Setya Novanto, Cermin DPR Kita

624511_620
Sumber Foto : Kompas Online

Pada suatu perbincangan dengan Guru saya, beliau berkata; ‘Ananda ketahuilah, pemimpin adalah cermin dari bagaimana mayoritas rakyatnya. Jika pemimpin itu buruk, maka sebenarnya rakyatnya mayoritas hidup dalam keburukan.

Jika pemimpin itu baik, maka mayoritas rakyatnya baik. Itulah hukum semesta, sesuatu yang menjadi tanda dan penanda sebuah masyarakat. Karena pemimpin adalah penanda dari suatu komunitas, suatu bangsa atau suatu negara. Baik pemimpinya, baik rakyatnya’.

Petuah guru saya itu, begitu membekas dalam diri saya sampai kini. Termasuk ketika menyaksikan bagaimana ketika sidang Setya Novanto digelar. Dengan penuh drama mantan ketua DPRRI itu, menolak menjawab pertanyaan hakim, diam seribu bahasa dan seolah sedang dalam kondisi kepayahan, tidak berdaya sama sekali.

dokter-dari-rscm-memberikan-keterangan-kepada-hakim_20171213_204250

Padahal, jelas-jelas para dokter yang memeriksa menyampaikan Novanto dalam keadaan sehat. Jika meminjam analogi sang guru, maka bisa jadi begitulah mayoritas DPR kita yang dipenuhi oleh sandiwara, kebohongan dan permainan lakon.

Tentu banyak yang akan membantah, itu oknum. Masih banyak anggota DPRRI kita yang baik dan bersih. Untuk itulah, sekali lagi saya ingin menyampaikan, Novanto adalah cermin dari mayoritas. Karena cermin adalah pantulan dari realitas, bukan realitas utuh itu sendiri. 

Novanto Cermin Legislatif Kita

Drama demi drama yang dimunculkan oleh Novanto, adalah gambaran dari cermin dan sandiwara kebanyakan anggota legislatif kita. Mulai dari kegemaran Setya Novanto untuk tidur dalam berbagai acara, kebiasaan untuk bermain sandiwara dari kecelakaan tiang listrik, sampai sakit saat sidang.

932952288

Muak, marah dan tertawa menjadi satu dalam benak kita, melihat pola dan tingkah Setya Novanto. Namun, pada siapakah sebenarnya rasa muak, marah dan tawa sinis kita berikan ? Sebenarnya mayoritas kita, muak dengan tingkah para pimpinan dan anggota DPR yang suka bermain sandiwara.

Kita marah, pada mereka yang tidak berani secara jantan mengakui bahwa mereka bersalah. Pengecut menghadapi hukuman atas perbuatan yang didakwakan. Tawa sinis kita tujukan untuk pikiran mayoritas politisi senayan yang berpikir rakyat masih bisa di bodoh-bodohi dengan mudah, melalui drama dan sandiwara yang semakin hari semakin tidak lucu.

Sebagai sebuah cermin, Setya Novanto adalah cermin yang terang dari wajah politisi senayan yang senang kepura-puraan. Sampai pada akhirnya, mereka percaya kepura-puraan yang mereka ciptakan sendiri sebagai sebuah kebenaran dan kenyataan.

Celakanya, bagaimana kita bisa berharap banyak dengan mental dan moral Novanto dan kawan-kawanya politisi DPR. Mempercayakan mereka untuk membuat undang-undang yang benar bagi kehidupan bernegara yang kita jalani, mengatur kehidupan sosial dan ekonomi nasional yang lebih baik.

Bagaimana mungkin, kita bisa yakin bahwa mereka bisa mengontrol keuangan negara dengan baik. Uang yang didapat dari hasil pajak kita. Uang yang dikumpulkan dari kekayaan alam yang kita punya untuk mereka atur, sementara wajah mereka penuh kepalsuan.

Apakah mereka tidak sadar, nilai lebih yang dimiliki oleh seorang anggota DPR adalah kehormatan yang melekat pada dirinya. Karena itulah, setiap anggota legislatif saat menjalankan tugas, harus dipanggil dengan sebutan ‘yang terhomat’.

Karena apa yang mereka mereka kerjakan, adalah kerja-kerja yang sebenarnya sangat terhormat. Namun dimanakah kehormatan, jika kita bercermin pada diri Setya Novanto? Rasanya tidak ada lagi kehormatan, pada lembaga yang mestinya terhormat itu.

Setya Novanto, adalah Kita!

Terlepas dari rasa muak, kemarahan, tawa sinis atas tingkah dan pola Setya Novanto. Harusnya kita sebagai publik, juga mulai belajar lebih baik. Sudah waktunya, lebih selektif dalam memilih para wakil-wakil yang akan kita berikan gelar sebagai yang terhormat dengan tugas-tugas yang penuh kehormatan.

Masa pemilu sudah semakin dekat, Setya Novanto adalah sosok yang di munculkan oleh Tuhan, agar kita bercermin dan mengevaluasi diri masing-masing. Supaya kedepan, kita lebih baik dalam memilih para wakil-wakil yang akan kita berikan kewenangan lebih untuk menjadi suara, mata dan teliga kita di DPR.

Kita sebagai rakyat, juga harus ikut bertangung jawab dengan apa yang terjadi dalam lembaga DPR. Karena sistim demokrasi kita memberikan kewenangan penuh kepada rakyat untuk memilih wakil-wakilnya, bahkan memilih secara langsung presidenya.

Dengan kewenangan yang besar yang kita miliki, sudah waktunya momentum pemilu 2019 di jadikan ajang untuk memilih wakil yang pantas. Mereka yang memang siap sedia dengan tugas dan kewenangan yang diberikan oleh kita, sebagai pemberi mandat.

Karena Novanto dan kaumnya, tidak akan mungkin duduk di DPR tanpa kertas suara yang kita berikan. Sudah menjadi kewajiban kita dengan waktu yang tersisa terus melihat, memantau, siapa dan parpol mana yang masih bisa kita berikan mandat.

Karena sebenarnya, wajah DPR juga adalah cermin besar dari wajah kita sendiri. Karena bukankah, mereka adalah wakil-wakil dari kertas suara yang kita pilih pada pemilu ?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s