Pilwali Makassar Bagian 1: Antara Petahana dan Penantang?

 

IMG_0855.jpg
Dokumentasi : Ekspos Survei Idec

Hasil survei Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC) pada bulan September-Oktober 2017, telah menyajikan gambaran awal bagaimana polarisasi kekuatan masing-masing calon yang ramai dibicarakan akan ikut bertarung pada pemilihan walikota makassar.

Beberapa hal penting dari temuan survei ini, bisa terbaca yakni dari masing-masing calon popularitas dan elektabilitas petahana Ramdhan Pomanto, masih mendominasi dibandingkan 13 nama lain yang masuk dalam survei dengan popularitas mencapai 58,9 % dan elektabilitas 48%.

Kedua, terbaca 4 kandidat potensial yang bisa menjadi lawan untuk Walikota Petahana Ramdhan Pomanto yakni Syamsu Rizal dengan Popularitas (23,%) elektabilitas (11,7%), Irman Yasin Limpo dengan popularitas (18,9 %) dan Elektabilitas (7,9%) Rahmatika Dewi Popularitas (9,8 %) dan Elektabilitas 4,7 serta Munafri Arifuddin dengan popularitas (8,9 %) dan Elektabilitas (4,8%).

Antara Paket Petahana dan Penantang

Pasca Idec merilis hasil surveinya, beberapa hari kemudian masing-masing calon bergerak. Syamsu Rizal Wakil Walikota petahana, akhirnya memilih berpasangan dengan Iqbal Jalil, Ramdhan Pomanto- Indira Mulyasari, sementara Munafri Arifuddin memilih berpasangan dengan Rahmatika Dewi.

Lantas, bagaimana peluang paket masing-masing calon? Berdasarkan survei ini, jika Pemilihan Walikota Makassar dilaksanakan hari ini jelas paket petahana akan menang mudah dibandingkan calon lain. Namun, Pemilihan walikota makassar tidak dilaksanakan hari ini, masih ada beberapa bulan lagi dimana segala kemungkinan bisa terjadi.

Pertanyaan yang bisa kita ajukan, apakah para calon penantang masih memiliki peluang? Jawabanya tentu hanya dua, ‘bisa Ya dan bisa tidak’. Para kandidat penantang bisa menjadi lawan kuat bahkan mengalahkan petahana dalam pandangan saya, setelah membaca hasil survei Idec, hanya bisa terjadi jika paling tidak didukung sedikitnya tiga syarat penentu.

Pertama, kemampuan konsolidasi pemilih. Sebenarnya jika dikalkulasi secara statistik, jumlah pemilih kota makassar berdasarkan data pemilihan presiden 2014 yang lalu berkisar diangka 1,005,446 juta orang. Jika kita menghitung angka partisipasi pemilih berdasarkan rata-rata nasional yakni 77,5 % maka total jumlah potensial pemilih yang akan memilih di kota makassar sekitar 779.220 pemilih.

Berdasarkan angka itu, jika akhirnya petarungan pilkada makassar menghadirkan tiga pasang calon, maka untuk menang paket pasangan calon membutuhkan sekitar 389-400 ribu suara. Dibutuhkan rata-rata sekitar 100-155 orang pemilih dari total 2,508 Tps se-kota makassar.

Kedua, menguasai pertarungan darat dan jejaring sosial. Arena pilkada memang arena pertarungan darat dan udara, untuk menang di pemilihan walikota makassar berdasarkan hasil survei ini, setiap calon tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan udara dengan pencitraan media maupun sekedar baligho.

Dibutuhkan pasukan darat yang kuat dan bisa langsung berada di arena pemilih dengan berbasis pada tps masing-masing, untuk menghadapi kekuatan kandidat petahana. Artinya, jika dikalkulasi berdasarkan waktu yang ada, dibutuhkan sekitar 5000 relawan yang berbasis TPS sebagai modal awal menghadapi petahana, adakah penantang yang memiliki ini?

Selain itu, hasil survei ini juga membaca pengaruh konsumsi media sosial sebagai refrensi pemilih juga cukup besar dengan jarak presentasi 11-15 %. Tentu selain baligho, para kandidat mesti mempersiapkan tim media sosial yang tangguh.

Ketiga, program dan visi yang kuat. Modalitas petahana, berdasarkan survei ini sebenarnya ditopang oleh dua hal yakni popularitas dan kedua adalah tingkat kepuasaan yang baik akan kinerja petahana dalam pandangan publik kota makassar.

Hal ini yang harus dijawab oleh para penantang, yakni kemampuan membuktikan bahwa mereka juga memiliki program yang lebih baik, lalu stretagi membangun kepercayaan kepada publik bahwa mereka mampu mengalahkan pencapaian kepuasaan akan walikota petahana saat ini.

Adakah hal tersebut dimiliki oleh para penantang ? Saya belum bisa membacanya dengan pasti. Karena sampai saat ini, hampir semua calon yang menyatakan diri akan maju ke arena pemilihan walikota, belum memiliki dukungan parpol yang pasti ?

Hal lain yang perlu juga harus diperhatikan oleh para calon selain soal popularitas, elektabilitas dan akseptabilitas, adalah soal isi tas, karena ada 19,5 atau hampir 20% pemilih dari hasil survei ini akan mengubah pilihan karena faktor isi tas.

Kita nantikan episode selanjutnya…

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s