Pancasila Bukan Unit Kerja, Ah bung Yudi…

Bung, anda tentu paham tidak semua hal butuh definisi. Karena terkadang kita tetap butuh sesuatu yang abstrak, karena dari sana tafsir dan kritik  menjadi terbuka dan bisa punya banyak arti dan kita dapat belajar banyak makna.

Apalagi, hal yang berhubungan dengan sesuatu yang besar. Selayaknya berbagai narasi agung, dari kisah ramayana sampai kitab kebijaksanaan salomo. Semuanya bermain pada yang abstrak, simbolik dan tafsir.

Karena, bukankah anda juga mafhum, Tuhan sekalipun tetap senang pada yang samar-samar dan yang abstrak itu.  Seperti kata, Alif lam mim’ yang penuh misteri agar manusia tetap belajar menalar, menafsir, karena disanalah letak akal budi bermain dan pencarian terus berjalan.

Bung, saya tidak habis pikir bagaimana caranya  akhirnya bung menjadikan pancasila menjadi unit kerja yang sebentar lagi berubah menjadi program, aksi, lalu akhirnya berujung proyek ?
Pasti Bung lebih banyak paham dari saya, soal betapa rumitnya lima sila itu akhirnya diubah menjadi sesuatu yang oprasional dengan tetap menjaganya sebagai akar ideologi negara. Bukan menjadi doktrin rezim, layaknya Das Kapital yang bicara soal ekonomi politik, berubah menjadi kitab para tiran dalam gerakan Lenin dan Stalin.

Seperti juga, bung sebagai sesama muslim mengerti ditangan ISIS dan kelompok-kelompok Jihadis ayat-ayat Tuhan yang suci, sesuatu yang dimulai dari Ar- rahman dan Ar- rahim, berubah serupa doktrin perang untuk menghalalkan darah orang lain.

Bung, saya ingin bercerita kepada anda. Semalam seorang supir taksi bertanya dan mengajari saya, soal siapa yang tidak Pancasilais. Supir itu bertanya,  mengapa perlu ada Unit Kerja Presiden Pembinaan ideologi pancasila?

Karena, katanya, persoalan hari ini bukan pada pemahaman tentang pancasila. Tapi menurutnya, soal uang dan kekuasaan yang  tidak terbagi merata oleh rezim yang berkuasa baik kepada elit-elit yang dahulu berkuasa, maupun kepada rakyat yang sedang kesulitan.

Supir itu yakin, jika elit-elit yang bersebrangan dengan pemerintah dapat jatah kuasa dan juga uang, tidak ada keributan yang bawa-bawa agama apalagi Tuhan. Jika rakyat perutnya kenyang tak perlu ada yang marah-marah.

Pada akhirnya, sebelum turun saya hanya bilang kepada supir taksi itu. Pendapatnya bisa jadi benar. Kini, yang kita butuhkan adalah unit kerja yang lebih tanguh menangani kemiskinan juga unit kerja yang berani menggebuk para elit yang menjual agama sebagai alat mendapatkan kuasa dan mengeruk uang negara.

Bung, sebagai generasi yang pernah merasakan bagaimana orde baru menjadikan pancasila serupa legitimasi untuk mempertahankan kuasa dan tirani, saya berharap bung tidak mengambil posisi ‘serupa pendeta’ bagi mereka yang butuh legitimasi dan mempertahankan kekuasaan.

Mereka politisi yang atas nama pancasila, suka menjadikan ideologi negara itu sebagai legitimasi lalu membuat tuduhan layaknya orde baru yang suka main gebuk dan sikat atas nama doktrin negara.

Karena kita semua paham, ketika teks-teks agung berada dalam tafsir para politisi yang haus kuasa, maka semuanya berubah menjadi doktrin dan alat paksa bagi syahwat mempertahankan kuasa.

Seperti Das Kapital dan marxisme di tangan Lenin serta Stalin atau Pancasila di bawah Soeharto dan Golkar yang punya tafsir tunggal, bukan Golkar dan tidak memilih pak harto, pasti bukan seorang pancasilais! Ah, bung Yudi anda sedang bermain-main dengan api!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s