DP jangan ke-PeDe-an

Danny-Pomanto

Pilwali Makassar 2018 memang masih cukup jauh, tersisa waktu satu tahun lebih sampai akhirnya perhelatan politik ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan akan dilaksanakan. Beberapa kontestan penantang memang mulai bermunculan, siap menghadapi kandidat petahana Ramdhan Pomanto yang hampir pasti akan kembali mencalonkan diri sebagai walikota.

Kabar-kabari yang berkembang, koalisi pasangan DIA (Danny-Ical) kemungkinan besar tidak lagi akan bersama. Pertanyaannya, mampukah Danny Pomanto (DP) melenggang sendiri menuju kursi walikota tanpa kekuatan Ical dan  hampir pasti tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan Ilham Arief Sirajudin yang sedikit banyaknya berkontribusi bagi pencapaian DIA di Pilwali Makassar 2013?

Membaca hal ini, saya tertarik melihatnya dari dua sisi. Pertama, menelusuri dan membandingkan kembali capaian suara DIA pada tahun 2013 dan kemenangan Ilham pada tahun 2008. Kedua, melihat capaian kinerja Danny Pomanto dan issue publik yang berkembang serta kemungkinan capaiannya di tahun 2018.

DP jangan ke-PeDe-an

17757191_1143380522440097_3846798971496476748_n

Berkaca pada hasil pemilu 2013, kemenangan Ramdhan Pomanto dan Ical dari sepuluh pasangan kontestan berada di angka 182.484 suara atau 31,18 persen dari sepuluh pasangan calon. Capaian suara pasangan DIA ini, sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan suara Ilham Arief untuk priode sebelumnya tahun 2008 yang memenangkan Pilwali Makassar dari tujuh pasangan kontestan yang mencapai 370 ribu suara atau 67,06 persen.

Fakta ini menjelaskan bahwa sekalipun Ilham secara terang-terangan mendukung Ramdhan Pomanto dan Syamsurizal pada Pilwali yang lalu, keterpilihan DIA hanya mampu menjangkau sekitar 40 % dari keberhasilan Ilham pada Pilwali sebelumnya. Kondisi ini, tentu menjelaskan bahwa representasi dukungan pribadi dan ketika dukungan tersebut didelegasikan akan tetap membangun jarak yang signifikan.

Sementara itu, angka partisipasi pemilih pada Pilwali Makassar dalam dua kali pemilihan kepala daerah baik tahun 2008 maupun 2013, juga tidak banyak berubah dan cenderung statis yakni pada angka 500.000 lebih dari total sekitar 1,2 juta suara pemilih terdaftar.

Argumentasi ini menjelaskan bahwa jumlah pasangan calon ternyata tidak berpengaruh signifikan atas partisipasi pemilih di Kota Makassar. Kondisi ini menunjukan bahwa mereka yang memiliki basis konstituen dan memiliki kekuatan sosio demografis akan sangat menentukan siapa yang akan menjadi pemenang di Pilwali Kota Makassar.

Pertanyaanya, dimanakah basis konstituen Ramdhan Pomanto dari 14 Kecamatan di Kota Makassar dan pada segmen masyarakat manakah keunggulan Ramdhan Pomanto sebagai walikota petahana? terus terang, dua pertanyaan ini masih menggantung di kepala saya dalam membaca kekuatan kandidat petahana Danny Pomanto?

Kedua, harus diakui Ramdhan Pomanto memang punya banyak ide besar bagi publik Makassar. Namun, sayangnya implementasi ide tersebut rasanya masih jauh dari apa yang disampaikan saat kampanye maupun ketika memerintah kota makassar sejak tahun 2014 yang lalu.

Padahal, survei IDEC sebelum Pilwali Makassar tahun 2013 telah menjelaskan tiga isue pokok harapan pemilih terhadap kepemimpinan baru makassar saat itu, yaitu makassar bebas macet, banjir dan bersih, namun sampai hari ini problem pokok yang dirasakan oleh masyarakat tersebut rasanya belum banyak berubah.

Jika dilihat secara kasat mata baik kemacetan, banjir sampai program penanganan persoalan sampah kota juga belum banyak berubah. Sekalipun Makassar mendapatkan Adipura, justru program kebersihan kota terbukti masih bermasalah, baik Gendang Dua serta sejumlah program kampanye tentang kebersihan kota, seperti sampah ditukar beras rasanya kurang terdengar berhasil.

Fakta-fakta ini, harusnya menjadi cermin bagi Ramdhan Pomanto untuk mengkalkulasi potensinya untuk kembali dipilih menjadi walikota. Apalagi, sampai jelang priode pemerintahannya berakhir, Ramdhan Pomanto masih bermain aman dengan tidak masuk pada partai politik apapun.

Belum pastinya partai politik yang dimiliki DP, bisa menjadi hal positif namun bisa pula menjadi blunder politiknya.

Positifnya DP praktis bisa diterima oleh sejumlah parpol, namun jika terbangun sentimen negatif parpol atas DP, maka bisa akan sangat menghambat pencalonannya sebagai kandidat walikota. Hal ini pernah saya lihat terjadi kepada beberapa kepala daerah yang memiliki kandidat petahana dengan komunikasi politik yang buruk dengan partai politik.

Berkaca pada berbagai fakta ini, menurut saya sebaiknya Danny Pomanto tidak terlalu overconfidence dengan posisinya sebagai walikota. Apalagi menurut saya, satu persatu kelompok yang dahulu mendukung DP mulai menarik diri dan jarak dengan Walikota Danny Pomanto.

Menemukan Penantang yang Kuat

Jika berkaca secara realistis untuk konteks hari ini, hampir belum ada kandidat yang cukup kuat baik dari segi dukungan elektoral maupun kapasitas personal yang memang lebih menonjol dari Danny Pomanto. Namun, bukan berarti Makassar tidak memiliki generasi yang lebih baik dari Danny Pomanto.

Para calon kandidat penantang yang saya lihat, masih sibuk bermain pada cara meningkatkan popularitas dibandingkan secara langsung mengadu program dengan Ramdhan Pomanto. Suka tidak suka, untuk mengalahkan kandidat petahana apalagi seperti DP, menurut saya dibutuhkan minimal tiga prasyarat utama.

Pertama, mereka yang memiliki basis dukungan elektoral yang jelas. Artinya calon tersebut harus memiliki dukungan konstituen yang pasti, baik yang merepresentasikan kekuatan basis pemilih militan berbasis kecamatan dan kelurahan maupun tipologi sosiodemografi dan kultural seperti suku, agama, maupun representasi kelas sosial maupun gender.

Kedua, mereka yang memiliki kapasitas yang lebih baik dalam melawan gaya komunikasi retoris DP. Harus diakui, Ramdhan Pomanto punya nilai plus dalam memaparkan ide dan gaya komunikasinya ke hadapan publik. Hal ini, tentu menjadi kekuatan dan modal komunikasi politik Danny Pomanto pada pemilih yang berada pada irisan pemilih rasional pragmatis seperti Makassar.

Namun, gaya persuasif retoris ini, sebenarnya juga cukup menjenuhkan jika tidak disertai sejumlah bukti konkrit sesuai fakta yang sebenarnya. Untuk itu, sebaiknya para calon penantang harus menguasai betul fakta sosial dan gambaran realitas yang terjadi sebagai modal mereka dalam menyaingi kandidat petahana.

Ketiga, memiliki dukungan birokrasi. Kelebihan kandidat petahana adalah penguasaan pada mesin birokrasi. Berbagai gaya dan seremoni yang dilakukan oleh Ramdhan Pomanto atas birokrasi Kota Makassar cukup membuat kontroversi dan sentimen kalangan birokrasi selama ini.

Mulai dari pelantikan 435 kepala sekolah di tempat sampah sampai di kuburan, telah membagi kelompok birokrat dalam dua opini, mereka yang mendukung dan mereka yang tersinggung. Tinggal, manakah yang lebih besar apakah mereka yang mendukung atau tersinggung?

Pada titik inilah dibutuhkan tim kerja calon penantang yang cukup kuat untuk melawan Danny yang ke-pedean!

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s