Duel dua Nurdin, Siapa Menang?

Tulisan ini sudah dimuat pada harian TribunTimur 5 Maret 2017:

IMG_9330-1
Sumber Foto : Sulsel Ekspres

Pemilihan kepala daerah serentak tahun 2018, masih menyisakan waktu kurang dari empat bulan. Provinsi Sulawesi Selatan, salah satu dari 17 provinsi yang akan menggelar hajatan lima tahunan tersebut. Momentum bersejarah, bagi sirkulasi elit pemerintah daerah. Memilih kembali pemimpin untuk delapan juta lebih penduduk Sulsel.

Siapa saja bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang lolos menjadi calon, menurut saya sudah diketahui dengan baik oleh publik. Tiga kandidat usungan Parpol dan satu calon lewat jalur perseorangan. Nomor urut masing-masing pasangan calon juga sudah pula ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah.

Nomor urut Satu untuk Nurdin Halid-Abd Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), Dua untuk Agus Arifin Nu’mang-Achmad Tanribali Lamo (AAN-TBL), tiga untuk Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) serta nomor urut empat, bagi pasangan jalur independen Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar.

Gubernur-1-770x462

Kini, pertanyaan yang saya yakini banyak dibicarakan, siapa yang akan menang?

Pertanyaan yang mudah diucapkan, namun sulit untuk dijawab. Karena, memang terlalu dini untuk memberikan jawaban. Berdasarkan pengalaman saya, dukungan pemilih biasanya baru bisa terbaca dengan jelas satu bulan sebelum hari pemilihan dilaksanakan.

Ketika survei sudah menunjukan, sikap pemilih yang menetapkan kepastian pilihan mendekati angka delapan puluh persen. Artinya, ceruk pemilih yang belum menentukan pilihan sudah semakin kecil dan pemilih yang mengidentifikasikan dirinya dengan salah satu kandidat semakin membesar.

Terlepas dari hasil survei dan dinamika elektabilitas yang sudah banyak dibahas. Secara pribadi, pada pilkada Sulsel kali ini saya tertarik melihat pergerakan dua figur calon Gubernur sulawesi selatan. Yakni, dua sosok Nurdin yang menurut saya cukup menarik untuk diikuti pergerakanya.

Menurut teman saya, dua Nurdin tersebut ‘sama-sama jagoan’. Kedua calon merepresentasikan dukungan besar suara partai politik di sulawesi selatan. Sama-sama punya pengalaman politik di daerah maupun nasional, punya latar belakang pengusaha, popularitas cukup baik, serta paham bagaimana membangun simpati dan meraih dukungan pemilih.

Serta menurut pandapat saya secara pribadi, kedua Nurdin ini punya kans besar untuk mendapatkan dukungan pemilih pada bulan juni 2018 nanti. Alasanya, bisa terbaca setidaknya dari tiga faktor penentu yang biasa dijadikan panduan dalam membedah efektifitas strategi kampanye yang dilakukan oleh kandidat.

Pertama, Positioning kandidat. Positioning dalam kampanye politik bermakna cara kandidat menempatkan citranya di benak pemilih. Citra harus dibentuk secara tegas, agar kandidat memiliki gambaran yang jelas bagaimana dirinya ingin dilihat oleh pemilih. Serta tentu saja, untuk menemukan pangsa pemilih yang disasar.

Menariknya dari apa yang saya amati, sejak awal kedua Nurdin ini sudah membangun diferensiasi Positioning yang cukup tegas satu dan lainya. Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar misalnya, sejak awal membangun citra pasangan kandidat ini sebagai pasangan calon gubernur yang religius, suka berbagi kepada sesama dan mengandalkan program bantuan ekonomi langsung, sampai lapangan sepak bola di setiap kecamatan.

Jika Nurdin Halid, mengambil Positioning isu populis yang sederhana dan mudah langsung dicerna oleh pemilih. Pasangan Nurdin Abdullah- Sudirman Sulaiman, justru mengambil Positioning yang berbeda. Menjual personal history, sebagai bupati terbaik, punya koneksi jaringan investasi luar negeri, serta satu-satunya calon gubernur yang bergelar professor.

Program-program yang di bicarakan oleh Nurdin Abdullah, cenderung bermain pada high context communication. Seperti Sulsel sebagai lumbung pangan nasional bahkan dunia, menjadikan sulsel sebagai basis daerah perindustrian, sampai pada pengembangan bandara Sultan Hasanuddin sebagai bandara internasional.

Kedua, branding. Melihat positioning yang diambil, maka tidak terlalu sulit membedah bagaimana merek atau personifikasi identitas yang diambil oleh dua pasangan calon ini. Semuanya terbaca jelas dari slogan dan simbol yang digunakan sebagai jargon kampanye yang sekali lagi tetap mengacu pada positioning masing-masing calon.

Nurdin Halid dengan ‘Jargon bangun kampung’, jelas ingin menyasar segmen basis pemilih di pedesaan. Basis demografi yang selama ini, menjadi lumbung suara partai golkar. Sementara, Nurdin Abdullah lebih bemain pada ceruk pemilih rasional dan basis demografi perkotaan dengan pilihan jargon ‘the professor’.

Ketiga, Campaign. Dari apa yang saya ikuti, pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar merupakan pasangan yang paling awal melakukan deklarasi serta kampanye terbuka sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur sulawesi selatan. Bahkan, sejak awal menjadi kandidat yang paling siap untuk mengikuti pilkada, karena di usung oleh partai Golkar yang memenuhi syarat mengusung cagub dan cawagub sendiri.

Demikian pula, Nurdin Abdullah juga sudah lama menyatkan kesiapan dan melakukan sosialisasi sebagai calon gubernur. Walau pada akhirnya, membuat kejutan dengan mengganti pasangan calon wakil gubernur yang akan mendampinginya.

Kampanye lebih awal, tentu menjadikan potensi popularitas dua Nurdin ini jauh lebih cepat menanjak di bandingkan dua kandidat lain. Karena durasi melakukan sosialisasi yang lebih panjang, apalagi model startegi kampanye politik yang dilakukan memang tergolong baik dan sistematis.

Beban dua Nurdin

NUDRIN-HALID-VS-NURDIN-ABDULLAH-324x160

Lepas dari tiga hal ideal diatas, menyangkut apa yang sudah dilakukan oleh dua Nurdin dalam menjalankan strategi marketing politiknya. Menurut saya, kedua calon gubernur ini juga punya persoalan serius. Karena kedua-duanya, akan diperhadapkan pada ingatan kolektif publik atas kejadian masa lalu mereka.

Ingatan, kasus hukum yang pernah menerpa Nurdin Halid dan pandangan publik akan tindakan inkonsisten Nurdin Abdullah dalam hal ganti pasangan, adalah sebuah beban politik yang tidak ringan. Sedikit banyak, apa yang menjadi sejarah masa lalu dua nurdin ini, akan mengganggu personal trust yang sedang berusaha mereka bangun.

Karena dalam politik faktor citra kandidat juga mengacu pada masa lalu dan masa kini. Sesuatu yang baik bisa menjadi jualan politik, sesuatu yang buruk akan menjadi beban politik. Apalagi keduanya, menjadi calon gubernur di sulawesi selatan yang masih mengedepankan politik adiluhung. Sebuah kultur politik yang menempatkan kepemimpinan dengan sejumlah gagasan-gagasan ideal menyangkut diri, tindakan dan prilaku sang pemimpin.

Apalagi, jika ada calon gubernur yang menjadikan isu masa lalu tersebut sebagai serangan politik bagi keduanya. Tentu, akan banyak energi habis untuk menjelaskan. Sementara perlombaan masih panjang. Lalu, kita kembali bertanya lantas siapa yang akan menang?

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Duel dua Nurdin, Siapa Menang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s