Donald Trump, Ahok dan Kuasa Politik Identitas

 

U.S. President elect Donald Trump speaks at election night rally in Manhattan

Tiba-tiba jagat media sosial ramai, pasca terpilihnya Donal Trump (DT) sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat. Dalam konteks indonesia, kemenangan Trump yang identik sebagai sosok rasis, anti imigran, serta memiliki kecenderung islamophobia, langsung dihubungkan dengan teori konspirasi global, apalagi kalau bukan kasus Ahok dalam pilkada DKI.

Kawan saya, seorang aktivis pejuang khilafah langsung menyebar komentar di media sosial; ‘lihat demokrasi memang sistim kafir, buatan kaum yahudi yang membenci islam. Kemenangan Trump adalah buktinya, jangan sampai indonesia dan jakarta dikuasai oleh mereka, sudah waktunya tegakkan khilafah islamiyah ganti sistim kafir milik zionis’.

Seperti biasa, reaksi saya hanya tertawa membaca status kawan saya itu. Pertama, rasanya aneh jika mengaitkan demokrasi buatan kaum yahudi. Karena demokrasi itu dari semua buku pelajaran dituliskan, lahir dari yunani bukan di israel kampung abang-abang yahudi itu.

Kedua, demokrasi menurut hemat saya tidak berhubungan dengan urusan agama, karena demokrasi berurusan dengan bentuk pemerintahan, kesetaraan, dan tentu saja kebebasan dan kekuasaan warga negara. Kalau mau dihubungkan, memang bisa, utamanya bagi mereka yang masih memimpikan lahirnya negara islam dan berkuasanya khilafah islamiyah internasional.

Ketiga, sepertinya kawan saya itu lupa dalam tafsir sebahagian ulama yang pernah saya dengar, memilih pemimpin perempuan itu tidak boleh. Nah, bagaimana ini urusanya kalau Hillary juga terpilih, pasti bertentangan juga dengan pandangannya?

Menguatnya Politik Identitas

Kembali soal kemenangan Trump pada pilpres amerika. Apa yang terjadi sebenarnya?Mengapa masyarakat amerika yang katanya rasional dan terkenal dengan the dream of america yang oleh James Truslow Adams pada tahun 1931, dijelaskan sebagai ‘cita-cita mewujudkan kehidupan semua orang harus lebih baik, kaya, berdasarkan kemampuan dan prestasi tanpa mengenal kelas sosial dan kondisi lahir’, seolah terbalik dengan semangat kampanye dan sosok pribadi presiden Trump?

Kalau pendapat saya yang sok ilmiah. Sekali lagi, ini pendapat saya yang bisa jadi salah, karena kebenaran sejati hanyalah milik Allah, bukan milik Hizbuttahrir apalagi FPI. Ada beberapa hal yang bisa dijelaskan mengapa Trump bisa mengalahkan Hillary Clinton.

Pertama, kemenangan Trump adalah bukti bahwa memang politik identitas masih hidup dalam alam pikir mayoritas warga dunia. Sekalipun di negara seperti Amerika. Samuel Huntington, sudah meramalkan hal ini sejak jauh-jauh hari.

Kata Huntington, jika politik global akan ditandai oleh   kebangkitan politics of civilization, maka politik domestik akan memunculkan apa yang disebutnya  kebangkitan politics of ethnicity.

Huntington, menekankan bahwa kebangkitan politik identitas akan sangat dirasakan oleh ‘negara yang terdiri dari keragaman bangsa’ dimana perbedaan etnis dan ras, akan menjadi sumber konflik baru dalam tubuh negara. Pada titik inilah, kasus Pilpres Amerika dan pilkada jakarta menemukan titik persinggungan.

Politik identitas dalam penjelasan yang sederhana, ‘yakni pengorganisasian identitas baik ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, sebagai sarana politik untuk mobilisasi dukungan politik. Atau yang lebih parah lagi, adalah upaya untuk memisahkan siapa yang diajak dan siapa yang ditolak”.

Bang DT, berhasil membuat situasi di mana pendukung supremasi kulit putih menemukan momentumnya untuk bangkit. Setelah sepuluh tahun rezim obama yang ‘kita sudah tau sendiri warnanya apa’ berkuasa.

Trump, berhasil melakukan mobilisasi pendukung sumpermasi kulit putih yang masih banyak itu. Sekaligus mengingatkan mereka pada gaya George Wallace seorang pendukung pemisahan ras yang dahulu mencalonkan diri sebagai presiden Amerika di tahun 1968.

Lewat slogan ‘Amerika (Kulit) Putih Kembali’, akhirnya pengentalan dukungan pemilih kulit putih untuk Trump terjadi.

Kedua, Hillary yang dipandang bagian dari rezim mas obama dan  partai demokrat, dengan sejumlah program unggulanya seperti obama care dianggap tidak mampu berbuat banyak bagi kemajuan ekonomi amerika. Apalagi, menurut sejumlah riset pemilih amerika mulai lelah dengan gaya flamboyan kalangan partai demokrat.

Celakanya, siklus sepuluh tahun ini, bertemu dengan diferensiasi personal sosok Trump yang pengusaha tulen dan Hillary yang lebih menonjol sebagai politisi. Dari banyak analisis survei, baik electoral college (pemilih) maupun popular vote warga amerika, jenuh dengan gaya komunikasi para politisi yang menurut mereka suka berkata tidak jujur.

Berbeda dengan trump, yang lebih menonjolkan diri sebagai pedagang yang terlihat polos, apa adanya dalam melakukan komunikasi politik.

Ketiga, beban ini bertemu dengan latar belakang Hillary Clinton yang dipandang bagian dari dosa dinasti masa lalu. Baik karena sosok suaminya Bill Clinton yang terlibat banyak skandal. Ataupun, karena Hillary Clinton bagian dari rezim obama yang dalam presepsi publik amerika diyakni tidak akan menawarkan kebaruan apa-apa.

Sementara Trump sebagai pedagang, menampilkan harapan baru untuk warga amerika utamanya pada isue pembukaan lapangan kerja dan janji baru  bagi pertumbuhan ekonomi, kejayaan, dan kekayaan!

Keluar dari Kuasa politik identitas 

Setelah dua tahun lebih meneliti bagaimana politik identitas bekerja pada sistim demokrasi baik pada arena demokrasi langsung maupun perwakilan, saya meyakini bahwa tantangan terbesar dari praktek sistem demokrasi ‘di negara bangsa’ seperti indonesia maupun amerika adalah persinggungannya dengan kuasa politik identitas.

Kasus Ahok, telah menunjukan tanda-tanda tersebut.Proses pemilu yang harusnya melahirkan pemimpin yang berbasis pada kemampuan mengelola pemerintahan, dan mewujudkan kebaikan rakyat yang luas, harus berhadapan dengan mobilisasi politik identitas yang dilakukan oleh sejumlah elit politik.

Sayangnya, orang seperti Ahok justru terjebak atau menjebakan diri sendiri pada tarikan arena politik identitas. Akhirnya, Ahok justru membuat kuburanya sendiri.

Sementara Hillary, kesimpulan saya, gagal membawa rasionalitas dan elemen pragmatis untuk pemilih, sekaligus menawarkan ide kebaruan ditengah pemilih untuk menghadapi kuasa politik identitas.

Ah terlalu panjang, ujian terbuka belum juga mulai… 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Donald Trump, Ahok dan Kuasa Politik Identitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s