‘Membaca Bola liar, Pemilihan Gubernur Sulsel’

 

makassar_20171022_215934
sumber foto : Tribun Timur

 “Berkoalisinya PDIP, PKS dan Gerindra bersama Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaiman atau  pasangan  Nassa, membuat panggung politik pemilihan gubernur sulawesi selatan akan sepi saling serang isu partai penista agama versus partai pendukung ulama.

Tidak seperti pilkada Jakarta, bola liar partai kaum pribumi dan pendukung asing juga akan absen. Apalagi, teriakan partai kafir atau balasan tuduhan partai pendukung intoleransi, rasanya tidak akan nyaring terdengar di arena linimasa jejaring sosial publik sulawesi selatan”.

Karena ini memang pilkada sulsel, bukan pemilihan gubernur jakarta…

 

Menurut saya, pemilihan Gubernur sulsel 2018 adalah titik balik dari tensi tinggi pilkada DKI. Pilgub Sulsel, juga merupakan antitesis dari polarisasi pemilihan Presiden yang lalu. Ketika seolah-olah, fragmentasi dua kekuatan politik antara partai pendukung pemerintah dan kubu partai oposisi tidak akan pernah bisa bersatu.

Fenomena Pilgub sulsel, juga menunjukan kebenaran doktrin politik masa lalu; ‘tidak pernah ada musuh abadi dalam politik yang ada hanya kepentingan abadi’. Demikianlah, mungkin kesejatian dari pangung yang bernama politik.

Ketika para elit dengan mudah melakukan perkawinan politik, sementara para pasukan lapangan masih berperang dan belum bisa berdamai dengan kenyataan, dimana jejak status-status facebook mereka masih menyisakan kemarahan, namun pada faktanya kini para petinggi partainya duduk bermesraan dengan pihak yang dulu bersebrangan.

Pemilihan gubernur sulsel, utamanya kehadiran paket koalisi parpol yang bergabung dengan koalisi bupati bantaeng dan adik menteri pertanian itu, telah menunjukan realitas pragmatis politik indonesia dan kebenaran tidak adanya fatsun politik yang menjadi garis pembeda, antara satu partai dengan partai yang lain di negeri ini.

Sama seperti terkejutnya saya, pada realitas pilkada tahun 2015 yang lalu. Ketika itu, di sebuah kabupaten yang baru dimekarkan di sulawesi tengah, dimana komposisi muslim dan non muslim cenderung berimbang, anehnya justru hampir seluruh partai islam termasuk PKS, mendukung kandidat non muslim dibandingkan calon muslim sendiri.

Lalu setahun kemudian, di media sosial jelang pilkada jakarta saya menemukan orang-orang dari partai yang sama, sibuk berteriak akan kewajiban memilih pemimpin muslim dengan mengutip ayat Almaidah 51 untuk Ahok.

Padahal, rasanya belum beberapa lama saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, realitas dimana partai-partai bermerek islam tersebut justru mendukung kandidat non muslim tanpa menjadikan surah Almaidah sebagai dasar memilih pemimpin.

Standar ganda elit politik parpol inilah yang tanpa sadar membuat parpol semakin lama sepi peminat, bahkan cenderung ditinggalkan oleh pemilih. Ini pula alasan dibalik layar, mengapa demensi afeksi pemilih atau PartaiID (identifikasi pemilih dengan parpol) semakin lama semakin mengecil dan cenderung membuat hubungan pemilih dengan parpol bukan lagi karena alasan ideologis, namun lebih karena alasan pragmatis.

Karena tawaran kedekatan ideologis dan hubungan antara individu dengan parpol, semakin lama semakin tergerus oleh berbagai hal yang bersifat pragmatis dan cenderung membentuk hubungan transaksional antara pemilih dan mereka yang dipilih.

Bola liar Pilgub sulsel; Mantan Napi, Dinasti atau Inkonsistensi

img_660_442_Ilustrasi_Pilgub_Sulsel_2018_rasi_pilgub

Membaca kondisi aktual pemilihan gubernur sulsel yang semakin mengerucut pada kemungkinan tiga pasangan, jika saya amati hanya akan menyisakan tiga isu besar dan sayangnya, semua akan bermain pada latar belakang personal figur yang akan bertarung.

Pertama, perbincangan tentang sosok Nurdin Halid sebagai mantan napi pasti akan semakin panas pasca penetapan resmi pasangan. Berbagai bola liar tentang masa lalu mantan bos PSSI ini, akan kembali bermunculan dan menjadi bahan bagi kampanye menyerang calon gubernur golkar tersebut.

Kedua, politik dinasti. Kalau isue ini memang senantiasa disematkan pada trah keluarga Yasin Limpo yang kali ini menurut saya akan kembali bermain menyerang Ikhsan, mantan bupati gowa saudara gubernur petahana Syahrul Yasin Limpo.

Ketiga, soal inkonsistensi inilah yang akan disematkan pada pasangan Nassa yang memilih berganti pasangan ditengah jalan yang bisa jadi karena alasan desakan partai politik. Bola liar atas isu tersebut, kini mulai banyak terbaca diberbagai arena media sosial.

Membaca  pilgub sulsel , saya yakin bola- bola liar isu pilgub DKI dan politik Nasional tidak akan bermain di sulawesi selatan. Walau sebenarnya, kualitas perdebatanya belum beranjak jauh karena kemungkinan pertarungan kampanye politik hanya akan berfokus pada ‘penjulukan antara memilih mantan napi, politik dinasti atau calon yang inkonsistensi’.

Jika para calon dan tim mereka memang punya komitmen membangun daerah, hendaknya kampanye yang dimunculkan bukan sekedar bermain pada bentuk ‘Name Calling’ layaknya yang kini banyak beredar, sudah saatnya publik sulsel disuguhkan adu gagasan yang lebih cerdas dalam membangun daerah.

Diferensiasi yang dibangun harus berdasarkan tawaran program yang membedakan antara satu calon dengan calon lain, karena ini adalah momentum menjadikan pilgub sulawesi selatan menjadi contoh pembelajaran politik yang nyata, dibandingkan isu receh yang bermain di arena politik ibu kota.

Walau, mungkin kontestasi pilkada sulsel sejak awal belum sempurna dalam menyuguhkan pertarungan fatsun dan konsistensi garis politik. Karena masih kental akan aroma kompromi dan negosiasi politik, dibandingkan konsistensi gagasan dan tindakan politik.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s