Pidato Anies

0D2A5647.JPG

Pidato perdana Gubernur Anies Baswaden di balai kota Jakarta tadi malam, langsung mendapat ‘sambutan panas’. Apalagi, oleh mereka yang sejak awal tidak mendukungnya. Seolah jawaban penantian bertahun-tahun, para haters akhirnya menemukan amunisi baru untuk menyerang sang gubernur terpilih.

Ketika pidato yang dinantikan akhirnya tayang secara live di beberapa televisi lokal dan nasional. Maka, para haters warga maya yang anti Anis menyimak dengan seksama setiap kata yang disampaikan. Layaknya, menantikan pidato siaran radio pada zaman pergerakan kemerdekan di masa lampau.

Lalu, benar apa yang dinantikan terjadi. Seperti pernyataan sebuah iklan, ‘Aku tau yang Kau mau’, Gubernur Anies pada bagian akhir pidatonya, memberikan amunisi itu, kepada para pendukung sekaligus bagi penentangnya.

Anies Baswedan menyingung dua kata kunci yang sudah lama dinantikan para haters, ‘pribumi dan kolonialisme’. Hal yang memang menjadi kekuatan sekaligus kelemahan Anies sendiri. Tidak butuh waktu lama, linimasa media sosial langsung bergemuruh dan kata ‘pribumi serta kolonialisme’ kembali populer.

Padahal, jika mau jujur banyak hal yang baik yang disampaikan Anies, lalu mengapa hanya dua kata itu yang kemudian di jadikan viral dan hedline utama para haters?

Jawabanya sederhana, karena memang tidak dapat dipungkiri Anies layaknya Donald Trump yang terus bicara “America is for American”, Thaksin Sinawarta di Thailand, Silvio Berlusconi Italia, termasuk Rodrigio Duterte di Filipina, adalah sejumlah pemimpin yang terpilih dengan membangkitkan propaganda identitas sebagai komoditas politik.

Sebuah propaganda politik yang pada titik tertentu memiliki magnet, karena pada realitas empiris seolah sesuai dengan kenyataan. “Tengoklah tembok-tembok jakarta ketika warga asli betawi tergusur, bilangan jalan protokol seperti sudirman diantara jejeran gedung tinggi dimana hampir tidak ada lagi lahan yang dimiliki oleh pribumi”.

Anies paham betul, propaganda identitas dan mencampurnya dengan realitas empiris akan kesejangan sosial, akan mudah membangkitkan ‘solidaritas kekitaan yang tertindas, ketika sejumlah orang terasing dari tanah dan kampung halamanya sendiri bangkit untuk melawan’.

Maka tidak heran, jika akhirnya Anies berpidato soal tersebut, karena mereka yang memilihnya adalah mayoritas yang selama ini adalah kelompok yang tersisihkan oleh minoritas berkuasa yang memiliki modal ekonomi politik.

Lalu apa yang salah?

Sebagai seorang politisi, Anies tidak salah. Dirinya, paham betul profil ceruk massa pendukung dirinya dan Sandi yang mayoritas islam, betawi, sebahagian jawa, serta kelompok yang tergusur dan benci atas kasarnya mulut Ahok.

Maka sekali lagi, Anies tidak salah sebagai politisi yang menjaga momentum solidaritas yang kemudian ditekankan kembali, dibangkitkan lewat pidato tadi malam yang menurut saya bertema satu, ‘kemerdekaan warga jakarta atas kolonialisme non pribumi’.

Jika ada kesalahan, ya mungkin satu hal, Anies lupa dirinya masih keturunan arab.

Namun, pada sisi berbeda sebagai seorang yang selama ini dikenal terus berbicara soal tenun kebangsaan, tokoh pendidikan, rasanya Anies akan mengalami kecanggungan masuk pada arena populisme politik seperti yang kini dijalankannya.

Karena memainkan isu politik identitas, sama artinya harus terus menjaga solidaritas identitas tersebut sebagai modalitas politik. Pertanyaan saya, mampukah Anies menjaga solidaritas kepentingan tersebut dalam jangka panjang?

Membangun hubungan baik terus menerus dengan kelompok berbasis kedaerahan yang cenderung primordialis, forum-forum lembaga islam yang non moderat, partai politik diluar koalisi pemerintahan, serta tentu akan berhadapan dengan pemerintah pusat yang diisi oleh partai berkuasa yang menjadi lawan Anies-sandi pada pilkada kemarin, bukan hal mudah dan membutuhkan stamina ekstra.

Apalagi tahun 2019, kita kembali akan menghadapi pemilihan presiden dan legislatif secara bersamaan yang tentu tensinya akan mulai memanas pada tahun 2018. Mampukah Anies-Sandi bersetia dengan jalan dan gaya politik yang telah dipilihnya?

Kita lihat nanti, namun sebelum itu semua saya sebenarnya menantikan satu janji Anies, kapan menutup Alexis?

 

Satu tanggapan untuk “Pidato Anies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s