Meninggalkan Negara

 

e218d6d6111090793d8cb30426904e94

Membaca fenomena ke-indonesian hari-hari ini, saya jadi berpikir bisa jadi dalam waktu yang ‘tidak lama lagi’, negara benar-benar akan ditinggalkan dan ditanggalkan. Menjadi barang tua dan usang yang tidak lagi penting bagi warganya sendiri.

Apalagi, jika melihat konflik antar pengelola negara yang makin hari semakin menjadi-jadi. Lewat Televisi, kita menyaksikan konflik pimpinan DPR dan lembaga eksekutif dari presiden sampai menteri-menteri yang tensinya tidak pernah turun.

Belum lagi, soal terbaru yang paling menyita perhatian publik. Soal perbedaan keputusan antara lembaga peradilan kehakiman dan KPK, khususnya pasca keputusan praperadilan bebas untuk Setya Novanto yang dikeluarkan oleh hakim pengadilan Negeri Jakarta Selatan, telah membuat rakyat semakin pesimis, soal ‘kesetaraan hukum yang sama bagi warga negara’.

Tidak mau kalah, manuver panglima TNI soal isu pembelian sejata dengan Polri dan Menko Polhukam Wiranto, juga membuat publik menjadi bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kordinasi antar pimpinan lembaga negara selama ini berjalan?

Mengapa, sesama penjaga keamanan saling bersitegang dan berbeda informasi soal hal yang sangat penting, yakni kemanan negara.

Kekacauan dan ketegangan tersebut, juga menjalar ke berbagai tempat. Antar ormas tidak berhenti saling tuduh, soal siapa PKI dan siapa bukan? Mana ormas pendukung khilafah dan mana ormas yang nasionalis serta setia pada pancasila.

Konflik dalam institusi antar pengelola negara ini, semakin lengkap berdampak bagi negara, jika kita membaca sejumlah data statistik tentang angka kemiskinan indonesia yang terus naik, pada bulan maret 2017 Badan Pusat Statistik melansir penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan di indonesia mencapai 27,77 juta orang atau mencapai 10,64%.

Pada level daerah, oprasi tangkap tangan (ott) sejumlah bupati, walikota dan gubernur telah membuat rakyat kehilangan kepercayaan bahwa negara benar-benar hadir bersama rakyat, apalagi ‘ada’ untuk bekerja bagi kesejahteraan rakyat.

Meninggalkan Negara 

Melihat berbagai fakta tersebut, apalagi dengan mempelajari ciri generasi baru yang kini cenderung tidak tertarik pada ide seperti institusionalisasi, kelembagaan dan birokrasi, bisa jadi pada beberapa dekade mendatang, wujud negara, trias politika, menjadi sesuatu yang usang dan tidak lagi penting bagi individu-individu yang lahir pada era millenial.

Generasi baru yang tumbuh dengan prinsip tanpa tapal batas ini, sesungguhnya telah melampaui sekedar batasan prinsip-prinsip terbentuknya negara yakni kesatuan teritori, agama, ideologi, dan pengalaman sejarah yang sama.

Karena pengalaman bahasa, teritorial mereka telah berubah menjadi pengalaman dunia maya. Ketika ideologi dan bahasa serta interaksi keseharian yang berlangsung di arena maya, tidak lagi terikat pada batas-batasan tersebut, apalagi sekedar regulasi pemerintah yang selama ini selalu tertinggal jauh dari kemajuan peradaban teknologi informasi

Fenomana ini, sekali lagi akan menyebabkan negara menjadi sesuatu yang tua dan usang, apalagi pada tubuh pengelola negara sendiri kekacauan demi kekacauan terus terjadi, sebagai akibat dari cara politik dan prilaku politik generasi lama yang cenderung kurang memahami realitas baru yang tengah berlangsung.

Saya membayangkan, bisa jadi gambaran film fiksi kartun ilmiah yang berjudul Wall-E, benar-benar akan terjadi. Ketika kondisi bumi sangat mengkhawatirkan, lalu muncul orang seperti Shelby Forthright selaku CEO perusahaan Buy N Large.

Shelby Forthright, bersama perusahaanya melakukan evakuasi besar – besaran terhadap seluruh manusia di Bumi. Buy N Large lalu memindahkan seluruh penduduk keluar angkasa, disana tidak ada pemerintah, apalagi negara, semuanya hidup teratur dan segalanya dikerjakan dengan mesin dan seorang oprator yang disebut kapten.

Tanda-tanda seperti kisah film Wall-E saya saksikan, ketika berdiskusi dengan beberapa mahasiswa, bagi mereka membahas kehidupan pribadi Mark Zuckerberg dan istrinya Priscilla, jauh lebih menarik dibandingkan berpikir tentang bagaimana harusnya korupsi diberantas dan ditanggalkan.

Juga berbisnis Startup, mengikuti perkembangan produk Alibaba yang dimiliki Jack Ma jauh lebih keren, dibandingkan bicara soal pengelolaan APBN dan arah kebijakan ekonomi politik pemerintahan. Apalagi mereka diminta untuk berdebat soal ideologi, serta berbagai hal-hal yang menjadi konsumsi dan perdebatan generasi lampau, sudah hampir pasti semuanya adalah barang usang dalam pikiran generasi baru.

Fakta-Fakta ini, menjadikan saya sendiri bertanya masih pentingkah kita membahas dan terus menerus berdiskusi tentang negara, peran negara dan aktor-aktor dalam tubuh negara. Karena faktanya, negara seperti indonesia terlalu lelah menghadapi konflik antar aktor didalam tubuhnya sendiri, serta tantangan kemajuan teknologi informasi diluar diri negara telah memaksa peran negara semakin mengecil.

Mungkin beberapa dekade kedepan, bagi generasi millineal negara tidak lebih hanya akan menjadi tukang stempel status identitas kartu penduduk. Atau dalam hal yang lebih sedikit keren, negara hanya penting untuk pengurusan pasport untuk jalan-jalan keluar angkasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s