Persekusi dan Teror Jejaring Sosial

rancang-teror-bahrun-naim-manfaatkan-media-sosial-PbM

Pertama kali menonton rekaman persekusi di jejaring sosial yang dilakukan sekelompok orang dengan seragam ormas tertentu terhadap dokter Fiera Lovita, awalnya saya berpikir sekedar kabar Hoax. Karena penasaran, sayapun mencari berita dari sumber terpercaya, lalu akhirnya saya menemukan berbagai penjelasan tentang kebenaran peristiwa tersebut.

Belum selesai keheranan saya atas aksi persekusi yang dilakukan terhadap dokter Lola, saya kembali menonton video yang di upload oleh seorang kawan tentang beberapa remaja yang diteror, karena dituduh melecehkan dengan membuat parodi seorang ulama yang viral dimedia sosial.

9820462931

Sampai akhirnya, tindakan persekusi terhadap remaja 15 tahun Putra Mario Alfian terjadi dan kembali menjadi viral di media sosial. Ketika sekelompok orang layaknya preman dan tidak sama sekali mencerminkan dakwah disampaikan oleh Rasullulah, “Innama bu’itstu liutammima makarimal Akhlaqbertindak dan berbuat jauh dari ajaran dan perbuatan Nabi.

Ada apa dibalik aksi-aksi persekusi ini? sehingga dengan mudah sekelompok orang tanpa legitimasi apapun, bukan aparat penegak hukum dengan bebas melakukan aksi pemburuan secara sewenang-wenang dan mengintimasi korbanya sesuka hati. Bahkan dengan bangga merekam dan menyebarkan peristiwa intimidasi tersebut di media sosial?

Bagi saya, ini adalah jelas aksi teror yang nyata! Sebuah kejahatan hak asasi manusia yang tidak boleh dibiarkan, apalagi korban yang disasarnya adalah perempuan dan anak-anak.Karena dalam islam, sekalipun dalam kondisi perang Rasullulah tetap melarang membunuh dan menyakiti perempuan dan anak-anak.

©Wartabali.net-06012017-01-01062017-Screenshot_5_New

Sebagai negara yang berdiri ditas landasan hukum, jika para pelaku persekusi tersebut merasa keberatan atas apa yang disampaikan oleh orang lain atas tokoh yang mereka cintai dan puja, bukankah lebih baik dan bijak mereka mengajukan tuntutan hukum dengan menggunakan undang-undang Informasi dan transaksi elektronik (ITE) No.11 tahun 2008.

Jika mereka merasa keberatan atas konten yang disebarkan, sebagai langkah awal cukup melaporkan ke situs jejaring sosial dimana konten yang di bagikan itu diunggah, maka biasanya oleh pengelola situs jejaring sosial akan melakukan suspend atau banned terhadap akun yang dipandang melakukan penyimpangan.

Bukan dengan menggunakan cara-cara persekusi, layaknya gaya teror orde baru bagi para aktivis atau seperti tayangan film G.30 S/PKI yang mengkonstruksi bagaimana aksi persekusi dilakukan oleh orang-orang yang dituduh PKI yang membuat trauma generasi saya, yang selalu terkam akan kalimat persekusi yang penuh teror, ‘darah itu merah jenderal’!

Jajaring Sosial, persekusi dan matinya nalar?

Apa yang menjadi gambaran perbincangan dan keriuhan di jejaring sosial sebenarnya adalah potret realitas warga negara kita. Ketika ada sebahagian kelompok yang menjadikan jejaring sosial sekedar sarana narsisme, kelompok lain memanfaatkan sebagai kanal bagi perjuangan politik ataupun bisnis, serta sebahagian orang menjadikan jejaring sosial sebagai sarana menyebarkan kebencian atau kedamaian.

Inilah wajah ‘orang-orang indonesia saat ini’, setidaknya gambaran 88 juta manusia Indonesia yang aktif berselancar di arena sosial media. Ketika jejaring sosial kini menjadi kanal untuk menumpahkan pikiran, perasaan dan pandangan baik yang bersifat individual maupun hal-hal yang bersifat publik.

Menurut hemat saya, tidak cukup aksi Presiden yang sekedar menghimbau agar bijak dalam menggunakan jejaring sosial, meluncurkan berbagai aplikasi pendekteksi Hoax, apalagi sekedar membentuk  Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Kini yang dibutuhkan, adalah revolusi nalar dan literacy publik.

Karena fokus persoalan berada pada ‘kesadaran individual’ warga dunia maya bahwa apa yang mereka bagikan, sebarkan, bukan hanya akan dibaca atau ditonton oleh diri sendiri atau teman dalam komunitasnya, namun bisa menjangkau khalayak luas, orang-orang yang mereka mungkin mereka tidak kenali sebelumnya.

Kesadaran bahwa akun facebook, instagram, maupun twitter yang mereka miliki bukanlah hal yang bersifat privat, namun sebuah kanal media yang bisa berdampak luas bagi dirinya sendiri dan orang lain, mesti ditekankan mulai sejak dini bagi generasi negri ini, bahkan semenjak pada tingkatan sekolah dasar.

MediaLiter-1

Kurikulum pendidikan sekolah menengah maupun universitas harus memasukan pendidikan ‘media literacy’ sebagai salah satu muatan dalam kurikulum pendidikan. Tentu, dengan kualifikasi pengajar yang juga paham bagaimana etika dan prinsip-prinsip perkembangan dan pengaruh kehadiran media baru.

Namun melebihi hal tersebut, upaya pembangunan kesadaran dan nalar publik dalam bentuk pendidikan dan pengajaran yang mengasah daya nalar untuk melakukan seleksi informasi, kesabaran berpikir panjang sebelum membagikan sesuatu di media sosial, serta kemampun logika untuk memilah kebenaran dalam era banjir informasi seperti saat ini mutlak diperlukan dan terus disampaikan.

Termasuk membangun kembali rumusan prinsip-prinsip etika dalam interaksi perubahan dunia yang dipacu oleh revolusi tekonologi informasi yang kini setiap jam, hari dan bulan terus berkembang. Sesuatu yang menjadikan hal yang bersifat privat dan publik menjadi begitu tipis, benar dan salah semakin kabur.

Persekusi Teror Kemanusian

Persekusi adalah teror kemanusian yang dilakukan oleh manusia-manusia tanpa nalar, karena merupakan tindakan bar-bar dan kejahatan kemanusiaan yang bisa berdampak panjang pada trauma generasi. Karena itu, aparat kepolisian sebagai institusi resmi negara yang sah dan legal, harus bertindak tegas terhadap para pelaku.

Kedua, dalam keadaan gawat darurat media literacy saat ini, sudah waktunya pemerintah dan kelompok-kelompok yang bergerak pada institusi pendidikan formal maupun informal, pemimpin media massa, tokoh agama, serta penggerak komunitas mulai bergerak membangun literacy publik.

Baik dalam bentuk kurikulum pendidikan, maupun pendidikan informal tentang pentingnya media literacy yang menekankan cara berpikir panjang dalam membaca sebuah informasi dan teks yang setiap detik membanjiri ponsel kita masing-masing. Agar, setiap tindakan dan prilaku kita dalam arena media sosial, tetap mengedepankan nalar dan bukan sekedar memaparkan kemarahan dan memperpanjang ideologi kekerasaan serta teror.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s