Agama, Buruh dan Kesadaran Palsu

marx-racist (1)

Salah satu titik api perdebatan kelompok Marxisme dan kaum Agamawan, adalah pandangan Marx tentang ‘candu agama’. Hal inilah yang senantiasa menjadi pertentangan, bahkan pemicu konflik, apalagi ketika kritik Marx itu disederhanakan dalam logika dangkal, ‘mereka marxis komunis, pasti tidak bertuhan dan anti islam’.

Saya selalau tertawa mendengar pendapat seperti ini. Pertama, benarkah yang dikiritik oleh Marx adalah agama ataukah para pemeluk dan pemuka agama? Mereka yang menjadikan Tuhan, surga, dan neraka sebagai cara meninabobokan rakyat yang kelaparan dengan janji manis akan mendapatkan balasan sungai susu dan madu di akhirat kelak?

Kedua, soal Marx yang tidak bertuhan dan anti islam, bagi saya ini adalah pandangan yang kurang tepat, karena Marx terlahir dari keluarga Yahudi dan sepanjang pengetahuan saya tidak pernah belajar tentang Islam apalagi ingin mendebati Islam.

Lantas apa yang dimaksud Marx sebenarnya ketika berbicara agama sebagai candu dan sumber kesadaran palsu?

Kritik Marx, atas agama sebenarnya berfokus pada pemanfaatan agama yang digunakan oleh para penguasa yang menggunakan agama sebagai alat untuk mempropagandakan kesadaran palsu. Melanggengkan kekuasaan ekonomi politik para tuan-tuan borjuasi.

Sepanjang apa yang saya baca, kritik Marx atas agama bermula dari tanggapannya atas pandangan Ludwig Feuerbach tentang tuhan dan Agama sebagai proyeksi manusia.

Dalam pemikiran Feuerbach, bahwa manusialah yang menciptakan citra tuhan itu sendiri, termasuk membangun surga dan neraka dalam pikirannya.

Agama dan tuhan dalam keyakinan Feuerbach, hanyalah bentuk pelarian manusia dari keterasingan dirinya atas realitas dunia yang dihadapinya, lalu akhirnya membangun harapan akan kekuasaan dan balasan tuhan atas ketidakadilan yang dirasakan.

Pada tahun 1845, Marx kemudian menambahkan kritik Feuerbach tersebut, dimana pada dasarnya Marx setuju dengan kritik Feuerbach. Tetapi menurut Marx, Feurbach berhenti di tengah jalan.

Dalam pandangan Marx, Feuerbach tidak melanjutkan pertanyaan yang justru paling penting, mengapa manusia melarikan diri ke alam khayalan daripada mewujudkan diri dalam kehidupan nyata?

Bagi Marx, manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata menindasnya! Inilah inti kritik Marx atas agama. Pada titik inilah, dari pandangan sejumlah filsuf, Marx berhasil mengubah “kritik akan surga berubah menjadi kritik dunia”.

Kritik akan penindasan yang dilakukan oleh kelas penguasa dan kaum borjuasi yang menindas sesama atas nama tuhan, lalu menjadikan manusia terasing dari sesamanya, akibat kekuasaan ekonomi yang hanya bertumpu di tangan segelintir orang.

Ketika itulah, agama tidak lebih dan tidak kurang, hanya dijadikan alat untuk melegitimasi kekuasaan kaum borjuasi dan elit politik atas nama tuhan. Ketika itulah agama menjadi candu bagi rakyat.

Agama, Buruh dan Kesadaran Palsu

ribuan-buruh-berunjuk-rasa-memperingati-hari-buruh-_130501142529-993

Bagi saya, kritik Marx rasanya masih kontekstual hari ini. Apalagi, melihat praktek kekuasaan ekonomi-politik yang tetap menjadikan kelompok mustada’afin dan para buruh, semata-mata sekedar alat bagi pencapaian kekuasaan para politisi dan kaum borjuasi.

Sementara agama, hanya digunakan untuk membangun legitimasi dan simpati untuk mencapai kekuasaan, ketika itulah Agama dan tuhan hanya dijadikan sebagai sekedar legitimasi untuk memperpanjang tirani para penguasa dan kaum pemilik modal.

Kritik inilah yang harusnya kita ajukan, pada relasi kuasa agama dan politik hari ini. Kritik pada kaum agamawan yang lebih senang mengajarkan ‘sabar’ kepada rakyat yang lapar. Mereka para buruh yang dibayar murah, namun dijanjikan surga dan amal saleh di akhirat kelak.

Padahal setiap hari, keringat mereka diperas oleh para tuan-tuan pemilik modal untuk mendapatkan laba. Kesehatan mereka memburuk karena jam kerja yang diperpanjang dengan alasan mencapai target produksi. Sementara para politisi lebih sibuk memperkaya diri lalu lupa membuat regulasi yang berpihak kepada rakyat.

Saya meyakini, agama saya bukanlah agama yang dikritik oleh Marx. Karena sesungguhnya agama saya telah mengajarkan bahwa mereka yang tidak beragama adalah mereka yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. Al Maun 1-3).

Mereka yang tidak beragama adalah mereka kaum kapitalis yang menumpuk harta kekayaan berlebih-lebihan layaknya para Qarun dan mereka para penguasa dengan kesombongan layaknya Fir’aun, serta para ulama layaknya para ahli kitab yang dikutuk oleh Allah karena menghamba pada penguasa dan kekuasaan dengan menjual ayat-ayat Tuhan dengan harga murah.

Inilah orang-orang yang tidak beragama, orang-orang yang tidak bertuhan yang dikiritik oleh Marx dan Feuerbach sebagai para pembuat kesadaran palsu.

Selamat hari buruh

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s