Partai Allah ?

Amien-Rais-1
sumber foto : indowarta.

Saya tidak habis pikir, sejak kapan Tuhan memiliki partai, apalagi ikut berpolitik? Sesungguhnya, apa yang disampaikan oleh Amien Rais adalah pengerdilan Tuhan yang sangat nyata. Karena seolah-olah yang Maha Kuasa, sangat butuh Partai Politik untuk bisa eksis.

Begitu rendah Tuhan dimata seorang Amien Rais, sampai harus ikut-ikutan dalam urusan politik negeri ini. Penjelasan tentang maksud Amien, bahwa makna partai sebagai hizb,  seperti keteragan Drajad Wibowo yang mengutip Al Maidah 56 bahwa yang dimaksud adalah ‘kelompok’, ‘pengikut Agama Allah’,  juga terkesan retoris semata.

Karena Ayat dalam Almaidah 56 itu sendiri, sesuai tafsir Al-Quran; “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang” dari teks Al-Quran tersebut, jelas yang dimaksud adalah pengikut ‘Agama Allah’.

Pertanyaannya, bisakah ‘pengikut agama Allah’ lantas pemaknaannya disempitkan menjadi partai, apalagi sekedar partai politik?

Ketika kmengacu pula pada kata Agama yang berasal dari bahasa sansekerta, dimana A berarti (tidak) gama (kacau) secara Ilmu etimologi, berarti kehidupan yang tidak kacau. Dari sisi kebahasaan bermakna jelas, mereka yang menjadi pengikut Agama Allah adalah mereka yang pandangan dunianya selaras dengan kehendak Tuhan, hidupnya tidak kacau, karena menjadikan ayat-ayat Allah yakni Al-Quran sebagai tuntunan dalam kehidupan.

Mendikotomikan kehadiran Tuhan dalam dua polarisasi, layaknya pendukung calon Presiden antara Partai Allah dan Partai Syaithan atau Pendukung Presiden Allah atau Pendukung Presiden Syaithan juga adalah cara pandang yang bermasalah. Karena, siapakah yang punya otoritas dalam menetapkan dan memberikan kategori hizballaah dan hizbasy-syaithan? Amien Rais?

Padahal, Allah dengan tegas menyampaikan dalam surat Yunus ayat 99; “Dan jika Tuhan-mu Menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?

Saya kurang paham, apa yang terjadi dalam logika Agama dan politik seorang Amien Rais dan mereka yang coba membangun kategori yang begitu tajam antara partai Allah dan Partai syaithan. Apakah ada, sebuah partai yang mencantumkan ideologinya sebagai Partai Syaithan?

Jika pertanyaanya kita bawa pada arena yang lebih kritis, apakah partai politik yang berasaskan partai islam atau partai yang pernah dipimpin oleh Amin Rais benar-benar adalah partai Allah? Lantas, mengapa kader-kader mereka yang mengaku-ngaku partai islam dan membawa-bawa Tuhan itu, masih melakukan serangkain hal terlarang oleh Tuhan?

Seperti berita yang banyak tersebar mantan kander partai Amien Rais, Gubernur Zumi Zola dan mantan Gubernur Sultra Nur Alam juga tersandung korupsi. Pantaskah karena peristiwa tersebut, kita langsung melakukan overgeneralisasi bahwa Partai Islam Salah dan Anggota Partai Allah korupsi?

Demikian pula, fakta politik yang senantiasa terjadi dimana partai islam senantiasa kalah dalam pemilu, apakah itu menunjukan Partai Allah kalah? Padahal janji Tuhan sendiri, sebagai mana logika yang dikutip oleh Amin Rais dalam surah Almaidah 56 bahwa partai Allah, pasti menang.

Berhenti Menjual Agama dan Tuhan

amien-rais_20170615_190826
Sumber Foto : Tribun Jateng

Semakin lama, saya semakin kagum dengan pikiran Cak Nur empat puluh tahun silam. Saya akhirnya mengerti, mengapa guru bangsa itu mengeluarkan istilah Islam Yes, Partai Islam No. Karena memang banyak yang mengatasnamakan Agama dan Tuhan, sekedar sebagai jualan politik. Cara untuk meraup dukungan suara pemilih.

Lewat jebakan-jebakan simbol dan label yang mereka ciptakan sendiri, justru telah mengerdilkan Agama yang begitu mulia menjadi kehilangan keagungan, kemulian dan kejernihan. Padahal islam sebagai sebuah agama penuh dengan kemuliaan, harusnya menjadi Rahmatan lil alamin bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan malah dijadikan sebagai sarana pertentangan, apalagi sekedar hanya sebuah jualan politik.

Sudah waktunya perdebatan yang disajikan oleh elit politik negeri ini, mengarah pada hal-hal yang lebih substansi. Misalnya saja, bagaimana melawan para pedusta agama yang diancam oleh Allah, yakni mereka yang tidak memberikan hak-hak fakir miskin dan anak yatim. Menghadapi para Qurun yang mengusai hajat hidup orang banyak dan suka berbuat semena-mena.

Jika mereka elit partai islam dan benar-benar ingin menjadikan asas islam sebagai sarana perjuangan, harusnya mereka tampil menjadi juru damai seperti Rasulullah mendamaikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah, bukan malah menjadi juru sumber pertikaian sesama anak bangsa.

Sudah waktunya kita menjadikan ajaran islam sebagai sprit politik untuk mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan seluruh rakyat, bukan malah menjadi jualan politik. Biarlah politik menjadi arena adu gagasan bukan tempat menjual agama dan Tuhan. Karena agama dan Tuhan, terlalu Agung untuk sekedar berpartai apalagi masuk partainya pak Amien.

Ah, pak Amien sudahlah…

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s