Iski, mau kemana ?

(Sebuah catatan kecil menyambut hari komunikasi nasional) 

tatap-muka.png

Ini zaman ketika informasi sedang tumpah ruah. Tidak ada lagi batas, apalagi jarak. Kanal media saling campur baur, membentuk dan dibentuk, lagi dan lagi. Padahal, ketika kuliah jurnalistik, saya diajarkan tentang sekat pembatas jenis media, mengikuti tahapan evolusi sejarah teknologi, dari cetak, audio, visual, audio visual, lalu digital.

Dijelaskan pula, semua perubahan evolusi itu, membutuhkan rentang waktu dari satu masa ke masa yang lain.Seperti  romantisme antara media dan khalayak nya. Dimana pada suatu waktu  seorang wartawan media cetak dipuja layaknya nabi dengan misi suci, atau masa ketika penyiar radio wanita menjadi idola, karena suaranya menjadi sumber fantasi para pria pendengarnya.

Kini, evolusi media tidak lagi berlangsung linear apalagi meninggalkan jejak romantis seperti zaman sebelumnya. Dalam bahasa saya, media, pengguna dan pelaku media, tidak lagi ‘punya waktu untuk menjadi’.

Evolusi media terjadi setiap hari, anak-anak muda gerombolan penghasil aplikasi terus melebur berbagai fitur, mencampur berbagai jenis media, dan membuat kita bisa menjadi konsumen atau sekaligus produsen, sampai kita sendiri tidak tau mungkin sedang babak belur.

Beruntung ada Roger Fidler, yang bisa menamai era media kita sebagai era mediamorfosis. Yang dijelaskannya dengan sangat baik, yaitu ketika media menjadi sebuah system yang saling terkait dan terhubung, dengan tiga ciri utama; Koevolusi, Konvergensi, dan Kompleksitas.

Dunia media dan informasi kita, memang sedang mengarah pada situasi sesuai penjelasan Fidler tersebut, dimana bahasa baru terbentuk yang kemudian dikenal sebagai ‘bahasa digital’. Bahasa ini tidak hadir dan dibatasi oleh identitas negara, bukan oleh suku, apalagi dasar bangsa.

Namun, bahasa digital adalah  koevolusi dengan sejumlah bahasa program komputer yang mampu mengubah ikon menjadi emoticon.

Demikian pula dengan identitas media yang tidak lagi tunggal, namun konvergen yang kelak disambut dengan istilah keren multi platform. Lihat saja sejumlah radio berubah layaknya televisi dan sejumlah televisi berubah layaknya radio.

Jangan pula tanyakan, bagaimana praktek jurnalisme berevolusi sedemikian rupa. Karena berita, bisa apa saja dan siapa saja. Tak ada lagi batas tentang what atau who, karena semua bisa jadi berita dan siapa saja bisa bernilai berita.

Tidak percaya ? Coba cari tau, siapa mukidi atau rahing yang kini terkenal itu.

Demikian pula, soal teori jurnalistik tentang proximity yang sudah tertinggal sedemikian jauh, karena dunia telah menjadi borderless seperti yang diceritakan oleh Marshall McLuhan sebagai global village yang mengantarkan posisioning demografi berita dan pembaca menjadi kabur.

Sekarang mari tengok, para lulusan kelas Public Relation (PR), yang juga sedang kebingungan mencari jati diri tentang siapa mereka yang sebenarnya? Doktrin seorang Public Relation adalah jembatan komunikasi, mungkin hanya mimpi indah semasa dikampus.

Karena di dunia nyata, mereka telah berubah layaknya seorang sales marketing yang tugas utamanya memasarkan produk perusahaan yang penampakannya, tidak jauh beda dengan seorang sales promotion girl.

Nasib yang lebih parah, bagi lulusan PR yang bekerja di instansi pemerintahan yang kemudian dikenal sebagai ‘bagian humas’. Oleh para atasannya, tugas mereka menjadi lebih sederhana, mengambil gambar pejabat ketika bepergian, mengatur tempat duduk, atau sesekali menjadi pembawa acara (MC).

Pada arena politik, semakin banyak lulusan sarjana komunikasi yang belajar tentang komunikasi politik, rasanya dari hari-kehari kualitas komunikasi politik para anggota parlemen, kepala daerah, maupun pejabat politik , semakin jauh dari ‘lebih baik’. Apa yang mereka bicarakan lebih merupakan pertunjukan retorika kosong tanpa isi, yang miskin dari pathos dan logos.

Lantas, dimanakah posisi seorang sarjana komunikasi kini? Ketika arena komunikasi terjadi chaos dimana-mana. Dunia yang menjadi penanda identitas diri kita, menjadi begitu borderless, bahkan tanpa bentuk?

Mungkin, pertemuan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) di makassar bisa menjawabnya, kita hendak kemana?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s