Jurnalisme Kita dalam With Lucy and the Sky…

 

20171220_154929.jpg “Bagi saya, Novel Koran Kami, With Lucy and the Sky adalah cara bercerita untuk mempertahankan nilai-nilai Jurnalisme. Format dan bentuk media, bisa berubah. Saya tidak anti pada perkembangan media baru. Namun nilai-nilai dasar Jurnalisme seperti kebenaran dan akurasi, harusnya tidak berubah atau berusaha dikaburkan batasnya”

Demikian, penjelasan singkat Bre Redana. Ketika saya bertanya, bagaimana kira-kira akhir dari kisah koran yang dikelola oleh Santosa Santiana dan kawan-kawanya? Apakah koran itu berakhir menjadi senjakala atau justru tetap bertahan di tengah gempuran media digital.

Karena terus terang, sampai akhir novel Koran Kami, With Lucy and the Sky saya tidak menemukan jawaban yang pasti. Baru kemarin sore, ketika bertemu dan bertanya langsung dengan Om Bre, rasa penasaran saya akhirnya terjawab.

Menurut saya, Om Bre yang mantan redaktur budaya kompas itu. Dalam novelnya Koran Kami, With Lucy and the Sky tidak ingin meramalkan masa depan industri koran. Bukan pula, ingin bercerita tentang pertarungan industri cetak versus media online.

Namun, beliau ingin berkisah tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai suci dari kerja-kerja jurnalisme. Tentang pagar api berita yang harus dijaga atau sikap skeptisme seorang jurnalis yang harus terus dipelihara.

Om bre, mengingatkan saya pada anjuran Tom Friedman . Bahwa, seorang jurnalis harus selalu meragukan, bertanya dan menolak kesimpulan-kesimpulan umum. Karena itulah, cara media untuk bisa terus hidup dan mendapatkan pembaca.

20171220_160135.jpg
Bubar acara diskusi dan peluncuran Novel di Kafe Cikini 17. Saya yang dari tadi gelisah,menepi menuju ruang kafe bagian belakang. Mencari kopi, lalu seperti biasa, membakar rokok. Melepaskan kebutuhan akan asap yang dari tadi terus memanggil di impuls saraf.

Tidak lama kemudian, Om Bre datang menghampiri tempat duduk saya. Kembali kami, melanjutkan diskusi yang terpotong durasi. Diskusi yang memang hanya berlangsung dua jam, itupun saya tidak ikut secara penuh, karena alasan yang sangat mainstream, macet jakarta!

‘Jurnalisme kita kehilangan banyak hal yang bernilai menurut saya’, lanjut Om Bre membuka pembicaraan. Kali ini, beliau melepas topi. Membuat rambut panjang putihnya terurai semakin jelas.

Apa yang hilang pak? Tanya saya yang kembali penasaran.

Begini bung, pertama seperti yang saya sampaikan tadi jurnalisme kita kehilangan semangat kecurigaan. Industri media cetak, kini layaknya pabrik sepatu yang tejebak pada keseragaman.
Lihat, headline koran kita dari hari kehari. Semuanya berbicara topik yang sama, fokus yang sama, sehingga publik kita mendapatkan berita yang seragam. Akhirnya, tidak heran koran ditinggalkan, karena semuanya bicara hal yang sama tidak ada hal yang menarik lagi.

Kedua, ritme kerja jurnalisme kita dengan alasan berburu aktualitas telah menjadikan akurasi semakin terpinggirkan. Kondisi yang parah, karena akan membuat kerja jurnalisme sekedar industri dan pabrik informasi, bukan lagi sarana refleksi dan produksi pengetahuan.

20171220_165919.jpg

Saya menghisap rokok semakin dalam.

Lalu pertanyaan baru meluncur dari bibir saya. Apakah ini karena ciri generasi zaman now yang punya kebiasaan instan dan gemar akan informasi selintas?

Bung, tadi anda menyebut generasi zaman now. Generasi kekinian, menurut saya mereka pasti punya cara konsumsi berita sendiri. Persoalanya bukan disitu, menurut saya soalnya kembali pada cerita media tadi yang terbiasa seragam dan jurnalisnya kehilangan sikap skeptisme.

Anda bayangkan, jika kita lihat pake prespektif Cultural Studies. Banyak fenomena kebudayaan keseharian yang sebenarnya menarik diangkat oleh media, ketimbang sekedar terus meliput Jokowi kemana saja atau soal intrik dibalik munas partai golkar.

Bagi saya, fenomena  dibalik menjamurnya, pelaku demo bayaran di jakarta, adalah berita politik yang tidak kalah penting. Daripada terus, membicarakan secara seragam kisruh Golkar atau korupsi Novanto.

Ada apa di balik para underground politik ini, para demonstran pesanan yang menjadi mesin politik baru diluar institusi politik resmi seperti parpol?

Saya juga, lebih tertarik menulis tentang fenomena anak-anak muda yang sebelumnya tidak berpartai, lalu akhirnya membentuk partai seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Apa motivasi mereka? Apakah mereka benar-benar ingin membawa warna baru politik kita atau sekedar ingin berkuasa?

Skeptitisme jurnalisme lain yang juga penting dihadirkan, misalnya pada fenomena urban religius. Kasus first travel misalnya, harusnya yang di ulas bukan sekedar pada penipuan yang dilakukan pasangan suami istri Anniesa Hasibuan dan Andika Surrachman.
Tapi bagaimana, startegi promosi bisnis religius yang mereka dan banyak travel haji dan umrah jalankan. Ketika ibadah kepada Tuhan, menjadi ajang perlombaan menjual kenyamanan hotel bintang lima, lengkap dengan syahrini sebagai ikonya.

Sampai kapan, semua ini kita pertahankan ?

WhatsApp Image 2017-12-21 at 12.47

Saya hanya diam, karena menurut saya sama seperti pertanyaan saya menyangkut bagian akhir dalam Novel Koran Kami With Lucy and the Sky, baik saya maupun Om Bre Redana sendiri sulit untuk menjelaskanya.

Karena segala kemungkinan tentang masa depan Jurnalisme kita masih sebuah misteri. Tidak ada yang tau pasti. Namun, seperti kata Om Bre Redana dari awal, prinsip-prinsip dasar dan suci dari kerja-kerja jurnalisme harus tetap kita pertahankan.

Dalam kepala saya, tiba-tiba melintas kata-kata Seno Gumira Ajidarma. ‘Ketika Jurnalisme di bungkam, maka sastra harus bicara’. Karena itulah, mungkin Om Bre menulis Novel Koran Kami With Lucy and the Sky. Kesimpulan yang hadir dari kepala saya sendiri, sambil pamit pulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s