Nurdin Abdullah antara Idealitas dan Pragmatisme Politik

IMG_1757.jpg

Seorang kawan jurnalis bertanya kepada saya, bagaimana jika akhirnya Professor Nurdin Abdullah berpasangan dengan Rusdy Masse (RMS)? Saya hanya menjawab pendek, saya kurang tau pasti. Alasanya sederhana, karena saya belum melakukan survei dan pemetaan di sulawesi selatan.

Apalagi, saya tidak mengenal atau akrab dengan keduanya. Namun, jika ditanyakan peluang keduanya jika akhirnya NA berpasangan dengan RMS, menurut saya dari sejumlah data survei yang ada potensi menang jika NA berpasangan dengan RMS secara pragmatis, tentu akan lebih besar dibanding jika NA tetap berpasangan dengan Tanri Bali Lamo (TBL).

Mengapa? Pertama, RMS tentu punya kans yang lebih besar dibandingkan TBL dalam menambah dukungan suara pemilih bagi NA yang elektabilitasnya teratas diantara paket bakal Calon Gubernur atau wakil gubernur yang telah mendaklarasikan diri.

Hasil survei Poltracing di bulan juni misalnya, posisi Rusdy Masse secara elektabilitas berada di posisi ke 6 dengan presentasi 4,38 % sedangkan TBL yang berada di posisi 14 dengan elektabilitas masih 0,52%.

Kedua, RMS juga merupakan ketua partai Nasdem yang punya modal 7 kursi di DPRD Provinsi Sulsel yang bisa menjadi kekuatan awal untuk membangun koalisi dengan parpol lain, guna menggenapkan sarat dukungan 20% yang berarti tinggal mencari mitra koalisi lain seperti demokrat atau gerindra yang masing-masing punya 11 kursi.

Namun, jika koalisi Nasdem dengan dua partai tersebut yakni Gerindra dan Demokrat agak repot pada tingkatan DPP, maka pilihanya membangun koalisi dengan PDIP serta partai lain yang punya afilisasi kuat di koalisi pemerintahan, mungkin saja masih terbuka.

Ketiga, secara dukungan kemampuan melakukan mobilisasi politik yang berhubungan dengan kesiapan finansial, dari sejumlah cerita kawan saya mendengarkan Rusdy Masse memiliki kesiapan yang lebih baik dibandingkan TBL.

NA antara Idealistas dan Realitas Politik

Saya tidak punya pretensi apa-apa dengan pandangan ini, karena posisi saya hanya sekedar outsider yang membaca realitas dari permukaan. Namun, ada kesan yang saya tangkap secara ideal Profesor Nurdin Abdullah punya keinginan kuat berpasangan dengan Tanri Bali Lamo yang tentu soal apa alasanya, saya dan mungkin banyak orang lain tidak ketahui.

Namun demikianlah realitas dunia politik, kadang hal-hal yang ideal akan gugur dengan pertimbangan pragmatis. Fenomena yang banyak saya lihat pada arena pemilihan kepala daerah. Ketika hal-hal yang oleh calon dipandang ideal, digugurkan oleh realitas proses politik yang membutuhkan langkah kompromi.

Karena, ibarat sebuah pernikahan, tidak semua perjodohan yang dipaksakan akan berakhir seperti kisah Siti Nurbaya. Banyak pula perjodohan atas dasar kompromi dan awalnya terpaksa, karena sejumlah pertimbangan realistis juga terbukti berakhir bahagia bagi keduanya.

Namun, memang soalnya adalah pada rasa nyaman. Nyamankah, Nurdin Abdullah jika akhirnya berpasangan dengan RMS? Saya dan banyak orang lain, hanya bisa menerka-nerka karena pada akhirnya proses politiklah yang akan menentukan apakah NA dan RMS bisa berpasangan.

Karena menurut saya, peta paket cagub dan cawagub sulsel masih terus bergulir sampai satu atau dua bulan kedepan. Ketika batas akhir, masing-masing parpol menetapkan pasangan calon gubernur yang mereka dukung. Apalagi, masih ada dua partai besar yang punya kursi banyak di Sulsel, belum menetapkan langkah pasti kemana kapal mereka berlabuh, baik demokrat maupun gerindra.

Kita lihat bagaimana akhirnya, akankah paket NA-RMS akan terjadi? Atau NA-TBL mendapat tiket menuju pilgub sulsel 2018.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s