Raja

raja

Ini sudah abad ke- 21, ketika kekuasaan tidak lagi bertakhta monolitik dalam genggaman tangan para raja. Sekarang, kita tidak sedang berada pada zaman pangeran purbaya, atau yang lebih dikenal sebagai Jaka Umbaran dari abad ke-16, yang pergi ke mataram hanya untuk mendapat pengakuan dari ayahnya, lalu akhirnya memiliki gelar sebagai raja.

Zaman sudah melesat begitu jauh, melampaui imajinasi purba akan kekuasaan itu sendiri. Karena itulah, Michel Foucault yang sudah mangkat di tahun 1984 berbicara; ‘kekuasaan ada di mana-mana’. ‘Dimana ada relasi, di sana ada kekuasaan’, begitu kata filsuf prancis itu.

Sebab, bagi Foucault dan sejumlah pengikut post-strukturalisme, pikiran dan keributan soal legitimasi negara apalagi kerajaan, layaknya kisah dongeng nenek sihir yang hanya cocok untuk menakuti anak-anak.

Karena negara apalagi raja dan kerajaan, hanyalah bentuk mitologi pengetahuan atas kebenaran masa lalu, yang sengaja diciptakan kuasanya secara metafisis, struktural, bahkan dengan jalan kekerasaan, sebagai alat ‘mewujudkan kepatuhan’!

Pertanyaanya, adakah kerajaan bahkan negara hari ini, punya kuasa dalam mewujudkan kepatuhan dihati dan pikiran rakyat, ditengah kekuasaan yang tersebar dimana-mana dalam wujud yang multipolar (memiliki lebih dari satu bentuk) ?

Ahok, dan gambaran kemarahannya mungkin adalah fenomena yang paling sesuai untuk melihat wujud kuasa legitimasi tradisional negara coba dipertahankan, dalam usaha menciptakan kepatuhan di tengah rakyat.

Cara-cara yang dipakai Ahok, lewat telunjuknya sebagai gubernur, yang memerintahkan penggusuran tanah abang, penyingkiran warga luar batang, adalah ‘pertunjukan legitimasi’ sebagai pemerintah yang memiliki kuasa kekerasaan atas nama negara.

Pada wajah yang berbeda, Mario Teguh dan Aa Gatot Brajamusti, juga punya legitimasi kekuasaan dalam wujud berbeda dengan Ahok.

Lewat industri nasehat yang dijalankannya, Mario berhasil membuat ribuan bahkan mungkin jutaan rakyat negara ini, senantiasa patuh dan setia, menantikan penampilan dan nasehat-nasehatnya dari layar kaca atau mengikuti cuitan-cuitan pesannya di jejaring sosial.

Mario memang tidak memiliki kuasa kekerasaan atas orang lain, layaknya legitimasi seorang gubernur atau presiden, namun sebagai motivator nomor satu di negara ini, dengan bayaran sampai ratusan juta dalam setiap episode, melalui ‘salam super’, Mario telah membuktikan bahwa dirinya adalah raja dihati jutaan orang di negeri ini.

Nasehat-nasehatnya, ibarat titah kehidupan, yang walau kadang tidak mudah dimengerti, namun coba terus dipahami sebagai sebuah petunjuk kebenaran untuk menjalani kehidupan.

Demikian pula Aa Gatot dan padepokan brajamusti yang dipandang memiliki kedigdayaan dan kesaktian bersama para jin-jin peliharaannya, juga memiliki relasi kuasa untuk membuat legitimasi dirinya, yang menjadikan sejumlah artis menjadi patuh dan taat, hingga percaya dan begitu bodohnya mengakui tentang Asmat (asap nikmat) sebagai makanan jin, yang kini ternyata diduga shabu-shabu.

Lantas masih pentingkah legitimasi soal gelar raja saat ini? Ketika kekuasaan tersebar dimana-mana, ada pada banyak arena, bentuk, ruang dan orang?

Saya pikir, lebih penting mengikuti goncangan legitimasi kerajaan industri nasehat dari motivator Mario teguh yang kini sedang digoyang oleh keluarganya sendiri, atau mengapa mantan murid-murid Aa Gatot mulai menyerang balik sang guru?

Karena dari sana, kita sedang melihat dan belajar bagaimana legitimasi kepatuhan dan kekuasaan moderen sedang dipertarungkan, digugat bahkan diperebutkan. Dibandingkan memperdebatkan dan berdiskusi soal perebutan takhta kerajaan, yang menurut saya maaf,‘tidak lebih dari sekedar perebutan kepemilikan atas museum dan barang antik’.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s