempat di Gedung Pertemuan Ilmiah (GPI) Unhas, sebagai perwakilan dari salah satu lembaga gerakan ekstra kampus, saya duduk berdiskusi dengan sejumlah ketua organisasi dari berbagai gerakan kemahasiswaan, ada Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND), Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) baik Dipo maupun MPO, serta Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Judul diskusi itu masih saya ingat jelas, karena berbicara tema yang tidak biasa. ‘Quo vadis aktivis gerakan mahasiswa’, atau dalam terjemahan secara sederhana,

‘kemana kau pergi, wahai aktivis gerakan’?

Dan bagian utama yang membuat saya sampai tak bisa melupakan diskusi hari itu, karena ditengah acara, ketika giliran saya berbicara, salah seorang peserta diskusi yang menurut saya jauh lebih senior mendatangi meja saya, lalu dengan jari telunjuk menunjuk wajah saya lalu berkata;

Eh kamu, kau boleh berusaha menjauh dari lumpur politik praktis, tapi pada masanya nanti akhirnya kamu akan masuk kesana”!

***

2016-08-15 00.09.46 (1)

Hari ini, 14 agustus 2016 akhirnya kata-kata lelaki itu terbukti benar, dan saya terkenang kembali episode hari itu. Setelah dua belas tahun berusaha menghindar untuk tidak menceburkan diri, akhirnya apa yang pernah dikatakan Soe Hok Gie kembali bermain di kepala saya ;

Bagiku politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tetapi suatu saat di mana kita tak dapat menghindar diri lagi maka terjunlah. Kadang-kadang saat ini tiba, seperti revolusi dahulu…

Ketika akhirnya hari ini, saya masuk ke arena politik, saya juga sadar ini sebuah pilihan yang punya banyak konsekuensi bagi saya pribadi dan keluarga. Apalagi setelah sepuluh tahun selesai menempuh pendidikan sarjana yang kemudian saya lanjutkan dengan kuliah pasca sarjana dan doktoral, banyak hal yang harus saya lepaskan sebagai konsekuensi logis setelah masuk di dunia ini.

“Dek, apakah sudah siap, sudah dipikirkan matang-matang”?

Begitu tanya pimpinan saya, yang rasanya sudah seperti kakak sendiri, ketika membaca surat pengunduran diri saya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sayapun awalnya hanya menjawab pendek, sebagaimana pesan istri saya setiap saya selesai mengambil sebuah keputusan.

“Bismillah, Allah yang menggerakan hati untuk menjalani setiap perjalanan yang akan kita lalui, dan Dia pula yang akan menjamin kehidupan setiap makhluknya”,

“Tapi dek”…,

Belum selesai beliau melanjutkan kata-katanya, yang arahnya bisa saya tebak, sayapun memilih kembali melanjutkan pembicaraan;

“Maaf kak, saya paham bahwa kita begitu menyayangkan pilihan saya ini, sebagai wujud cinta seorang kakak kepada adik, yang tidak ingin adiknya berada dalam zona ketidakpastian. Namun bagi saya, ini bukan sekedar pilihan emosional darah anak muda.

Ini soal panggilan jiwa yang selama ini terus berusaha untuk saya kubur, selama sekian tahun. Biarlah, mungkin ada yang akan mencibir saya tidak realistis dalam hidup, atau bahkan tuduhan bahwa ini adalah alasan klise, maka jika ditanyakan kembali alasannya, saya akan menjawab tegas, “saya ingin berbuat untuk daerah dimana ari-ari saya ditanam dan untuk negeri dimana saya dilahirkan”!

Dan menurut hemat saya, cara yang konstitusional, untuk melakukan perjuangan politik, adalah melalui jalur partai politik.

Tapi dek, bukankah tidak ada yang ideal dalam politik hari ini?  

Kali ini, beliau kembali coba mendebati pendapat saya,

“Kak, rasanya saya cukup paham melihat realitas politik negeri ini. Saya pelajari ilmunya di bangku kuliah, saya terlibat menggeluti dan meneliti berbagai arena politik sampai di berbagai kampung, berdiskusi dengan kita puluhan bahkan ratusan kali disetiap minggu pagi, mencoba merencanakan program untuk kebaikan orang banyak, dari desain partisipasi penuntasan kemiskinan sampai gerakan volunter kebersihan kota, namun bukankah kita semua sama-sama tau, kita adalah orang pinggir kolam, bahwa ada mereka yang menjadi pengambil keputusan, mereka yang kita sebut orang-orang politik”.

Lalu akhirnya kami sama-sama diam sejenak, dengan suara tertahan diskusi hari itu diakhiri dengan kalimat pendek dari beliau;

“Baik kalau begitu, segera saya teruskan surat ini, dan saya berikan pesan untuk diproses”

***

Hari ini, akhirnya saya sadar arti pesan Sutan Sjahrir bahwa “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan”! Biarlah ini menjadi pertaruhan akan keyakinan, gagasan, dan cita-cita saya selama ini. Soal apakah akan menang atau kalah, waktu yang akan menjawab.

Sekali lagi, seperti pesan penyair rendra yang sering saya kutip; karena perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s