Orang-orang dari masa lalu

Kivlan Zein

Dari layar kaca, saya menyaksikan sebuah perdebatan orang-orang dari masa lalu di Indonesia Lawyer Club (ILC) soal ‘PKI hantu atau nyata’. Mereka yang berdebat, rata-rata adalah mereka yang datang dari masa lalu. Tema pembicaraan juga masih sama, siapa yang salah dan siapa yang benar dibalik peristiwa Gestapu.

Terus terang, saya geli sendiri melihat orang-orang tua itu masih sibuk saling salah menyalahkan. Ribut, pada sesuatu yang faktanya penuh dengan tafsir dan luka. Apalagi, ketika membahas soal film G30SPKI, apakah memuat kebenaran atau sekedar pesanan kekuasaan.

Saya jadi ingat, saat sidang ujian skripsi saya dahulu yang berjudul ; Rekonstruksi PKI dalam Film Gie. Saat sidang dimulai, ketua sidang yang juga pembimbing saya, mungkin sedang bercanda, memulai pembicaraan dengan bertanya, rahmad ko PKI atau bukan?

Saya hanya tersenyum, karena menurut saya penguji saya itu sedang bercanda. Bagaimana mungkin saya menjadi anggota PKI sementara saya lahir pada tahun 80-an, sebuah masa ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah dibubarkan dan menjadi partai terlarang.

Salah seorang penguji saya yang lain segera bereaksi atas pertanyaan pembimbing saya itu, dengan intonasi suara yang tinggi beliau langsung membela ; ‘saya pikir ini forum akademik, kita sedang mempersoalkan bagaimana sebuah film merekonstruksi PKI dan peristiwa 1965-1966. Bukan ingin menghukumi, apakah mahasiswa ini PKI atau bukan’.

Dialog panas kemudian berlanjut, diantara para penguji saling berebut bertanya soal pandangan saya akan PKI dan peristiwa 1965 dan 1966 yang terekam dalam film Gie. Kala itu, saya hanya menjawab kira-kira begini; ‘sebagai sebuah fakta politik menghilangkan PKI dalam sejarah politik negeri ini adalah kebodohan dan kebohongan.

Termasuk upaya menyatakan bahwa PKI tidak terlibat dalam perebutan kekuasaan di masa Soekarno menuju Soeharto, jelas dan tegas saya menyatakan PKI terlibat! Namun sejauh mana keterlibatan tersebut, apakah benar frasa mengerikan ‘darah itu merah jenderal, benar atau tidak disinilah perdebatan terjadi’.

Karena bagi saya, sebuah partai politik dan orang-orang politik pasti memiliki libido kekuasaan termasuk orang-orang PKI. Namun, apakah upaya mengambil alih kekuasaan tersebut dengan cara kekerasan, pembunuhan dan intimadasi benar terjadi, tentu itu sebuah perdebatan yang sangat tergantung referensi sejarah yang kita yakini.

Pada titik inilah persoalan menjadi tidak akan pernah selesai, karena setiap zaman punya konteksnya sendiri. Setiap, penulis skenario film punya subjektivitasnya masing-masing. Lantas, apakah perdebatan ini akan selesai? Bagi saya sampai kapanpun, perdebatan ini tidak akan pernah usai dan akan terus menjadi perdebatan sejarah.

Saya sepakat dengan pernyataan Sukmawati Soekarno, ‘lebih baik kita menatap kedepan dibandingkan terus berdebat akan masa lalu. Para generasi muda kita, punya tantangan zamanya sendiri. Mari kita sudahi perdebatan dari kita yang datang dari masa lalu’.

Bagi saya, pernyataan Sukmawati itu benar. Tantangan indonesia hari ini, jelas adalah persoalan kemiskinan, infrastuktur daerah yang belum merata, serta kesenjangan antara yang kaya dan miskin yang belum juga usai. Kawan-kawan saya kelompok muda, harusnya berpikir produktif tentang inovasi apa yang bisa kita lakukan yang bisa bermanfaat bagi orang banyak, dibandingkan terus ditakut-takuti soal ancaman PKI.

PKI sudah lama mati, demikian pula D.N. Aidit dan  Njoto juga sudah lama dikuburkan. Lantas masih pentingkah kita membahas orang-orang dari masa lalu itu? Membuka luka dan dendam, diantara pihak PKI dan mereka yang bukan PKI yang sama-sama menjadi korban politik zaman itu?

Terakhir, soal ideologi PKI Marxisme-Leninisme, apakah masih bisa hidup dalam praktek bernegara? Terus terang saya tidak yakin, karena setiap ideologi senantiasa butuh tafsir baru dan hanya laku pada konteks zamannya masing-masing. Bagi saya, kini gagasan Marxisme-Leninisme sudah bukan eranya lagi untuk bisa dijalankan di indonesia.

Karena yang dipikirkan oleh rakyat hari ini, utamanya kawan-kawan saya kaum muda-mudi indonesia, dari perjalanan saya ke-kampung-kampung dan desa-desa, mereka sedang sibuk berpikir dan bekerja, bagaimana bisa memaksimalkan potensi sumber daya yang mereka miliki untuk kesejahteraan keluarga, warga, serta bangsa dan negara, bukan berdebat siapa membunuh siapa?

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s