Empat Penjelasan, dibalik Fenomena Calon Tunggal dalam Pilkada

 

IMG-20171221-WA0027
Dokumentasi survei IDEC Kab. Mamasa

Komisi Pemilihan Umum (KPU) melansir dari 171 daerah yang akan melaksanakan pilkada tahun 2018, setidaknya terdapat 13 atau 14 daerah di Indonesia yang hanya punya satu calon kepala daerah. Para calon tunggal itu, nantinya hanya akan berhadapan dengan kotak kosong, pada Pilkada Juni 2018 akan datang.

Khusus, untuk pulau Sulawesi kemungkinan besar fenomena calon tunggal ini terjadi pada tiga daerah, yakni kabupaten Enrekang dan kabupaten Bone di Sulawesi Selatan. Sementara satu lagi, di kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi barat.

Hasil survei Indonesia Developmen Engeneering Consultan (IDEC) di Kabupaten Mamasa, pada akhir bulan desember 2017 menurut saya telah membuka sedikit tirai, dibalik layar fenomena pilkada dengan kehadiran calon tunggal yang kini mulai bermunculan.

Setidaknya, ada empat temuan penting yang dihasilkan oleh riset IDEC kali ini. Menjadi penjelasan dari pertanyaan, mengapa pada beberapa daerah hanya punya satu calon kepala daerah? Apakah, pilkada sudah tidak menarik lagi?

Pertama, berdasarkan temuan IDEC fenomena calon tunggal bisa terjadi karena masih kuat dan besarnya dukungan pemilih untuk kandidat petahana. Faktor jarak elektabilitas petahana yang masih sulit ditandingi, menjadi alasan utama bagi para penantang berpikir untuk melawan.

Screen Shot 2018-01-24 at 2.20.36 PM
Survei IDEC Pilkada Kab, Mamasa desember 2017

Hasil survei IDEC untuk kabupaten Mamasa misalnya, bupati petahana Ramlan Badawi memiliki tingkat keterpilihan menyentuh sampai angka 55,7 % berjarak dengan kandidat penantang terdekatnya, Obed Nego Dipparinding yang punya elektabilitas 37,4%.

Kristalisasi dukungan pemilih yang sepertinya, memang sejak awal hanya mengarah pada dua calon kontestan ini, membuat para calon kandidat penantang akhirnya pelan-pelan mundur teratur. Bahkan, sampai akhir batas pendaftaran KPUD Kab, Mamasa Obed Nego Dipparinding yang digadang-gadang akan menjadi penantang, tidak mampu melengkapi syarat dukungan parpol.

Membuat, akhirnya calon petahana melenggang mulus tanpa lawan dan hanya akan berhadapan dengan kotak kosong pada pilkada. Faktor elektabilitas kandidat ini, sedikit banyak  mempengaruhi sikap partai politik dalam memberikan rekomendasi dukungan.

Inilah temuan kedua yang dirumuskan berdasarkan penelitian IDEC, mengapa fenomena calon tunggal akhirnya mulai menjalar. Karena sikap elit penentu parpol yang cenderung tidak mau ambil resiko dalam memberikan rekomendasi pilkada, ‘jika petahana bisa menang mudah, menggapa mesti bersusah payah mempersiapkan penantang’.

Apalagi, masa waktu pemilihan umum legislatif tahun 2019 yang begitu dekat dengan tahapan pilkada tahun 2018. Membuat elit parpol tidak mau membuang energi, sekalipun dengan dasar pertimbangan bahwa ada kader potensial partai mereka yang layak maju bertanding.

Logika pragmatisme parpol ini,   karena keyakinan dengan mendukung petahana yang punya peluang menang besar maka distribusi dukungan kursi legislatif bagi parpol-parpol pendukung, akan semakin mudah didapatkan tanpa perlu bekerja keras.

Kecenderungan yang menurut saya, juga terjadi juga di dua pilkada dengan calon tunggal lainya, baik di Kabupaten Bone maupun Kabupaten Enrekang. Dimana kandidat petahana, bebas melakukan sapu bersih rekomendasi parpol tanpa adanya kandidat penantang.

Ketiga, faktor kesiapan keuangan kandidat. Tidak bisa dipungkiri, kesiapan modal dan isi tas menjadi salah satu faktor terpenting dalam pilkada. Utamanya berhubungan dengan pembiayaan seperti media kampanye, mobilisasi tim pemenangan serta saksi TPS.

IMG-20171221-WA0026
Dokumentasi Survei IDEC

Apalagi dalam konteks daerah dengan medan yang sulit seperti mamasa. Biaya transportasi untuk menjangkau satu daerah ke daerah lain, memang butuh ongkos yang cukup besar. Itulah alasan, ketika melakukan survei di kabupaten mamasa, mayoritas pemilih menjawab mengapa hanya ada dua nama yang terekam dalam kepala mereka, Ramlan Badawi dan Obed Nego Dipparinding, alasanya sederhana dua kandidat tersebut, balighonya paling ramai dan pernah berkunjung dan bertemu langsung.

Jawaban yang hampir sama dengan pengalaman saya selama ini, karena di banyak pilkada daerah lain yang cenderung memiliki sarana media yang terbatas, akses jaringan telekomunikasi yang sulit, apalagi media jejaring sosial yang tidak terjangkau.

Maka popularitas kandidat sangat ditentukan oleh dua hal, yakni banyaknya baligho dan intensitas pertemuan langsung calon dan pemilih. Kedua hal tersebut, memang butuh cost politik yang tidak murah. Karena semua dilakukan dengan cara kerja manual dan sangat konvensional.

Ke-empat, pengetahuan akan peta jejaring relasi elit parpol pusat. Faktor ke-empat ini, juga  menentukan. Karena pada dasarnya, keputusan calon kepala daerah bukan di putuskan oleh pengurus daerah. Namun oleh elit-elit Jakarta yang  jangankan pernah datang, mengetahui kabupaten tersebut berada dimana, saya ragu mereka tau pasti.

Faktor sentralisasi kekuasaan parpol yang kini terjadi, dimana rekomendasi harus di putuskan oleh orang-orang pusat. Menjadikan para calon kepala daerah, selain harus memiliki jejaring politik lokal untuk mendapatkan dukungan pemilih, harus pula punya jejaring elit pada tingkatan pusat untuk mendapatkan rekomendasi.

Faktor terakhir inilah,  yang mungkin menjadi kepercayaan mayoritas para calon petahana yang punya modal besar. Dari pada harus repot dan bersusah payah berebut simpati rakyat, kampanye, lebih baik bertarung didepan. Melakukan aksi borong semua rekom parpol, karena toh pada akhirnya hanya akan berhadapan dengan kotak kosong dan cukup menaklukan elit parpol orang-orang Jakarta. Karena itu, berarti setengah kemenangan sudah diperoleh .

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s