Siapa Menang di Pilgub DKI ?

 

ahok-anies
Sumber foto : Fakta.co.id

Hari pemilihan Gubernur DKI tinggal hitungan jari. Ibarat mata uang koin, kemungkinan yang tersisa  hanya dua, jika bukan Anies maka Ahok yang akan kembali jadi gubernur DKI. Dalam hati banyak orang, termasuk saya bertanya-tanya, siapakah diantara keduanya yang akan memenangkan Pilgub DKI pada 19 April nanti ?

Sebagai orang yang percaya kekuasaan Allah diatas segalanya, sayapun meyakini bahwa pemenang pilkada DKI sudah ditetapkan takdirnya oleh yang Mahakuasa. Kita sebagai manusia, hanya bisa mendekati ketetapan tersebut dengan  pengetahuan yang terbatas.

Saya percaya, survei adalah instrumen ilmiah yang bisa digunakan sebagai cara untuk mendekati realitas. Survei yang benar secara metodologis dan tanpa pretensi ‘menyenangkan kandidat dan pendukung pasangan calon gubernur tertentu’, akan mengantarkan  pada upaya kebenaran itu sendiri.

Karena jika tidak, instrumen apa yang akan digunakan dalam membaca realitas tersebut? Apakah dukun dan paranormal?

Dua kemungkinan Akhir

65b38173-2573-4435-860d-53dcb0882d3e
Hasil Suara Pilgub DKI Putaran Pertama

Hampir semua lembaga survei yang melansir hasil surveinya di awal bulan April 2017, menyampaikan bahwa pasangan Anies-Sandi lebih unggul dibandingkan pasangan Ahok-Djarot. Selisih antar keduanya dengan jarak terjauh 8,7 persen dan terendah 1 persen.

Walau kemarin (15/4/2017), lembaga Charta Politika  membuat kejutan dengan menyampaikan pasangan Ahok-Djarot lebih unggul dibandingkan pasangan Anies-Sandi dengan selisih 3 %, dimana Ahok-Djarot mencapai elektabilitas 47,3% dan Anies- Sandi 44,8%.

Berdasarkan pengalaman saya selama ini, dalam membaca hasil survei di putaran terakhir, utamanya dalam kasus seperti yang terjadi di putaran kedua DKI, dimana selisih antara pasangan sangat tipis maka yang perlu dicermati apa yang sering saya sebutkan sebagai badai 10%.

Apakah badai 10 % akan menimpa kandidat petahana (Ahok-Djarot) ataukah pada kandidat penantang (Anies-Sandi), itulah hal yang perlu dibaca dengan seksama, utamanya untuk melihat kecenderungan kemana pergerakan badai 10 % tersebut akan mengarah.

Cara membaca sebenarnya bisa menggunakan dua hal. Pertama, melihat kecenderungan akhir angka partisipasi pemilih. Hasil mayoritas lembaga survei telah menyampaikan, bahwa kecenderungan angka golput pada pilkada DKI masih cenderung sama dengan pilgub DKI sebelumnya dan hasil pilgub putaran pertama, yakni berada diangka 23- 30 persen mereka yang tidak ikut berpartisipasi.

Artinya, jika angka partisipasi tersebut masih sama dan cenderung statis pada persentase interval 23-30 %, maka berdasarkan instrumen mayoritas survei yang menempatkan Anies-Sandi sebagai pemenang, maka bisa disimpulkan Anies-Sandi adalah Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

Karena pada dasarnya, di paruh akhir pilkada seperti saat ini, suara pemilih sudah tidak banyak berubah dan kalaupun terjadi perubahan tidak pernah melebihi interval 5-10 % suara. Namun, akan menjadi berbeda jika angka partisipasi pemilih bertambah dan angka mereka yang tidak memilih berkurang yakni berada di bawah 23 % atau angka partisipasi naik sampai 80% pemilih.

Bisa jadi, jika partisipasi ini meningkat, kemungkinan Ahok- Djarot memenangkan pilkada menjadi lebih terbuka karena ada kelimpahan suara pemilih baru. Walau sekali lagi, dengan  selisih yang menurut saya tidak melebihi angka 10 %.

Pada saat inilah, kemampuan melakukan mobilisasi pemilih menjadi sangat dibutuhkan, utamanya bagi pasangan Ahok-Djarot jika ingin menang putaran kedua pilkada DKI.

Kedua, kemana suara pemilih Agus-Syilvi dengan presentase 16 % akan berlabuh? Pada debat akhir kemarin, secara simbolis pasangan Anies-Sandi yang berkemeja biru terus menyampaikan kalimat, mari mewujudkan ‘persatuan’ dan menyingkirkan pengkotak-kotakan warga jakarta.

Hal ini bisa terbaca, pasangan yang diusung oleh Gerindra dan PKS ini mencoba menarik pemilih Agus-Syilvi kedalam barisan pendukung mereka. Apakah pesan ini akan berhasil dan mampu menarik dukungan pemilih Agus-Syilvi dengan tipologi adalah pemilih muda, muslim, dan sebahagian besar ber etnik betawi?

Berdasarkan pengalaman saya selama ini, suara pemilih tidaklah mudah digiring sesuai kehendak para elit politik. Pada konteks pemilih muda jakarta yang cenderung independen dan tidak terlalu terpengaruh pada relasi tokoh dan figuritas semata, bisa jadi upaya ikonik yang digunakan Anies-Sandi tidak berlangsung linear sesuai harapan mereka.

Masih terbuka kemungkinan mereka yang memilih Agus-Syilvi bisa jadi ada yang akan memilih Ahok-Djarot. Apalagi bagi mereka yang sangat dipengaruhi oleh pesan-pesan emosional yang coba dibangun oleh Ahok-Djarot sebagai kandidat yang terzalimi.

Siapa Menang di Pilgub DKI?

Sebagai kesimpulan, pemenang pilkada DKI akan sangat ditentukan oleh jumlah mereka yang ke TPS. Jika kelompok ‘silent voters’ yang selama ini tidak bersuara, kemudian menuju bilik suara, maka hasil survei akan berubah dan kemungkinan bagi Ahok-Djarot untuk kembali memimpin DKI kembali terbuka.

Namun, jika angka partisipasi masih berada pada titik yang sama atau dibawah rata-rata nasional 77,5 % maka situasi yang terjadi akan cenderung stabil, dimana pasangan Anies-Sandi akan melenggang menduduki kursi gubenur dan wakil gubernur DKI yang baru.

Pertarungan menit terakhir seperti saat ini, sangat ditentukan oleh mobilisasi pemilih untuk menuju bilik suara. Karena jika pemilih Ahok-Djarot justru pergi berlibur pada hari pemilihan atau pemilih Anis-Sandi tertidur selepas sholat subuh karena kelelahan pada malam hari, akan sangat menentukan situasi akhir yang akan terjadi.

Kedua sekali lagi, siapa yang mampu menarik pemilih Agus-Syilvi menjadi kunci akhir pada pilgub DKI kali ini. Mereka pemilih muda dan mamah muda yang sangat terpengaruh pada ketampanan mas Agus. Karena pada akhirnya,memang pilkada hanyalah soal jumlah suara dan emosi massa.

Saya sangat percaya pidato seorang politisi yang pernah saya dengar;

“Visi politik hanya bisa dicapai oleh kemenangan. Berarti anda harus punya suara terbesar di hari pemilihan. Karena itu, tidak ada dalam kamus politik, kalah terhormat yang ada hanya kata menang dan kalah. Jika anda menang anda punya seribu kawan, jika anda kalah anda yatim piatu”

Selamat memilih warga jakarta…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s