Psikologi Agama, dibalik Aksi Super 212

 

ratusan-ribu-massa-aksi-bela-islam-iii-di-monumen-_161202100528-335

Saya tidak tertarik, berpolemik soal benar salahnya, aksi mereka yang sudah melakukan tiga seri demonstrasi ‘bela fatwa Mui atau bela islam’ yang kembali terjadi hari ini.

Apalagi, sibuk berdebat saling tuduh menuduh soal isu permukaan yang heboh di media sosial, tentang ‘pasukan nasi bungkus’ atau ulasan teori konspirasi tentang pemain dan donatur dibalik aksi demonstrasi tersebut.

Karena menurut saya, itu terlalu melecehkan mereka yang ikut demonstrasi. Apalagi, menuduh motif mereka yang melakukan aksi sekedar mendapatkan nasi bungkus atau memburu uang transport.

Beberapa kawan saya dari luar jakarta yang kembali ikut aksi hari ini, menurut saya telah melampaui sekedar kebutuhan tersebut, mereka juga bukanlah orang-orang yang punya afiliasi politik atas partai tertentu, apalagi punya urusan dengan pemilihan gubernur jakarta.

Menuduh mereka sebagai orang-orang yang sedang merancang tindakan MAKAR juga terlampau terburu-buru, karena banyak peserta aksi yang saya kenali, adalah para pegawai negeri sipil (PNS) yang tentunya punya relasi kuasa dengan keberadaan negara.

Lantas, apakah gerangan yang menggerakan beberapa kawan saya dari bandung, lombok, makassar, palu, menempuh perjalanan jauh dari luar jakarta dengan uang sendiri, untuk ikut meramaikan aksi super 212 hari ini?

Apa yang membuat 1000 santri dari ciamis, rela berjalan kaki menuju jakarta untuk bergabung bersama demonstrasi yang bertajuk doa dan salat jumat berjamaah tersebut?

Karena rasa penasaran, kebiasaan lama sayapun kembali muncul. Satu persatu saya mulai melakukan wawancara lewat facebook ke beberapa kawan saya dari kemarin sore, menanyakan apa motif mereka bergabung ke jakarta untuk ikut aksi demonstrasi 212 hari ini.

Mereka yang saya pilih untuk diwawancarai adalah mereka yang saya kenali tidak masuk dalam pengurus partai tertentu, memiliki pekerjaan tetap dan membiayai keberangkatanya  secara pribadi, serta tentu saja bukan pemilih jakarta.

Agama dan Emosi yang menjalar

“ Tuei komiu ( Tuei ; adik/ komiu ; kamu dalam bahasa palu) so pasti tau, kalau ada orang yang bilang agamanya kitorang panipu kita harus lawan!”

Terus terang, ada rasa bergetar membaca petikan chat kalimat senior SMA saya diatas. Beliau saya ketahui, kini berprofesi sebagai seorang arsitek dan saya sering menjumpainya di beberapa kantor dinas pemerintahan.

Logikanya cukup sederhana, ‘Ahok menurutnya telah menuduh agama islam sebagai penipu karena itu kita harus membela sebagai seorang muslim’.

Ketika saya coba mendebati pendapatnya, bahwa Ahok menurut saya tidak menyebut agama islam sebagai pembohong, tapi mereka yang menggunakan surat al maidah sebagai jualan politik?

Dengan sedikit emosional beliau membalas, ‘memangnya dia (ahok) itu paham Al-quran, apakah dia percaya Al-quran? Kalau tidak percaya, lantas kenapa mencampuri agama kita dan bilang ‘di bohongi pakai’…

Tak jauh berbeda dengan senior SMA saya diatas, kawan saya dari makassar, seorang yang kini menjadi PNS di salah satu kabupaten di sulawesi selatan, juga menegaskan motivasi mengapa dirinya memilih berangkat ke jakarta, berikut penjelasanya;

“Begini bro, saya tau antum mungkin punya pendapat sendiri, tapi bagi saya ini soal agama, soal keyakinan, saya percaya kalau Allah akan membalas ini sebagai amal jihad”

Sayapun memilih tidak berdebat, karena menurut saya hal itu akan mengarahkan pada perdebatan tafsir yang tidak berujung. Saya teringat pandangan beberapa psikolog yang menjelaskan;  ‘Persoalan agama adalah persoalan emosional yang menjalar diluar kesadaran, dibentuk oleh pengalaman individual’.

Saya juga segera membuka catatan facebook seorang senior saya, yang sejak awal kasus penistaan ahok bergulir telah lebih menulis seperti ini;

‘Ahok telah melewati pagar api yang harusnya tidak dilanggarnya, sesuatu yang telah membakar sentimen emosional yang kini menjalar keberbagai diri dan individu’.

Ernest Harms, dalam bukunya Development of Religion on Children, memang telah menjelaskan fenomena ini, “bahwa pada dasarnya konsep pengenalan akan tuhan dan agama salah satunya di picu oleh fantasi dan emosi saat masa kecil”.

Dan menurut saya, perasaan emosional yang membekas sejak lama ini yang dibentuk oleh kayakinan turun temurun tentang islam sebagai agama yang harus dibela inilah yang titik picunya telah ditekan oleh Ahok, sesuatu yang membuat sentimen individu berubah menjadi sentimen massa yang mendorong hadirnya garis perlawanan untuknya.

Ulama dan daya tarik psikologi massa

Berikutnya, dari hasil wawancara pendek dengan beberapa kawan lain, saya menemukan kuatnya pengaruh daya tarik sejumlah ulama terkenal yang selama ini wara -wiri di televisi, ataupun mereka yang memiliki pendukung yang banyak di media sosial.

Seperti ungkapan seorang junior kampus saya dari unhas yang kini tinggal di kota kendari berikut, menyangkut alasanya ikut aksi super 212;

Begini bang, kenapa saya kejakarta ikut aksi 212, karena saya lihat ada Aa Gym, Arifin ilham dan ulama-ulama lain ikut aksi juga, mereka kan ulama idola saya, sekalian dengar ceramah gratis”.

Dari keterangan junior saya dikampus itu, saya kemudian menemukan korelasi mengapa aksi soal penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok bisa termobilisasi sampai tiga seri, bahkan mungkin akan lebih.

Pertama, motif emosional dibalik sentimen agama telah memicu kemarahan sebahagian umat islam yang menyebabkan hadirnya ‘psikologi massa sebagai orang-orang terlecehkan’.

Kedua, sentimen massa tersebut bertemu dengan hadirnya sejumlah  ulama kharismatik yang ikut turut mendukung aksi bela islam. Andaikan hanya FPI atau Habib Rizieq, berdasarkan keterangan sahabat-sahabat saya tersebut, mungkin saya bisa berkeyakinan aksi bela islam tidak akan sebesar saat ini.

Terakhir, saya terpikir kenapa tidak energi sentimen emosional soal keyakinan agama ini dikonversikan menjadi hal yang lebih postif dan memiliki daya dobrak yang lebih kuat lagi, dalam membangun umat islam sendiri.

Misalnya saja, “barang siapa yang melupakan dan mengabaikan anak yatim dan kaum miskin adalah juga penista islam”!

Tabe, salam super damai 212

 

 

 

 

 

 

 

2 tanggapan untuk “Psikologi Agama, dibalik Aksi Super 212

  1. Ya, memang terlalu terburu – buru menentukan siapa yg salah dan siapa yang benar. Padahal kalau mau sedikit saja dikoreksi lebih dalam, hal semacam ini mestinya tidak perlu terjadi. Dan bukan kah manusia itu memang tempatnya salah dan lupa?

    Atau mungkin saya nya saja yang tidak paham makna jihad, semoga senantiasa sehat & banyak rizky untuk penulis artikel ini. amin.

    Suka

  2. Ya, memang terlalu terburu – buru menentukan siapa yg salah dan siapa yang benar. Padahal kalau mau sedikit saja dikoreksi lebih dalam, hal semacam ini mestinya tidak perlu terjadi. Dan bukan kah manusia itu memang tempatnya salah dan lupa?

    Atau mungkin saya nya saja yang tidak paham makna jihad, semoga senantiasa sehat & banyak rizky untuk penulis artikel ini. amin.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s