Tuhan

DIA disebutkan dengan berbagai nama. Dicari lewat beragam cara, dari forum seminar ilmiah kaum kosmologi, hasil renungan para filsuf, sampai tarian cinta sang mursyid mistikus. Dikaji dalam penggajian para ahli kitab di masjid, gereja, wihara, pura, sinagoga, sampai kelenteng.

Pada banyak waktu dan tempat, diriNya diteriakan dengan penuh amarah membara untuk membunuh sesama manusia dengan dalih ‘perang suci’. Pada lain tempat, DIA hadir penuh kasih sayang di yayasan yang menampung para yatim piatu atau pusat bantuan bagi orang –orang tidak mampu.

Dalam cerita yang sedikit konyol, namaNya dipinjam oleh  Dimas Kanjeng Taat Pribadi untuk unjuk kesaktian menggandakan uang, atau Aa Gatot untuk melayani birahi libido seksnya yang tinggi.

Tak jarang pula, diriNya direndahkan  sekedar sebagai pelengkap strategi marketing bagi para ustadz penjual madu, atau kampanye politik calon kepala daerah untuk dipilih jadi gubernur, bupati, atau walikota.

Ayat-ayatnya sering dijadikan doa-doa, dikutip sebagai jimat penglaris, karomah agar barang dagangan menjadi laku, atau dibaca sebagai mantra sakti para jawara untuk ilmu kebal dari senjata.

DIA, juga pernah diproklamasikan telah dibunuh oleh Nitzche pada tahun 1882 dengan nada yang provokatif; Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya!

Namun, ternyata Nitzche salah karena DIA tak juga mati sampai di abad ini, DIA tetap hidup dan terus dibicarakan serta tentu saja tetap dicari oleh jutaan umat manusia. Bahkan oleh Altizer yang mengutip William Blake pengikut Nietzsche sendiri, justru ikut menghidupkan kembali lewat argumen ‘imanensi’ akan eksistensi kehadiran diriNya dimuka bumi sambil berseru; Tuhan telah mati, tapi ruh sucinya tetap ada bersama dunia!

Lantas siapakah gerangan DIA yang sesungguhnya? DiriNya yang dikenali dalam konsep yang berbeda-beda, didekati dengan jalan yang tak pernah serupa. Dipuja layaknya raja dengan budaknya, penjual dan pembeli, pencinta dan kekasih, atau sekedar teman yang selalu bersama.

Banyak yang kemudian melakukan perjalanan suci ke Mekkah, Yerusalem, sampai Bethlehem, untuk bertemu. Namun adakah DIA disana? Benarkah diriNya memiliki alamat dimuka bumi ini? Ataukah benar tempatnya di Langit, lantas mengapa para astronom belum menemukannya?

Sebahagian orang kemudian lelah membicarakannya, lalu berujar DIA hanya fantasi kaum beragama yang tanpa nalar. Namun mereka sendiri sepertinya lupa, nalar selalu mensyaratkan logika yang bisa diterima, dimana setiap keberadaan senantiasa punya sebab dan karena sebab itu DIA lalu dipercaya.

Lantas sekali lagi, siapakah DIA?

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s