Membaca Dua Balon Bupati Petahana Parimo dan Donggala 2018

pilkada2018

Saya tertarik kembali membuka sejumlah dokumen IDEC, hasil survei pilkada dua daerah di sulawesi tengah tahun 2013 yang lalu. Baik Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala. Seingat saya, pada dua pilkada tersebut, IDEC terlibat melakukan survei dan membantu pemetaan arah pergerakan dari bupati petahana yang kini berkuasa.

Dua pertanyaan klasik kembali muncul di kepala saya, pasca membaca data-data pilkada dua kabupaten beberapa tahun yang lalu itu. Apakah dua kandidat bupati petahana tersebut baik bupati Kasman Lassa maupun Samsurizal Tombolotutu akan kembali mudah menduduki kursi bupati ? Bagaimana posisi dukungan elektoral atas dua bupati petahana tersebut ?

Jawaban jelasnya, tentu hanya bisa dijawab dengan melakukan survei kembali atas posisi keduanya. Utamanya untuk melihat tiga hal pokok. Pertama, bagaimana kepuasaan publik atas kinerja kedua bupati petahana tersebut dimata rakyat parimo dan donggala?

Kedua, bagaimana peta dukungan geoelektoral pemilih baik pada tingkat kecamatan dan desa atas posisi masing-masing kandidat,lalu membandingkan dengan data survei sebelumnya. Apakah sebaran dukungan pemilih pada pilkada sebelumnya tetap loyal ataukah mengalami perubahan dukungan.

rekap-pilkada-donggala

Ketiga, tentu mengukur adakah kandidat penantang yang mampu melawan kandidat petahana yang kini menjadi bupati? Termasuk mengukur, jika pada akhirnya, masing-masing pasangan Bupati dan Wakil Bupati petahana kini maju sendiri-sendiri.

Beban Petahana

Selain memiliki keuntungan kampanye sepanjang tahun, dimana bakal calon incumbent bisa terus melakukan sosialisasi ke publik lewat posisi sebagai bupati yang memiliki kuasa program dan anggaran serta potensi dukungan birokrasi, setiap kandidat petahana tentu juga memiliki beban besar.

Pertama, janji kampanye saat mencalonkan diri pada priode sebelumnya? Inilah salah satu beban terberat setiap kandidat petahana, seberapa besar janji kampanye tersebut dipenuhi. Apalagi janji kampanye yang berhubungan dengan isue sensitif di sulawesi tengah, seperti pemekaran wilayah, kesejahteraan dan janji pembangunan infrastruktur.

20151119du1

Berdasarkan pengalaman saya, tiga isue ini sangat sensitif dalam ruang politik sulawesi tengah. Sedikit berbeda dengan tipologi daerah lain, kultur politik masyarakat sulawesi tengah utamanya di dua kabupaten ini yakni parimo dan donggala, rata-rata memiliki ingatan kolektif yang lumayan baik bagi hal-hal yang berhubungan dengan tiga isu sensitif diatas.

Bagi saya, wajar ketiga hal tersebut terekam baik di benak pemilih karena pada dasarnya tiga problem pokok itu, adalah hal yang nyata dalam keseharian rakyat di provinsi dan kabupaten di sulawesi tengah. Persoalan pemekaran wilayah contohnya, bukan hanya berhubungan dengan persoalan adimistratif namun persoalan aksesibilitas, jarak antara rakyat pusat pelayanan pemerintahan yang jauh membuat beban masyarakat semakin berat.

Sebagai contohnya, cerita seorang teman pegawai negeri sipil di salah satu instansi dinas di kabupaten donggala. Teman saya, beberapa pekan lalu bercerita kepada saya, bahwa untuk ke kantor agar tidak terlambat dirinya yang tinggal di pantai barat harus sudah bersiap semenjak subuh, agar tidak terlambat ikut apel pagi.

Sahabat saya itu juga bercerita pula, tentang beban pengeluaran bahan bakar yang harus dikeluarkannya setiap bulan, hampir setengah gaji yang dimilikinya sebagai pegawai negeri sipil dengan golongan II.C yang membuat istirnya terkadang curiga bahwa gajinya di selewengkan untuk perempuan lain.

Persoalan yang hampir sama pernah diceritakan oleh kawan kuliah saya di unhas dulu, menyangkut soal akses antara wilayah dan ibu kota. Kawan saya itu bercerita, ketika selesai kuliah dan pulang kampung di parimo, betapa repotnya untuk mengurus KTP karena desa tempat tinggalnya jauh dengan pusat ibu kota.

Belum lagi ketika kawan itu, mengurus surat izin usaha yang didirikanya, sambil bercanda dia bilang ke saya; ‘bro belum mulai usaha, modal saya sudah so habis buat izin usaha’. Inilah sekelumit persoalan tentang mengapa isue pemekaran wilayah menjadi hal yang senantiasa muncul di sulawesi tengah, apalagi sulawesi tengah memang merupakan provinsi terbesar di sulawesi yang memiliki beban inftsruktur dan kesajahteraan yang lebih besar karena persoalan aksesibilitas ini.

Kedua, koalisi dan komunikasi politik. Beban kandidat petahana yang juga besar adalah kemampuan membangun koalisi dan komunikasi politik yang baik. Bukan hanya pada masyarakat yang memilihnya, termasuk pada parpol pendukung maupun penantang.

Saya teringat kasus banggai kepulauan, ketika bupati petahana kurang mampu membangun koalisi dan komunikasi politik dalam partainya sendiri serta dengan partai pendukung. Hasilnya, bupati petahana akhirnya mendapatkan perlawanan oleh parpol-parpol pendukung termasuk partai dimana dirinya bergabung, membuat sampai menit terakhir, bupati petahana tidak mendapatkan parpol pendukung dan pada akhirnya gagal ikut dalam kontestasi pilkada.

Dua persoalan ini, adalah beban utama yang sering dihadapi oleh kandidat petahana ketika hendak mencalonkan diri kembali sebagai calon di priode kedua. Beban yang jika dikonversi menjadi isue publik pasti akan mempengaruhi sedikit banyaknya tingkat dukungan.

Kapasitas Penantang

Jika para kandidat petahana akan berbicara soal keberhasilan, pencapaian, termasuk menjawab sejumlah isue sensitif diatas, maka kandidat penantang akan bicara soal harapan serta solusi bagi problem pokok masyarakat terhadap sejumlah persoalan yang ada.

Nah, disinilah tantangan besar bagi para penantang di pilkada kabupaten Parigi moutong dan donggala. Kapasitas para penantang menjadi sangat dibutuhkan, utamanya dalam mengelola problem pokok masyarakat serta janji dan harapan yang akan ditawarkan. Termasuk membangun koalisi dan komunikasi politik antar parpol pendukung.

Adakah kandidat penantang yang mampu melakukannya di dua kabupaten tersebut? Kita lihat nanti dari hasil survei, bukan pada rumput yang bergoyang atau warung kopi yang selalu gaduh!

Satu tanggapan untuk “Membaca Dua Balon Bupati Petahana Parimo dan Donggala 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s