Akhirnya jadi Doktor…

Hidup hanyalah perjalanan takdir yang mesti kita sambut dengan sabar dan syukur!

-Abang Bull-

Nukilan kalimat guru saya itu, terus bermain dikepala. Apalagi ketika kemarin dalam sidang promosi nama saya ditambahkan Doktor Rahmad M. Arsyad, lengkap dengan penegasan ‘yang amat terpelajar’.

Rasanya campur aduk, ada rasa syukur bahwa pada akhirnya saya selesai juga. Cemas, apakah saya sudah pantas dengan gelar yang amat terpelajar itu? Sementara, perasaan ilmu saya masih cetek, jauh dari si-Amat yang terpelajar itu…

17155694_10211167104405391_3260789021253841994_n
Foto; Pak Karman Karim

Beban semakin terasa berat, ketika Co. Promotor saya mengumumkan bahwa saya mendapatkan gelar sebagai doktor termuda pada sekolah pasca sarjana ilmu komunikasi Universitas Sahid. Pertimbangannya, selain soal umur yang baru 32 tahun, juga soal masa studi yang kurang dari tiga tahun.

Nah, bagian kedua ini yang pertanggungjawabannya membuat hati saya semakin ketar-ketir tak menentu. Alasanya sederhana, memang benar mungkin dari segi umur dan wajah saya memang masih sangat muda, bahkan bisa jadi ada yang berpandangan umur saya masih 20-an tahun… hehe.

17190820_10211167104045382_6861880094162179437_n

Namun hal yang tidak bisa terlupakan bagi saya, bahwa sebenarnya sebelum akhirnya memulai kuliah dari awal untuk kembali ke-khittah, sebagai anak komunikasi pada tahun 2014.

Sebelumnya, pada tahun 2012 saya pernah murtad dari ilmu komunikasi, dengan kuliah pada ilmu politik di Univeristas Padjadjaran Bandung. Yang entah, apakah akan saya lanjutkan kembali atau tidak.

Jadi praktis, usia kuliah saya untuk jadi doktor bukan hampir tiga tahun namun jelang lima tahun. Sebuah waktu yang tidak sedikit menurut saya. Karena selama menempuh pendidikan baik pada strata satu maupun belajar di program magister, saya  punya pengalaman  menempuh waktu studi lebih cepat.

Rasanya, ini adalah sekolah formal terlama yang pernah saya lalui dan hampir menyamai masa-masa panjang sekolah dasar.

Namun seperti petikan kata-kata guru saya diatas, bahwa pada akhirnya hidup hanyalah perjalanan takdir yang mesti kita sambut dengan sabar dan syukur. Tidak ada hal yang sia-sia, dalam setiap takdir kehidupan yang diperjalankanNya.

Ada banyak, pelajaran kesabaran yang saya lalui dari hari-hari melelahkan selama lima tahun terakhir, semuanya sangat bermakna dalam membentuk cara pandang saya melihat dunia.

Apalagi, banyak pengalaman hidup yang saya temukan. Mulai dengan kemestian, menjadi penduduk nomaden di empat kota, Bandung, Jakarta, Makassar dan Palu yang membuat saya belajar banyak hal tentang perbedaan dan ke-indonesiaan.

Demikian pula, soal daya tahan untuk bertahan hidup sebagai pekerja serabutan, dari mengerjakan aneka survei pilkada lintas kabupaten antar propinsi, menjadi dosen, sampai menjadi ghost writer bagi sejumlah buku biografi telah menempa skill untuk survival.

Rasa syukur yang besar juga saya rasakan, karena pada akhirnya saya diliputi kesadaran bahwa mungkin belum takdir saya menjadi doktor ilmu politik. Atau bisa jadi, saya memang dilahirkan untuk menjadi sarjana, magister dan akhirnya menjadi doktor ilmu komunikasi.

IMG-20170311-WA0050

Saya memaknai ketetapan Tuhan tersebut, sebagai jalan untuk bertemu para akademisi hebat dan terhormat. Belajar langsung dari seorang pakar ilmu komunikasi indonesia seperti Prof. Harsono Suwardi, digembleng oleh pembimbing yang sangat ketat Dr. Udi Rusadi. Mengaji filsafat bersama Prof.  Suryanto Poespowardoyo dan almukarram Dr. Mikhael dua.

Serta tentu saja kembali belajar dunia tulis menulis dari Dr. Sinansari Ecip dan bertemu seorang ketua prodi layaknya kakak sendiri, Dr. Mirza Ronda. Semua pertemuan itu, tidak akan terjadi jika saya masih kuliah di Bandung.

Pada saat penelitian disertasi, saya juga bersyukur bisa sempat bersentuhan dengan ilmuwan tekun seperti Dr. Edward Poelinggomang yang beberapa bulan lalu telah berpulang ke rahmatullah, Kak Alwy Rahman, Herman Heizer CRC, Ahmad Nur LSI, Rizal Suaib, Dr. Firdaus Muhammad, K cullang Fajar, K Nara Kompas, K Jumadi Tribun dan dibantu sejumlah catatan dari kak Yusran Darmawan serta sejumlah narasumber lainya.

Orang-orang itu, telah banyak berkontribusi bagi pengembangan kajian akademik saya, sekaligus sangat membantu proses penulisan disertasi yang cukup panjang dan melelahkan.

mama

Selama lima tahun terakhir, sambil kuliah saya juga menikmati memiliki waktu panjang untuk terus memperdalam ilmu dari mereka para guru besar Universitas kehidupan. Belajar langsung dari sang maestro, Abang Bulganon Amir, Kak Tony, Pak Karman Karim, kak Gun, serta dari sosok pemimpin muda idola saya Hidayat Lamakarate.

Serta tentu saja, saya tidak berhenti untuk terus belajar tentang arti cinta, ketulusan, kesabaran serta ketabahan dari istri tercinta, Endang Sari. Akhirnya sekian dan terima kasih, mari belajar lagi, belajar jadi manusia…

 

 

 

 

 

 

2 tanggapan untuk “Akhirnya jadi Doktor…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s