Duet dan Duel Seru, Pilwali Makassar 2018

 

DIAMI

Bagi saya, pemilihan walikota makassar selalu menarik untuk diikuti. Berbeda dengan daerah lain, pilwali kota ini senantiasa punya banyak kejutan. Misalnya saja, siapa sangka lima tahun lalu Ramdhan Pomanto sosok yang masih asing bagi sebahagian besar warga kota makassar, akhirnya terpilih menjadi walikota.

Mengalahkan sembilan pasangan calon lain, dari sepuluh calon yang bertanding pada pilwali makassar tahun 2013. Nama-nama dengan sejarah ketokohanya sendiri-sendiri, mampu dikalahkan oleh duet pasangan Danny-Ical yang disokong oleh Ilham Arif Sirajudin mantan walikota petahana kala itu.

Kini di tahun 2018, makassar kembali membuat kejutan.Jika pada kontestasi pemilihan walikota yang lalu, makassar banjir calon. Pada pemilihan walikota kali ini, makassar minim calon. Sampai batas pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPU), hanya ada dua pasangan yang akhirnya bisa bertarung dalam pemilihan walikota makassar juni 2018 yang akan datang.

Menariknya, pada kontestasi kali ini kandidat walikota petahana Ramdhan Pomanto justru maju lewat jalur independen. Sementara kandidat penantang justru menguasai hampir seluruh parpol dan kursi di DPRD kota makassar.

Ada apa dengan kandidat petahana, mengapa begitu phobia dengan parpol bukankah hampir lima tahun ini, Ramdhan Pomanto punya ruang untuk membangun komunikasi politik dengan partai yang ada? Apakah ini indikasi, bahwa memang selama ini memang komunikasi politik antara walikota petahana dengan parpol sulit terbangun? Sampai pada akhirnya, justru memilih jalur perseorangan bukan melalui partai politik?

Sekali lagi, makassar memang selalu punya banyak kejutan.

Duet dan Duel Seru Pilwali Makassar

IMG-20171225-WA0026 

            Hampir pasti, pemilihan walikota makassar kali ini akan berlangsung seru, penuh drama dan tentu saja bisa berlangsung keras. Pasalnya, hanya akan ada dua pasangan. Pemilih hanya di sodorkan dua pilihan, mereka yang akan memilih petahana, Ramdhan Pomanto atau mereka yang memilih penantang Munafri Arifudin.

Jika dilihat dari latar belakang calon, baik Danny Pomanto maupun Appi sama-sama berlatar belakang profesional bukan politisi. Appi, dikenal sebagai Dirut/CEO Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) yang memang punya barisan pendukung fanatik di kota Makassar.

            Sementara itu, Ramdhan Pomanto atau lebih dikenal Danny Pomanto, adalah mantan dosen Arsitek Universitas Hasanuddin sekaligus juga seorang konsultan tata ruang. Menariknya, wakil keduanya Indira Mulyasari dan Rahmatika Dewi sama-sama perempuan, berlatar belakang politisi dari parpol yang sama.

            Berpindah dari personal history, kedua pasangan calon tersebut. Jika dilihat berdasarkan diferensiasi (pembeda) struktur politik yang mereka gunakan. Nampaknya kedua pasangan calon memainkan dua pendekatan yang sangat berbeda satu sama lain.

Ramdhan Pomanto akan terus bermain pada isu koalisi dukungan rakyat, menyesuaikan diri dengan dukungan jalur jalur perseorangan yang dipilihnya. Sementara itu, Munafri Arifudin akan bermain pada koalisi besar dukungan parpol yang mayoritas bergabung pada Appi-Cicu.

Kedua strategi ini,tentu punya konsekuensi logis masing-masing. Menggunakan jalur perseorang seperti yang dilakukan oleh Ramdhan Pomanto tentu bukan hal mudah, mulai dari pengorganisasian tim lapangan sampai pada mengelola struktur politik yang dibangun.

            Kalaupun, Ramdhan Pomanto mengandalkan RT dan RW, serta jaringan komunitas yang katanya loyal kepada dirinya. Pertanyaan yang bisa diajukan, apa yang menjadi basis loyalitas pengikat tim DIAmi? Apakah cukup mengandalkan brand ‘makassar jangan mundur lagi’ dan pamer sejumlah capaian pemerintahan menjadi pengikat struktur politik dan loyalitas pemilih ?

            Sementara itu, pasangan Appi-Cicu yang menggunakan kekuatan besar koalisi parpol juga sebenarnya tidak punya jaminan, bahwa dengan ramainya parpol yang berkumpul akan lebih mudah melakukan pengorganisasian pemenangan?

            Apalagi, selama ini bukan rahasia umum mesin parpol tidak banyak berfungsi pada masa pilkada. Faktor figuritas, kemampuan melakukan mobilisasi pemilih, serta kepercayaan publik atas figur calon, justru sangat menentukan keterpilihan dalam arena pilkada.

            Jika ditanyakan kepada saya, mana yang efektif diantara keduanya. Saya hanya bisa menjawab tergantung racikan dari masing-masing tim pasangan calon. Seberapa mampu, calon idependen membangun ikatan emosional dengan pemilihnya dan seberapa kuat calon parpol dalam memacu struktur mesin parpol pendukung. 

Simulasi Survei

         Berdasarkan hasil survei Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC) pada paruh akhir tahun 2017 yang lalu. Sebelum akhirnya pasangan calon walikota makassar hanya mengerucut pada dua pasangan, yakni Ramdhan Pomanto- Indira Mulya Sari dan Munafri Arifudin- Rahmatika, memang nama Walikota makassar Ramdhan Pomanto memiliki tingkat keterpilihan paling tinggi mencapai angka sekitar 48%.

            Sementara itu, Munafri berada dibawah sejumlah nama lain seperti Samsurizal atau Irman Yasin Limpo yang akhirnya tidak maju dalam kontestasi pemilihan walikota makassar. Namun, ketika situasinya berubah seperti saat ini dimana hanya terdapat dua pasangan calon tentu kondisinya akan jauh berubah.

            Sedikit banyaknya, kehadiran sejumlah parpol yang mendukung Appi-Cicu akan ikut mendongkrak elektabilitas pasangan ini. Kedua, dengan semakin kecilnya pilihan atas calon, diferensiasi pemilih akan semakin tajam pada dua polarisasi apakah mendukung petahana atau mendukung penantang.

            Pada titik inilah dinamika elektabilitas akan berlangsung sangat tajam, antara mereka yang percaya tentang capaian keberhasilan pemerintahan dan mereka yang ingin pemimpin baru. Karena itu, Ramdhan Pomanto akan terus bicara tentang pencapaian, sementara Munafri akan bicara soal kegagalan dan harapan baru.

            Membaca dinamika ini, bagi saya sedikit sulit jika hari ini kita menyimpulkan siapa yang akhirnya bisa keluar sebagai pemenang. Karena pilkada Jakarta, mungkin adalah contoh yang sempurna untuk membandingkan kondisi makassar saat ini.

            Ketika Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur petahana begitu percaya diri dengan elektabilitas yang menjulang serta tingkat kepuasaan akan kinerja begitu tinggi akhirnya runtuh. Bukan hal mustahil, hal tersebut juga terjadi di kota makassar. Pertanyaanya, apakah duet Appi-Cicu dan seluruh tim pemenanganya bisa bermain sebaik Anis-Sandi?

            Kita nantikan, duel seru pilkada makassar kali ini.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s