‘Robohnya Kampus Kita’

 

Satu persatu, tiang penyangga kehidupan kampus roboh dan berjatuhan. Moral akademik, Tridharma perguruan tinggi, telah habis termakan rayap logika industri. Ketika pencapaian keberhasilan sebuah kampus, diukur dari seberapa besar laba yang dimiliki. Indikator keberhasilan para lulusan dinilai dari uang dan kekuasaan yang mereka punya.

Univeristas yang harusnya menjadi magistrorum et scholarium yang berarti “komunitas guru dan akademisi”, kini tidak ada beda dengan pasar atau mall tempat gelar-gelar akademik dipajang dan dipamerkan. Fakultas- fakultas di dalam kampus, telah berubah, layaknya outlet- outlet yang dilengkapi dengan aneka pilihan jenis dan produk luaran sarjana mereka.

Tinggal pilih, mau sarjana yang langsung bekerja dengan gaji standar atau sarjana yang agak lama, namun dengan jaminan masa depan yang lebih cerah. Bisa pula sarjana dengan harga murah, namun tanpa jaminan apa-apa dimasa akan datang. Semua ditawarkan oleh kampus.

Layaknya sebuah pasar atau supermarket, tidak ketinggalan berbagai paket diskon berlomba dipasarkan oleh sejumlah kampus negeri atau swasta. Apalagi kalau bukan demi menarik para pelanggan. Mulai dari kemudahan waktu dan tempat belajar, kelas jarak jauh, sampai yang paling parah ijazah tanpa kuliah.

Seolah tidak cukup dengan berbagi diskon yang banyak. Sejumlah kampus negeri dan swasta, kini punya komoditi baru yang bernama ‘gelar kehormatan’ yang biasanya menyasar segmen para pejabat dan penguasa. Jadilah, doktor-doktor honoris causa sampai pemberian status profesor, sebagai produk jualan atas nama membangun relasi dan memperbanyak donasi.

Sederet nama pejabat sampai ketua parpol berkuasa, diberikan gelar yang amat dan maha terpelajar. Tanpa bisa dipahami kontribusi gagasanya bagi kemanusian dan pengetahuan yang pernah mereka lakukan. Semuanya dilakukan, sekali lagi untuk nilai fungsional apalagi kalau bukan relasi dan donasi.

Satu persatu, para pejabat dan calon pejabat diundang masuk ke dalam kampus untuk memberikan ceramah di hadapan civitas akademik. Sementara para guru-guru besar, hanya bisa mengangguk-angguk, sambil mengamini khotbah para pejabat atau politisi yang menceramahi mereka.

Padahal, bisa jadi setengah jam sebelum para politisi atau pejabat tersebut memberikan ceramah di kampus, mereka baru saja melakukan rapat rahasia di hotel-hotel mewah, membahas bagaimana mencuri uang negara, tips dan teknik berbohong kepada rakyat, sambil menghisap cerutu.

Kampus atau universitas, kini bukan lagi menjadi tempat teduh dan romantis, dimana sajak-sajak indah bisa lahir dan bermekaran. Layaknya syair lagu Gaudeamus Igitur yang selalu dinyanyikan saat wisuda. ‘Vivant omnes virgines Faciles, formosae. Vivant et mulieres Tenerae, amabiles Bonae, laboriosae’ ( ” Panjang umur para gadis! Yang sederhana dan elok, Panjang umur para wanita! Yang lembut dan penuh cinta, jujur, pekerja keras)

Pelan-pelan kejernihan berpikir dan dunia refleksi, tercerabut dari kehidupan kampus yang berubah layaknya pabrik. Di mana warganya dipaksa bergegas menyesuaikan jam kerja, sesuai kehidupan masyarakat industri yang harus terus berlari, namun kosong makna tanpa tahu tujuan hendak ke mana.

Ruang- ruang kelas kampus, juga telah berubah layaknya mimbar sholat jumat yang monologis. Tanpa pertentangan gagasan, karena diisi oleh mahasiswa-mahasiswi penurut yang mulutnya selalu tertutup, untuk berani menyampaikan isi kepala dan gagasanya sendiri.

Mahasiswa-mahasiswa penakut itu, tidak berani punya gagasan karena takut pada ancaman dosen-dosen otoriter yang sok punya kuasa. Mereka yang gemar memberi nilai minus bagi mahasiswa yang berbeda dan suka bertanya. Karena itu berarti suversif, mengganggu supremasi para dosen-dosen bodoh dan otoriter yang selalu merasa punya otoritas kebenaran ilmiah.

Sejumlah program studi yang katanya tidak punya relevansi dengan industri satu persatu ditutup. Dengan alasan sepi peminat, tidak punya daya pikat untuk kebutuhan masa depan dunia praktis yang dahaga akan manusia-manusia taat, robot-robot dunia industri masa depan.

Tidak ketinggalan, pikiran rezim yang semakin mekanistik juga telah mendorong agar sejumlah riset kampus yang berbasis studi humaniora porsinya semakin diperkecil. Lagi-lagi dengan alasan kurang fungsional, bagi tantangan masa depan dunia dan semangat rezim, kerja, kerja dan kerja.

Bukan hanya sampai disitu, sejumlah mata kuliah seperti filsafat juga dipandang tidak lagi penting untuk diajarkan karena sudah tidak lagi relevan. Padahal, mereka lupa tanpa seorang filsuf seperti Plato atau Aristoteles, mungkin kita tidak pernah mengenal konsep universitas.

Para filsuf dalam kampus, dipandang hanyalahan segerombolan penghayal yang terlalu banyak bertanya. Tidak sesuai dengan tuntutan manusia zaman kekinian yang selalu butuh aktualitas, kecepatan, walau miskin makna dan dipenuhi oleh gerobolan manusia-manusia dengan teknologi yang semakin maju dan moderen, namun prilaku bar-bar.

Sesungguhnya, kampus kita butuh proyek humanisasi. Karena sekali lagi kampus bukan pabrik. Mereka yang ada disana adalah manusia-manusia yang jiwanya harus diisi dengan gagasan kemanusiaan, cinta dan bakti kepada sesama, bukan sekedar tempat mencetak manusia-manusia robot dengan seragam.

Kampus kita butuh dimanusiakan kembali, karena dari sana jiwa negara dan bangsa ini diisi. Kampus sebagai almamater, harusnya tetap menjadi ibu susuan yang mendidik generasi bukan sekedar baby sister yang mengajar dan memberi makan, sesuai jam dan tugas kerjanya.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s