Indonesia tanpa Ahok dan Rizieq?

Ahok hoax

sumber foto ; Tarbiyah.net

Saya berkhayal, andaikan indonesia tanpa Ahok dan Rizieq Shihab? Mungkin tidak akan pernah ada aksi dengan angka-angka yang serupa judul cerita silat 212 sampai 515 yang saya tidak hafal betul telah berapa seri. Tidak akan ada kemarahan yang menjalar dari jakarta, ke berbagai daerah, sampai sulawesi utara yang katanya mulai berpikir merdeka.

Juga tidak akan muncul saling ejek, soal banjir kiriman bunga ke balai kota jakarta dan tuduhan kepada buruh yang membakar sebagai pelaku ‘konspirasi politik’. Apalagi, sampai aksi bakar-bakar lilin ditengah tarif dasar listrik yang naik, atau konser rayuan pulau kelapa di depan penjara yang penuh air mata  haru biru.

Rasanya bodoh, mengisi status facebook atau twitter yang harusnya jadi jejaring pertemanan dan berbagi kabar bahagia, dengan caci maki kepada sesama, sampai tuduhan konspirasi PKI atau siapa yang anti NKRI. Apalagi sibuk membenarkan diri sebagai kelompok paling toleran.

Ah, andaikan indonesia tanpa Ahok dan Rizieq, ‘mungkin indonesia lebih baik’. Saya masih bisa bercanda dengan sahabat-sahabat saya yang ustad sambil minum kopi dan bercerita tentang masa depan islam yang rahmatan lil alamin.

Bisa pula tetap berdiskusi filsafat dengan teman-teman saya dikampus,sambil menghisap rokok, membahas manusia dan kehendak bebas tanpa dituduh sebagai kelompok atheis. Serta sesekali, membahas marxisme dan teori kritis tanpa tuduhan sebagai komunis.

Mungkin tanpa Rizieq Sihab dan Ahok, indonesia masih biasa-biasa saja. Isinya adalah berita tentang penangkapan KPK atas para pejabat negara, krisis listrik diberbagai daerah atau harga daging, cabe, yang naik menjelang ramadhan. Tentu bukan melulu soal radikalisme, demo dukung mendukung atau tolak menolak soal Ahok dan Rizieq yang sudah sangat menjemukan.

Perbincangan linimasa media sosial, pasti lumayan membahagikan. Isinya dari sekedar lucu-lucuan, foto narsis atau soal pamer makan dan tempat nongkrong yang asik.Bisa juga tentang pacar baru atau tentang puisi rindu yang sedikit alay dan lebay yang dilengkapi kabar soal putus atau cerai para artis.

Tapi mengapa Tuhan menghadirkan Ahok dan Rizieq? Saya berkhayal, mungkin Tuhan sedang rindu untuk dibicarakan kembali di arena politik indonesia, baik oleh mereka yang mengaku sebagai para pembelanya ataupun penenentangnya.

Ah, saya sekedar sedang berkhayal….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s